
2 Hari kemudian....
Hari ini adalah hari yg aku tunggu - tunggu yaitu adalah hari pemberitahuan nilai dan juga kenaikan kelas, aku berangkat dengan berjalan kaki hari yg biasanya sangat dingin sekarang sedikit lebih hangat dari biasanya.
Sesampainya di sekolahan karena bel sudah berbunyi, para murid di suruh berkumpul ke tengah lapangan untuk melaksanakan upacara kenaikan kelas.
Satu per satu murid di panggil untuk menerima rapotnya termasuk juga aku, pada waktu itu aku masih belum sadar kalau ada yg sedang mengawasi aku dan juga Silva.
Kami menerima rapot masing - masing dan seperti tahun - tahun sebelumnya, Silva kembali mendapatkan nilai tertinggi dan menjadi murid teladan sedangkan aku malah mendapatkan nilai yg cukup buruk karena aku adalah salah satu orang yg malas belajar.
Setelah menerima rapot, kami pulang bersama - sama lagi tetapi aku yg akan mengantarkan mereka berdua pulang tetapi di tengah perjalanan ponsel Shira berbunyi dan dia pun mengangkatnya.
Dia pun nampak kaget setelah menerima telpon itu dan dia memberikan telpon itu kepadaku, aku pun hanya menerima saja karena rasa penasaranku yg mulai bergejolak.
"Kora aku ada permintaan untukmu, tolong kamu pergi ke kota bagian selatan dan susul tim Syla dan bilang kepada mereka untuk menunda misi karena pasukanku yg pertama sudah di lenyapkan jadi aku tidak mau menambah korban lagi" dia pun berkata dengan panjang lebar seperti Rel kereta api.
"Baiklah " setelah mendengar itu aku langsung bergegas pergi ke arah kota selatan dengan berlari dan meninggalkan mereka berdua.
Aku berlari dengan kecepatan milikku dan untungnya kota selatan tidak jauh dari sekolahku jadinya aku bisa sampai duluan.
Tetapi di saat aku sedang mencari Silva dan juga Shira,aku malah menemukan kelompok milik Syla yg sedang di ikat di sebuah tiang kayu yg besar.
"Syla kamu tidak apa - apa" karena merasa sudah aman aku langsung saja melepaskan ikatan tali yg melilit mereka.
"Guru kenapa kamu kesini? Ini adalah jebakan" Syla pun berkata dengan serius seperti benar - benar ini adalah jebakan.
"Jebakan?" karena sedikit bingung aku langsung saja bertanya kepadanya.
Dia pun menceritakan hal yg sebenarnya terjadi kepadaku kalau yg di incar itu bukanlah Syla maupun kelompoknya tetapi mereka ternyata mengincar Sevenris milik Silva yaitu inferno untuk menghancurkan seluruh kota, setelah mendengar itu aku langsung saja kembali ke tempat Silva berada dengan kecepatan tinggi layaknya sebuah pesawat jet.
******
Di lain tempat Silva dan shira sedang berjalan untuk pulang ke rumah mereka tetapi yg di tengah perjalanan mereka melihat seorang anak kecil yg sedang menangis di jalanan sepi, karena mereka adalah tipe orang yg suka menolong mereka pun bertanya dengan lembut " dek kenapa kok nangis? Orang tua mu kemana?" si anak kecil itu bilang kalau ibunya sedang sakit di rumah tetapi dia tidak tau ingin mencari bantuan kemana jadinya dia menangis di sana.
"Kasihan yaudah kakak bantuin emangnya rumah adek di mana?" karena merasa kasihan mereka pun bersedia membantu anak itu.
Anak itu berjalan pergi ke arah sebelah utara yg katanya itu adalah rumah tempat tinggalnya, karena hati Silva masih polos jadi dia percaya saja dengan anak itu walaupun Shira terus saja dalam mode waspada.
Sesampainya di tempat yg di tunjukkan oleh anak itu tiba - tiba saja pasukan dari Pulgatory mengepung mereka berdua dengan di senjatai oleh Staris mereka masing - masing.
"Halo selamat datang di kelompokku (Queen of Flame)" dan terdengar suara laki - laki yg sepertinya dia adalah Algax sang pemimpin Pulgatory.
"Bagaimana nona tentang jebakan tikus milikku" ucapnya sambil mendekati anak yg di percayai oleh Silva tadi.
