
{Di dalam mimpi}
Aku terbangun di sebuah ruangan yg sangat aku kenal yaitu ruang kamarku dulu, aku pun melihat sekeliling ruangan dan memperhatikan benda - benda milikku yg masih lengkap tanpa goresan sedikitpun.
"Apakah aku ada di rumah?" aku pun berjalan keluar dari kamarku dan berkeliling rumah.
Semua ruangannya nampak sangat bersih dan bahkan sangat persis seperti rumahku, aku terus berjalan menyusuri rumah itu sambil memasuki beberapa kamar yg ada tetapi aku tidak menemukan adik - adikku maupun ibuku.
Karena agak lelah menelusuri satu per satu ruangan, aku pun duduk di kursi yg ada di ruang makan dan kembali memperhatikan sekelilingku.
"Rasanya aku benar - benar merasa pulang"
(Brakk)
Disaat aku sedang mengingat beberapa kenangan di rumah ini, tiba - tiba saja terdengar suara barang jatuh dari arah kamar ibuku.
Karena penasaran aku pun menghampiri ruangan itu secara perlahan dengan memegang pedang yg ada di punggung ku, sesampainya di sana aku langsung saja masuk dan betapa terkejutnya aku setelah melihat orang yg sangat aku sayangi di dunia ini muncul di hadapanku.
"Oh Kora ada apa? Kamu belum tidur?" kata seorang wanita dengan rambut yg cukup panjang tetapi di kuncir kebelakang dan memakai baju yg berwarna putih yg sedang menjahit sebuah pakaian.
Karena terkejut, aku hanya diam dan langsung berlari memeluk wanita itu.
"Ada apa? Apa kamu mengalami mimpi buruk?"tanya wanita itu sambil mengelus - elus kepalaku dengan lembut.
" iya mimpi yg sangat buruk mah," aku mempererat pelukanku.
"Makanya sebelum tidur itu baca doa dulu ya" ucapnya sambil terus mengelus - elus kepalaku.
"Ibu aku minta maaf ya, aku tidak bisa membuat ibu bahagia" air mataku pun menetes dan membasahi baju ibuku.
"Kamu tidak perlu membuat ibu bahagia, karena melihatmu dan adik - adikmu tersenyum saja sudah membuat ibu sangat bahagia" jawabnya sambil tersenyum dan melepas pelukanku.
Dia mengelap air mataku dan tersenyum ke arahku sambil bilang.
"Kamu jangan peluk ibu lama - lama ya, karena kita sudah berbeda" ucapnya sambil memberikanku sebuah baju anak perempuan yg di jahit sangat rapi.
"Apakah ini bajunya Striza?" tanyaku sambil menerima baju itu.
"Bukan ini baju buat Relva adikmu, dia kan udah 5 tahun"
Aku pun merasa kaget setelah mendengar itu.
"Tapi bukannya Relva masih berumur 3 th?"
"Tidak dia sudah 5 th dan dia masih hidup, aku ingin kamu berikan baju ini kepadanya ya" tiba - tiba saja wujud ibuku mulai menghilang menjadi sebuah cahaya yg bertebangan.
"Ibu jangan pergi!!" aku meraih tangan ibuku yg mulai menghilang dan menjadi transparan.
"Ibu harus pergi Kora karena dunia ini bukan tempat tinggalku lagi, aku serahkan adik - adikmu kepadamu tolong temukan mereka dan rawatlah mereka seperti dulu" dia pun tersenyum dan menghilang.
{Kembali ke dunia asli}.
"Ibuu!!!!" aku pun terbangun dengan kaget dan mengusap - usap wajahku yg ternyata tadi aku menangis karena terdapat beberapa air mataku yg masih tersisa.
Aku melihat sekelilingku dan itu adalah ruang tamu di sebuah pondok yg aku tempati sementara.
Aku adalah Kora Scortland, aku adalah assasin yg cukup hebat menurut pembuatku.
Ini adalah pondok yg aku tempati sementara karena aku sedang dalam perjalanan yg cukup panjang.
Aku pun bangun dari sofa rusak yg aku tiduri tetapi entah mengapa tubuhku terasa sangat berat dan ada sebuah rasa hangat yg ada di sampingku karena aku memakai selimut jadi aku tidak tahu apa itu, aku pun membuka selimutku dan ternyata ada seorang gadis kecil dengan rambut birunya sedang memelukku.
Dia adalah Rika, dia adalah seorang gadis yg aku temukan di sebuah desa dalam keadaan trauma yg sangat besar karena kematian kedua orang tuanya.
Aku pun diam tidak bergerak sampai Rika terbangun.
"Selwamat pagyi papa" ucapnya sambil bangun dan mengusap - usap matanya.
Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa dia memanggilku Papa tetapi karena kasihan aku pun membiarkannya saja dan aku mulai terbiasa dengan panggilan itu.
