Aku Dan Sang Penguasa Malam

Aku Dan Sang Penguasa Malam
VoL 2:Episode 16


__ADS_3

Vol 2:Takdir


4 Bulan kemudian.....


4 bulan pun berlalu dengan cepatnya, dan tak terasa musim mulai berganti.


Aku menjalani hari - hari ku dengan biasa saja tanpa adanya masalah sedikitpun, tetapi walaupun demikian ada saja masalah yg selalu merepotkanku.


Hari ini adalah hari yg paling aku benci selama aku masih sekolah yaitu adalah dimulainya UAS atau Ujian, apalagi bulan ini adalah musim dingin yg selalu saja membuatku malas keluar rumah.


Aku bangun agak lama dari biasanya karena jam masuk sekolah sedikit lebih lambat, aku pun bergegas pergi ke kamar mandi untuk mandi karena harus cepet - cepettan sama Kak Rias.


"Semoga saja air hangat nya masih ada" aku langsung saja masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah selesai mandi, aku langsung kembali ke kamar ku dengan badan yg menggigil kedinginan.


Sesampainya di depan pintu kamarku, tiba - tiba saja aku mendengar suara orang yg sedang berbicara di dalam kamarku.


Tanpa aba - aba aku langsung mendobrak pintu kamarku dengan keras tetapi saat aku masuk tidak ada seorang pun yg berada di kamarku.


"Hmm begitu ya mainnya" karena aku adalah orang yg males jadi aku pun mengabaikannya saja dan langsung memakai seragamku.


Setelah selesai memakai seragam, aku langsung berjalan pergi ke arah ruang makan untuk sarapan.


" Selamat pagi kak Rias" sapaku sambil tersenyum.


"Selamat pagi juga, kamu mau sarapan disini atau di sekolah saja?" tanya kak Rias sambil menyiapkan bekal untukku.


"Di Sekolah saja ya walaupun sedikit males sih" jawabku sambil menerima bekal dari kak Rias.


"Oh iya kak nanti kalau Aina bangun, bilang saja kalau aku sudah berangkat dan jangan di susul ya soalnya kasihan kalau di suruh berjalan di tengah salju yg dingin ini" ucapku sambil memakai sepatu untuk musim dingin.


"Siap tenang saja" jawabnya sambil tersenyum.


"Aku serahkan padamu, dahh Aku berangkat dulu ya"


"Hati - hati di jalan" jawabnya dengan lembut.


Aku pun berangkat di musim yg sangat dingin ini dengan berjalan kaki karena kuda tidak bisa di pakai karena jalanan yg licin oleh salju, ibukota yg dulunya sepi sekarang sedikit ramai karena banyak anak - anak serta orang tuanya sedang bermain Salju yg waktu itu sangat tebal sekali.


"Berrrr dingin sekali parahhh"


"Emangnya sedingin itu tuann?" ucapnya yg tiba - tiba muncul di depanku.


"Kamu mah enak, tidak bisa merasakan dingin sama panas" ucapku sambil meminum kopi yg aku bawa tadi.


"Kata siapa!! Aku tetap merasakan dingin kok walaupun sedikit hehe" jawabnya dengan lembut.


"Iya iya "


Aku melanjutkan perjalananku dengan di temani oleh acrodite, tetapi entah karena apa walaupun hari ini sangat dingin tetapi jika bersama dengannya hawa nya pun mulai menghangat.


Sesampainya di depan gerbang nampak Silva yg sedang memegang inferno dan di temani oleh Shira di sampingnya.


"Halo Silva selamat pagi!!" sapaku sambil tersenyum.


"Selamat pagi juga" jawabnya dengan membalas senyumanku.


"Gimana sudah siap untuk ujian?" tanyaku untuk basa basi.


"Mungkin, oh iya tebal banget jaketnya" ucapnya sambil tertawa dengan cerianya.


"Dingin tau!!!, kalau kamu mah enak ada inferno yg membuat hawa di dekatmu hangat, lah aku malah dingin banget kaya gini" jawabku sambil melepaskan jubahku yg pertama.


"Iya iya ayo kita masuk, nanti terlambat" ajaknya sambil menarik tanganku.


"(Sakit juga ya jadi nyamuk)" ucapnya dalam batin.


UAS atau Ujian yg kita hadapi adalah ujian yg cukup susah dan sangat merepotkan bagiku, karena ujiannya adalah ujian tertulis.


Ujian tertulis ini pun sedikit berbeda dari biasanya karena ujian ini hanya berlangsung satu hari dan hanya di laksanakan selama musim dingin.