"Cukup meyakinkan ya" Silva yg tadinya santai sekarang Auranya menjadi lebih serius.
"Jadi ada urusan apa? Sampai menjebak kami" Shira juga ikut - ikutan serius sambil mengeluarkan staris miliknya.
__ADS_1
"Oh aku cuman mau meminta Sevenris miliknya saja kok, kalau nurut nanti aku biarkan kalian hidup deh" dia pun memberikan semacam kode kepada timnya tetapi karena Silva tidak terlalu hebat dalam hal insting dia pun tidak menyadarinya.
"Kamu mau Starisku? Coba ambil sendiri" Silva pun mulai mengeluarkan senjata miliknya dan di ikuti juga oleh Shira, mereka berdua sudah benar - benar serius.
Tetapi tiba - tiba saja salah satu anggota kelompok itu menembakkan sebuah peluru ke arah Silva, karena dia terlalu fokus pada musuh di depannya jadi dia kaget dan tidak sempat untuk menghindar.
(Dorrr) bayangkan sendiri suaranya oke.
"A a apa no nona tidak apa - apa huakks" tetapi secara tiba - tiba Shira sudah ada di depan Silva dan menahan peluru panas itu, Silva pun langsung menangkap Shira yg sudah lemas dan terjatuh.
"Kenapa kamu melakukan ini?" Silva pun meneteskan air mata saat melihat sahabatnya berlumuran darah dan merasakan sakit.
"Oh aku juga tidak tahu, mungkin secara reflek hehe agh" dia pun menjawabnya sambil menahan rasa sakit itu.
"Maafkan aku " Silva pun menangis tanpa suara.
"Kenapa meminta maaf? Ini kan bukan kesalahan nona tenang saja, lebih baik nona pergi dari sini saja huaks huk huk" Shira pun tak sadarkan diri karena panik Silva pun menganggap Shira sudah meninggal padahalkan tidak ya lebay banget jadi cewek.
"Oh ternyata yg kena dia, maaf kalau begitu" setelah mendengar kata itu Amarah Silva pun mulai memuncak dan tubuh Silva mulai di kelilingi oleh sebuah aura yg berwarna orange seperti api yg membara milik inferno.
"Maaf katamu hahaha jangan bercanda!!! Kamu sudah membunuh Sahabatku dan juga Saudaraku, hahaha aku akan membalaskannya bersiap lah" dan secara seketika tubuhnya Silva mulai di kelilingi oleh sebuah aura yg sangat besar seperti kekuatan yg dimiliki olehku, tubuh Silva mulai di selimuti oleh sebuah lempengan besi berwarna orange dan membentuk sebuah armor perang yg di punggungnya terdapat 2 buah sayap berwarna orange.
"Oh inikah yg di sebut Armor suci, bagus sekali tetapi kamu tidak bisa mengalahkanku dengan mudah loh" setelah melihat armor milik Silva dia pun mengeluarkan starisnya dan memerintahkan semua pasukannya untuk mengepungnya.
"(Maju sini kalian )" karena wajah dan kepalanya sudah tertutup oleh helm, suara Silva pun berubah menjadi seorang prajurit wanita yg tegas.
Aku yg melihat sebuah pancaran yg berwarna orange memancar hingga ke atas langit, mulai mempercepat pergerakanku karena khawatir apa yg akan terjadi dengan teman masa kecilku.
"Acrodite tolong berikan kecepatanmu ya"
"Siap tuan"
Aku pun meminjam kekuatan milik acrodite untuk mempercepat langkahku karena aku merasa akan terjadi hal yg besar.
*******
Di tempatnya Silva( hehe bingung aku mau nulis kaya gimana)
"Semuanya serang dia!!!"
Seluruh pasukan yg dari tadi hanya diam di atas atap mulai melompat dan mendekati Silva dengan staris milik mereka masing - masing, Silva yg sedang di kendalikan oleh emosi menyerang dan membakar tubuh mereka semua hanya dengan menatapnya saja.
Algax yg tadinya tenang sekarang dia mulai serius dengan staris unik miliknya yg berada di tangan kanannya.
"Emangnya kamu saja yg punya Armor " dia pun mengucapkan sebuah mantra dengan bahasa yg tidak kumengerti artinya dan secara seketika satu persatu tubuhnya di selimuti oleh armor berwarna abu - abu dan terdapat sebuah duri di setiap pundaknya seperti armor milik bos terakhir di game mortal.