"Selamat pagi juga, apa tidurmu nyenyak?" ucapku sambil berusaha bangun dan duduk.
Dia yg mengerti maksudku dan duduk di sampingku.
"Iya, tapi Papa tidurnya tidak nyenyak" jawabnya dengan polos sambil tersenyum.
"Tidur papa nyenyak kok"
"Bohong, tadi malam papa memanggil - manggil nama Relva Sama Strizaa hmph"
Aku pun terkejut, apa aku memang mengigau dengan keras sampai dia mendengarnya?
"Karena papa ketakutan, jadi Rika menemani papa tidur biar papa tidak ketakutan" jawabnya sambil tersenyum.
"Terimakasih ya Rika" aku pun mengelus - elus kepalanya dengan lembut.
Ahh aku jadi kangen sama Aina, dia sedang apa ya?
"Apa kamu sudah lapar?" tanyaku sambil bangun dari tempat duduk dan di ikuti olehnya.
"Iya aku sudah lapar" jawabnya sambil berlari ke pintu keluar.
"Baiklah kita akan membuat sarapan tetapi sebelum itu kamu pakai baju musim dingin mu dulu." dia pun menurut dan berbalik kembali ke kamar atas untuk mengambil baju musim dinginnya.
Bagi yang bingung , sebenarnya pondok ini cukup besar karena memiliki lantai 2 dan juga sebuah perapian tetapi waktu kami sampai disini pondok ini terlihat sudah di tinggalkan bertahun - tahun karena tangga dan juga semua barangnya di penuhi oleh debu.
Sedangkan dindingnya di penuhi oleh lumut yg menempel tetapi walaupun demikian tempat ini cukup nyaman dan hangat jadi kami memutuskan untuk membersihkan dan juga membereskannya.
Aku pun memakai jubah kesayanganku dan berjalan keluar untuk mempersiapkan sarapan, namun tiba - tiba saja muncul sebuah pedang yg berwarna hitam dan memiliki sebuah lambang kelelawar di bilahnya.
"Halo tuankuuu" sapanya sambil memberiku sebuah cangkir yg terbang ke arahku.
Aku pun menerimanya dengan senang hati, lalu menjawab dengan kata - kata yg paling aku sukai.
"Iya halo juga, Tapi jangan mengagetkanku segalaa!!"
"Maaf tuan, kan sudah menjadi kebiasaanku tehe" jawabnya dengan nada moe seperti sesosok gadis di anime.
Dia adalah acrodite, dia adalah pedang milikku yg terbuat dari jiwaku atau di sebut dengan Staris di dunia ini, tetapi sebenarnya kalau Staris biasa sih aku tidak keberatan tetapi kalau mendapatkan makhluk yg cerewet dan menyebalkan seperti ini aku serasa ingin membuangnya.
"Hehe pala kau, sana kamu ambilkan daging rusa yg tadi malam terus bantu aku membuat sarapan" pintahku sambil meminum air di gelas itu yg ternyata adalah sebuah kopi yg panas.
"Siappp tuankuuu" dia pun terbang keluar dengan cepat.
Aku pun berjalan keluar sambil meminum kopi itu, saat di luar pemandangan nya penuh dengan warna putih dan juga udara yg sangat dingin.
Apa karena tadi malam ya?
Aku berjalan ke arah dekat hutan untuk mencari kayu bakar untuk memasak dan untungnya aku sedang berada di sebuah hutan jadi mencari kayu bakar sangatlah mudah.
Namun di saat aku sedang mengumpulkan kayu bakar, tiba - tiba saja dari kejauhan aku melihat sesosok remaja laki - laki dengan rambut yg berwarna putih serta mata yg berwarna merah yg memancar sedang datang ke arahku sambil menenteng sebuah rusa di tangannya.
"Pagi - pagi gini sudah berburu ya, tidak dingin" sapaku sambil melemparinya sebuah kapak yg mengisyaratkan agar dia memotong sebuah pohon.
"Udara dingin seperti ini tidak ada apa - apa nya bagiku" jawabnya sambil menangkap kapak yg aku lemparkan.
Dia adalah Elves, dia seorang pangeran vampir tapi dari pada di sebut seorang pangeran aku lebih memilih memanggilnya budak karena dia sangat mudah untuk kumanfaatkan..
"Tetapi apa maksudnya kapak ini?" tanya dia sambil mengacungkan kapaknya ke atas.
"Carikan aku kayu bakar, nanti aku beri kamu makanan" jawabku sambil berjalan kembali untuk menyusun kayu bakar yg aku dapatkan.
"Dasar tukang perintah!!!"
__ADS_1
Tuh kan kalian liat sendiri dia sangat menurutiku hahaha, semakin sedikit pekerjaanku.
Aku pun membuat tungku sederhana dengan beberapa batu yg berserakan di sekitar pondok dan menyusun beberapa kayu agar seperti
sebuah api unggun.
"Acrodite!!!"
