
Perjalanan yg kami tempuh berlangsung cukup lama, karena ada saja halangan yg mengganggu.
Tetapi walaupun perjalanan panjang yg membosankan dan juga bikin emosi,tetapi entah mengapa aku tetap merasa senang karena di temani oleh orang - orang yg selalu mendukungku.
Karena kebanyakan mengobrol saat di perjalanan tanpa kami sadari, kami sudah sampai di depan pintu masuk ibukota yg waktu itu sedang di jaga oleh para tentara kerajaan.
"Tumben sekali ada banyak penjaga yg menjaga pintu gerbang biasanya juga sedikit" aku memberanikan diri untuk menghampiri pintu pos penjagaan.
"Mohon berhenti sebentar tuan" tiba - tiba saja ada seorang yg penjaga yg menghentikan kami.
"Ada apa ya pak? Sampai di jaga dengan ketat begini" tanyaku untuk menglabui penjagaan dan agar mendapatkan informasi.
"Ini bukan urusanmu!! Tolong keluarkan kunci pintu masuknya" perintahnya dengan tegas.
Karena aku tidak mau berurusan dengan tentara kerajaan, aku hanya menurut saja apa yg di perintahkan oleh dia.
"Kora Servant? Kalau mereka siapa?" tanya penjaga itu dengan tegas.
"Oh mereka adalah keluargaku dari kota sebelah,karena rumah mereka terbakar jadinya aku ajak mereka untuk tinggal di rumahku" jelasku dengan alasan yg sudah kupikirkan sebelumnya.
"Hmm(menatap dengan tajam) baiklah kalian boleh masuk, tetapi hati - hati ya dan tetap waspada" dia menpersilahkan kami untuk masuk ke dalam kota.
Kami memasuki kota yg pada saat itu dalam keadaan sepi dan sunyi tidak seperti ibukota yg aku tinggali dulu.
"Hmm sepi sekali pasti sedang terjadi sesuatu disini" kataku sambil memandangi lingkungan sekitar yg Sangat Sepi.
"Ayo kita bergegas ke markas, mungkin kita akan tau apa yg sedang terjadi disini" aku langsung mempacu kudaku agar lebih cepat.
"Bentar dulu kora tadi kamu bilang markas , markas apa itu?" tanya Syla dengan serius.
"(Waduhh gawat ada acara keceplosan segala lagi)" kataku dalam batin sambil mencari - cari alasan untuk meyakinkannya.
"Sebenarnya aku juga Assasin sama seperti mu" jelasku dengan jujur karena terpaksa.
"Kamu!! Assasin? Jangan bercanda kora " katanya sambil tertawa.
"Kalau tidak percaya ya sudah"
"(Huff untung dia menganggapku bercanda)" pada waktu itu aku merasa sangat lega karena Syla menganggap perkataanku hanyalah candaan belaka.
Kami meneruskan perjalanan ke arah markas untuk mencari tau apa yg sedang terjadi.
Sesampainya disana nampak bendera berwarna kuning yg berjejer di depan markas, karena melihat hal itu aku pun langsung panik dan mempercepat pergerakan kami.
"Ayo Aina turun sini aku bantu" aku langsung menurunkan Aina karena dia nampak kesulitan.
Karena terlalu panik dan khawatir aku langsung berlari dan mendobrak pintu markas dengan keras.
"Kak Rias siapa yg meninggal?" teriakku saat sudah mendobrak pintu masuk itu.
Tetapi di saat aku masuk, semua orang nampak kaget saat melihatku.
"Ko ko kora, ka ka kamu masih hidup?" dia pun menghampiriku dengan perlahan.
__ADS_1
"Iya lah aku masih hidup" jawabku sambil tersenyum lebar.
Dia mendekatiku dengan perlahan dan menyentuh wajahku dengan tangan yg gemetar sambil meneteskan air mata.
"Kamu beneran Kora kan? Bukan Roh atau hantu kan?" air matanya pun semakin banyak yg menetes.
"Iya ini aku Kora Scorland" jawabku sambil tersenyum ke arahnya.
Secara langsung dia pun langsung memelukku dengan erat.
"Syukurlah kamu tidak apa - apa" dia pun menangis dengan sejadi - jadinya.
"Iya aku baik - baik saja" jawabku sambil membalas pelukannya.
"Scorland? Guru?" katanya sambil menatapku tajam.
"ehh"
"Kora apa kamu beneran guruku?" dia pun menatapku dengan serius.
"Hehe sepertinya susah ya kalau disembunyikan terus" jawabku sambil tersenyum ke arahnya.
"Guru!!" dia langsung memelukku.
"Aku sudah mencarimu ke mana - mana guru" katanya sambil menangis.
"Kamu sudah besar ya ,Syla" aku pun mengelus - elus kepalanya dengan perlahan
"Maaf yah sudah menyembunyikan ini darimu" kataku sambil menenangkannya.
"Ternyata kamu masih hidup kora?" kata seseorang yg seharusnya aku khawatirkan.