"(Ohh kamu juga serius ya)" karena Silva yg benar - benar sudah marah dia bahkan tidak memperhatikan sekelilingnya.
__ADS_1
Algax mulai menyerang Silva dengan ribuan peluru tetapi dengan kekuatan milik inferno semua peluru yg mendekati Silva akan langsung terbakar dan lenyap tak tersisa,tetapi karena algax adalah orang yg tidak pernah menyerah dia pun langsung saja mendekati Silva dan mulai menyerang dengan kecepatan miliknya.
"(Percuma saja)" Silva yg dari tadi diam mulai membalas serangan Algax dengan mengayunkan tombak miliknya dan secara seketika semua lingkungan di dekat Silva terbakar tetapi karena tempat itu sepi penduduk jadinya tidak apa - apa.
Armor yg dimiliki Algax seketika hancur karena terkena gelombang panas dari Silva.
Dan karena Silva sudah benar - benar di kuasai oleh emosi dia pun langsung bersiap untuk mengeluarkan jurus penghancur miliknya tetapi secara tiba - tiba tindakannya di hentikan oleh Shira yg kembali sadar dan memeluk Silva dari belakang dan dia bilang untuk menghentikan ini semua, karena Silva menyadari kalau Shira kembali bangun dia pun langsung melepas helm nya dan menghilangkan inferno agar dia bisa menyentuh Shira.
"Shira kamu tidak apa - apa?"
"Tenang saja aku tidak apa - apa kok nona, oh iya apa nona mengeluarkan armor itu lagi?"
"Aku kelepasan tadi karena melihatmu pingsan"
Mereka pun saling menanyakan keadaan satu sama lain karena Algax merasa ini adalah waktu yg tepat dia pun langsung menembakkan peluru spesial yg terkumpul dari semua energi sihirnya ke arah Silva yg sedang teralihkan perhatiannya.
(Duaarrr)
*********
Tetapi untungnya aku sampai ke tempat itu dengan tepat waktu dan bertepatan dengan serangan Algax karena aku tau kalau Silva itu ceroboh aku pun langsung menahan peluru itu dengan pedang milikku(bukan Acrodite) walaupun sih pedangku tidak kuat dan hancur lebur tetapi pelurunya berhasil aku belokkan.
Algax pun seketika kaget saat siapa yg menahan pelurunya.
"Tidak mungkin " dia pun langsung kabur dari tempat itu tetapi dia di hentikan oleh seorang prajurit yg memakai topeng yg berdiri di belakangnya.
Orang itu pun membuka topengnya dengan perlahan dan ternyata...
"Halo adikku yg bodoh" dan betapa kagetnya aku saat melihat orang yg paling aku benci di dunia ini.
"Kak Alga" aku pun menatapnya dengan tatapan yg tajam setajam silett.
"Kamu masih hidup ya adikku yg paling bodoh hahaha" dia pun memerintahkan kepada semua pasukannya untuk mundur.
"Iya aku akan selalu hidup sebelum aku menghabisi mu!!" karena terbawa emosi masa lalu aku pun langsung menyerangnya dengan pedang cadanganku tanpa berfikir panjang.
"Oh kamu sekarang sudah bisa bertarung ya padahal aku kira kamu hanyalah seekor cacing yg hanya bisa mengikuti arus saja" dia pun dapat menahan seranganku dengan mudahnya.
"Tetapi tetap saja lemah" dan dia pun menendangku dengan keras sampai - sampai aku terlempar ke rumah warga yg terbakar.
"Kakak akan menunggumu sampai kamu dapat menendang seperti tadi hahaha ,kalau kamu masih benci sama kakak carilah kakak sampai ketemu" dan secara seketika semua pasukan pulgatory menghilang dari tempat itu.
"Siaal!! Aku akan membunuhmu kak Alga!!"
Aku pun benar - benar merasa marah dan bahkan sampai tidak peduli dengan orang yg di dekatku lagi tetapi ketika aku melihat Silva yg berusaha menggendong Shira yg terluka, aku pun tersadar dan membantunya membawa Shira ke arah rumah sakit karena lukanya sangat parah.
Aku pun langsung menggunakan kekuatan milik acrodite lagi untuk membawa Shira agar dia cepat mendapatkan pertolongan pertama, dan untungnya rumah sakit dan tempat bertarung tadi cukup dekat jadinya kami sampai ke rumah sakit dengan cepat.
__ADS_1