"Dah sampai jumpa lagi, dan juga semoga berhasil" ucapku sambil meninggalkannya untuk pergi ke ruangan ujianku.


"Iya kamu juga ya" jawabnya dengan lembut sambil tersenyum.


Kami berpisah di ruangan yg berbeda karena di sekolahku ruangan untuk ujian itu di bagi 2 satu khusus untuk perempuan dan satunya lagi untuk laki - laki.

__ADS_1


Sesampainya di kelas yg aku lihat hanyalah para murid yg sedang bersantai di tempat duduknya mereka masing - masing.


"(Santai amat jadi murid)" ucapku dalam batin sambil duduk di kursiku.


******


Beberapa menit kemudian....


Setelah menunggu agak lama, pengawas kelasku pun masuk dan mulai membagikan kertas ujian.


"(Gawattt aku benar - benar benci pelajaran ini!!!)"


"Silahkan kalian kerjakan semua sampai selesai, jangan keluar kecuali kalau kalian sudah selesai, Ujian dimulai!!!!" teriaknya dengan tegas seperti seorang jendral di medan perang.


Ujian tertulis yg aku kerjakan ini memiliki 100 soal dan 30 essay yg semuanya adalah pelajaran tata cara jadi bangsawan dan matematika, Memang tidak berguna bagiku kan?.


Ujian berlangsung sangat lama karena soal yg di berikan benar - benar menyiksa otak dan jiwaku.


*****


Krriiinggggg(sebenarnya sih gk kaya gitu bunyi bel sekolahnya wkwkwk)


"Baiklah anak - anak yg sudah selesai silahkan di kumpulkan ke depan dan silahkan keluar dari ruangan ini" pintahnya dengan tegas.


Semua siswa di kelasku pun mulai mengumpulkan lembaran nya satu per satu sampai urutan yg terakhir yaitu aku.


"(Menghela nafas) Benar - benar menyiksa otakku, aku pengen tidurr!!" aku langsung bergegas pergi ke gerbang depan untuk pulang.


Di depan gerbang nampak Silva dengan Shira yg sedang mengobrol dengan asiknya, karena aku tidak mau mengganggu mereka aku langsung berlari melewati mereka berdua dengan jurusku.


Tetapi waktu aku hampir melewati mereka tiba - tiba saja kerah bajuku di tarik oleh sesuatu dan akhirnya aku jatuh.


"Kamu mau kemana?" tanya Shira yg ternyata dia lah yg menarikku.


"Sakit tau!!" ucapku sambil berusaha bangun.


"Oh ternyata Kora aku kira tadi ada penyusup yg mau kabur, Maafkan aku" dia pun meminta maaf sambil membantuku bangun.


"Hebat juga ya kamu, bisa melihat gerakanku" ucapku sambil tersenyum.


"Iya dulu aku sering berlatih lempar tangkap sama kakekku" jawabnya dengan lembut dan tidak kaku seperti tadi.


" maafkan aku nona" jawabnya dengan sambil membungkukkan kepala yg membuat Silva menjadi salah tingkah.


"Gimana ujian kalian berdua berhasilkah?" tanyaku sambil berjalan pulang.


"Gampang sih tetapi menyiksa batin dan otakku" jawabnya sambil menghela nafas.


"Kalau kamu Shira?"


"Biasa saja" jawabnya dengan dingin.


Kami pulang bersama - sama karena kebetulan Silva dan Shira punya urusan dengan jendralku.


Tetapi saat kami melewati pasar, nampak kerumunan orang yg sedang berkumpul sambil melihat sesuatu.


"Ada apa ya, kita lihat yuk" ajaknya sambil menarik tanganku.


"Kasian ya padahal dia masih muda"


"Iya katanya dia di bunuh sama seseorang tetapi tidak ada yg melihatnya"


"Apa ini ulah assasin gadungan itu ya"


"Tetapi pembunuhnya sangat trampil sekali saat membunuhnya"


"Iya sampai tidak ada jejak sama sekali dan juga tubuh korbannya saja sudah tidak terbentuk pasti dia sengaja ya"


Dan disaat aku menghampiri mereka yg aku lihat adalah mayat tiga orang siswi dari sekolahku, yg tubuhnya sudah tercabik - cabik seperti di serang oleh binatang buas.


"Hmm( apakah ini ulah kerajaan?)"ucapku dalam batin.


Karena penasaran aku pun langsung memakai baju kepolisian kerajaan yg sering aku gunakan untuk penyamaran agar aku bisa mengidentifikasi mayat mereka.


" Permisi para warga" aku pun langsung melewati kerumunan itu dan mengecek mayat itu.