"Ya iyalah aku masih hidup, kan aku belum sempat bertarung lagi dengan mu Jendral" jawabku dengan penuh rasa hormat.
"Hmm kamu memang belum berubah tetapi hanya kamu yg bisa bilang begitu" jawabnya dengan serius.
"Selamat datang kembali kora" katanya sambil memelukku juga.
"Baiklah semuanya karena Ketua kita sudah pulang ayo kita rayakan dengan penuh kegembiraan, Aku yg traktir!!!" katanya dengan tertawa.
"Selamat datang Ketua!!" ucap mereka secar bersamaan.
"Iya aku pulang" jawabku sambil tersenyum ke arah anak buahku yg sedang gembira.
"Oh iya ada yg mau aku perkenalkan kepada kalian" aku langsung menarik tangan Aina yg sedang diam mematung.
"Perkenalkan dia adalah Aina, Dia adalah..."
"Aku adalah tunangannya tuan kora!!" jawabnya dengan keras.
"Ehh"
Semua orang pun nampak kaget dan saking kagetnya sampai ada orang yg pingsan.
__ADS_1
"Kora memang hebat ya, selamat ya kora" katanya dengan senyum meledek.
"Ketua memang hebat!!! Pulang - pulang sudah bawa tunangan!!" teriak para anak buahku dengan gembira.
Pada waktu itu aku hanya menerima saja, walaupun sih dari tadi aku merasakan hawa yg mengerikan dari pedangku ini yg menghitam dan membuat tubuhku terasa di cekam.
Tetapi meskipun begitu aku tetap merasa senang dan bahagia karena bisa kembali kesini dengan selamat dan bertemu lagi dengan orang - orang yg kurindukan.
Pesta penyambutan ku cukup meriah, tetapi aku merasa tidak enak karena aku tau keuangan kak Rias sedang turun.
Seperti biasanya aku selalu duduk di tempat kesukaanku yaitu di pojokkan bar.
"Tuan kora tidak mau makan? Ini enak sekali lo" dia pun menghampiriku dan duduk di sampingku.
" Aku sudah puas makan tadi jadi kamu makan saja yang banyak ya kalau bisa di habisin aja" kataku sambil mengelus - elus kepalanya dengan lembut.
Aina pun seketika bertingkah seperti anjing yg sedang di manjakan.
Aku hanya diam dan terus mengelus - elus kepalanya sambil melihat tingkahnya yg lucu.
"Permisi ketua, ketua di panggil oleh jendral untuk menemuinya di kantor" tiba - tiba datang sekretaris jendral yg membawa pesan untukku.
"Baiklah aku paham, ya sudah Aina nanti kalau kamu sudah makannya entar di beresin ya kasih aja ke kak Rias " perintahku kepada Aina yg seperti nya sedang melamun.
"I i i iya siap tuan kora" dan seketika lamunannya pun hancur dan dia langsung melakukan tugas yg kuberikan tadi.
Aku langsung pergi ke arah kantor jendral yg letaknya ada di lantai 3 bar itu.
Sesampainya disana aku langsung membuka pintu kantornya dengan pelan agar tidak berisik,
dan nampak di dalam kantor, jendral yg sedang membaca majalah yg sering dia baca.
"Kamu tidak bisa menglabuiku kora" saat aku masuk ke dalam sana tiba - tiba jendral langsung melempar buku itu ke arahku.
" Seperti biasanya insting mu terlalu tajam" aku pun langsung menghindarinya dengan mudah.
"Hahaha siapa dulu dong" dia pun tertawa dengan keras.
"Jadi ada urusan apa jendral memanggilku?" tanyaku dengan serius.
"Kamu pasti sudah tau alasannya kan?" dia pun menatapku dengan tajam.
"Hmm emangnya sebesar itu masalahnya?" tanyaku sambil menatapnya balik.
" Iya sangat besar, ada rumor yg beredar dari masyarakat tentang adanya sebuah kelompok pencuri budiman yg menyebut diri mereka adalah kelompok FIRE" jelasnya dengan rinci.
"Terus apa kamu menyuruhku untuk menghabisi mereka?" tanyaku lagi dengan serius.
"Ya mana mungkin aku menyuruhmu untuk menghabisi mereka, aku cuman meminta kamu untuk bernegoisasi dengan mereka agar mereka bekerja sama dengan kita" jawabnya sambil tersenyum.
"Oke lah aku terima misi" aku pun langsung berjalan keluar dari ruangan itu.
"Maaf ya sudah memberimu misi lagi padahal kamu kan baru pulang dari misi sebelumnya" katanya dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Tidak apa - apa kok jendral aku juga tidak keberatan, aku pamit dulu" aku tersenyum ke arahnya dan keluar dari ruangan itu.
"Baiklah saatnya bersiap - siap untuk misi" aku pergi ke kamarku untuk mempersiapkan barang - barang yg akan aku bawa untuk misi.