"(Semua mayatnya adalah perempuan, dan juga mereka adalah kelas bangsawan)"

__ADS_1


"Baiklah akan aku laporkan dulu ke atasanku jadi kalian semua tolong jaga mayat mereka ya" ucapku sambil pergi dari sana dan mencari Silva dan Shira.


"Kamu hebat juga ya kora" pujinya sambil memberi jaketku yg tadi aku lepaskan.


"Iya kamu bahkan sampai tau jenis kelaminnya mereka, padahal kan tubuh mereka sudah tidak berbentuk" lanjut nya dengan tersenyum


"Iya soalnya tadi waktu aku pegang tubuhnya mereka, aku merasakan sesuatu yg empuk seperti dada cewe jadinya ya aku tebak saja" jelasku dengan rinci.


Tetapi bukannya di beri pujian lagi aku malah di pukul olehnya dengan keras tepat di kepala.


"Dasar Mesumm!!" mereka berdua pun meninggalkanku dan berjalan duluan ke depan.


"Ehh tunggu aku dong"


******


Kami pergi ke arah markas ku yg waktu itu sedang sepi oleh pembeli.


Sesampainya di sana aku langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Aku pulang-- Ehh!!" dan nampak kak Rias yg sedang membuka bajunya karena basah oleh keringat.


Secara reflek aku pun langsung berbalik badan dan pergi keluar.


"Ada apa kora?" tanya nya dengan bingung.


"A a a ada kunti" jawabku sambil menutup mata.


"Aneh sekali" diapun mengabaikanku dan masuk ke dalam.


"Koooraaaaa!!" tiba - tiba saja suaranya pun berubah.


"Iya" aku pun menjawab dan langsung membuka mataku dan nampak Silva dan Shira yg menyiapkan kuda - kuda.


"Mesummm!!!"


Mereka berdua pun menendangku dengan keras secara bersamaan.


"Um ada apa ya kalian berdua kesini?" tanya kak Rias yg sudah memakai baju dan menghampiri kami.


"Oh begini kami mau ketemu jendral, ada tidak ya?" tanya nya dengan sopan.


"Ada kok tapi dia ada di kantor dan katanya jangan di ganggu dulu" jawabnya dengan tersenyum.


"Kamu kenapa kora?" tanya kak Rias dengan bingung.


"Enggak papa kok, cuman tadi ada sebuah jurus yg benar - benar akan membuatku terbunuh" jawabku dengan jelas sambil membersihkan wajahku yg kotor karena sepatu tadi.


"Oh begitu ya, yaudah ayo masuk dulu , jangan di luar soalnya udara nya sangat dingin" ajaknya dengan lembut.


Kami pun masuk ke dalam rumah dan aku pun langsung melepas mantelku dan berjalan ke atas untuk berganti pakaian.


"Tuan kora!!"dan tiba - tiba saja Aina turun dan memelukku dengan erat.


"Kamu sudah pulang?" ucapnya sambil melepas pelukannya.


"Iya aku pulang" jawabku sambil mengelus - elus kepalanya.


Tetapi tiba - tiba saja Aura dari Silva mulai berubah menjadi mengerikan.


"Koooorrraaaaaa!!" dia pun mendekatiku dengan tangan yg memegang inferno.


"A a a aku bisa jelaskan kok, jadi jangan pakai itu nanti rumah ini bisa terbakar " jawabku dengan ketakutan dan berjalan mundur.


"Coba jelaskan" ucapnya sambil memasang kuda - kuda.


"Oke aku jelaskan Dia adalah Aina , dia itu----"


"Aku adalah tunangannya tuan kora"dan lagi - lagi sebelum aku menyelesaikan kata - kataku Aina sudah memotong ucapanku dengan cepat.


Dan seketika suasana ruangan itu pun berubah menjadi suasana peperangan yg besar dan bahkan menyerupai perang dunia yg ke 5, Silva yg dari tadi tenang sekarang mulai memasang kuda - kuda untuk menyerang sedangkan Shira dan kak Rias hanya menonton saja dari bawah.


" (kak tolong lah!!)" aku pun menatap ke arah kak Rias dengan tatapan minta tolong.


"(Selesaikan sendiri ya)" dia pun hanya tersenyum dan bahkan hampir tertawa.


Aku pun hanya pasrah saja tanpa menghentikan mereka karena aku yakin ini pasti adalah perang dunia kelima.

__ADS_1


Dikarenakan dengan suasana itu, aku sampai tidak sadar kalau di mulut dan juga tangan Aina terdapat sebuah noda berwarna merah seperti darah.


__ADS_2