Dia pun langsung datang dengan kecepatan tinggi sambil membawa sebuah daging yg aku perintahkan.
"Ada apa tuan?"
"Nyalakan api ini, terus kamu bersihkan dan juga potong - potong rusa yg sudah didapatkan sama Elves"aku pun mengambil ember yg melayang layaknya hantu itu dan memerintahkan kembali acrodite.
" tuan sangat baik kali ini!!, Baik laksanakan!!" dia pun terbang ke arah belakang untuk memotong - motong daging rusa tadi.
Oh iya ngomong - ngomong acrodite itu suka sekali dengan sebuah pekerjaan karena dia adalah kebalikan dariku, sedangkan aku sangat malas untuk melakukan apapun kecuali demi mendapatkan uang.
Aku mulai saja memasak sarapan dengan santai karena aku tidak ingin terburu - buru untuk sarapan kecuali jika Rika sudah sangat lapar{Lolicon sumpahhh}.
"Papa!!!" aku pun menengok kebelakang dan ternyata itu adalah Rika yg sedang berlari dan diikuti oleh Seorang gadis dengan rambut pirang yg sedang menguap dan mengusap - usap wajahnya.
"Selamat pagi guru (huamm)" sapanya dengan rambutnya yg berantakan seperti orang yg habis adu jotos.
"Selamat pagi juga, tapi lain kali kalau kamu mau menguap jangan melakukannya di depan orang lain soalnya itu tidak sopan ya" aku pun tersenyum ke arahnya.
Dia yg mendengarku pun hanya nyengir dan berjalan pergi sambil membawa handuk, mungkin dia mau mandi.
Dia adalah Syla, dia adalah murid yg aku sayang dan kulindungi. Dia dulu sebenarnya anak yg terbuang tetapi setelah aku memasukannya ke organisasi dia menemukan ibu kandungnya yg ternyata ibunya juga seorang assasin yg ada di bawah kepemimpinanku, mungkin itu adalah momen terindah bagi hidupnya jadi aku membiarkan dia dan ibunya tetap bersama dan tinggal di lingkungan yg damai, tetapi dia tidak mau dan tetap ingin menjadi assasin karena dia ingin melindungi keluarganya sendiri.
Hmm tekad yg kuat..
"Papa papa Sarapannya apa?" tanya Rika sambil menarik - narik jubahku dengan pelan.
"Sup daging dan juga sayur rebus" jawabku sambil tersenyum.
"Yeaayy sup daging lagii" dia pun tersenyum sambil menari - nari di atas salju.
Aku pun tersenyum melihat tingkahnya yg semakin membaik tidak seperti waktu pertama kali aku menemukannya, jika aku mengingat kembali itu merupakan kejadian yg sangat paling aku benci dalam hidupku yaitu membunuh Ribuan orang yg tidak bersalah dan tidak menyisakan mayat mereka sedikit pun.
*********
Disaat aku sedang membayangkan masa lalu, tiba - tiba saja acrodite muncul dan bilang:
" Nanti masakannya gosong loh tuan"
Aku pun tersadar dan melihat masakan sayurku yg air nya tinggal sedikit, aku langsung mengangkat panci itu dan mulai mempersiapkan tempat dan juga piringnya.
"Dasar tuan pasti memikirkan perempuan lagi kan?"
"Tidak sok tau kamu, sudah urusan dagingnya?"
"Sudah lah, aku kan penjagal terbaik di dunia"dia pun memberikan sebuah ember yg berisi daging - daging yg sudah di isi dengan sekelompok es batu.
"Penjagal?kamu aja belum pernah berhasil memotong kepala tau, semuanya itu memotong perut atau tangan"
"Itu kan karna tuan yg tidak bisa memotongnya, tetapi aku bisa" jawabnya dengan sombong yg membuatku ingin membuangnya di tempat sampah terus di bakar.
"Kamu mau aku bakar atau mau aku gosok dengan sabun Nuvo?" ancamku sambil mengeluarkan aura membunuh.
"Tidak keduanya!!!" dia pun menghilang dari hadapanku.
Aku kembali melanjutkan memasakku tanpa kusadari kalau suara perut Rika sudah berbunyi layaknya sebuah Tlakson mobil.
"Apa sudah matang papa?" tanya Rika sambil memegang perutnya.
"Oh sudah kok ayo kita makan" aku pun mengambil piring tadi dan langsung membawanya ke dalam pondok karena di luar sangatlah dingin.
**********
"Sudah lapar banget yaa" aku pun memberikan piring yg sudah berisi itu kepada Rika.
Dia pun nampak senang dan mulai memakan makanan itu, aku terus memperhatikan cara dia makan dan juga keimutannyaaa tetapi..
"Heii assasin hitam, mana makananku?" ada saja orang yg menggangguku ngeselin banget!!
"Sana ambil sendiri, emangnya udah motong kayunya?"
"Sudah lah bagiku itu sangatlah mudah" jawabnya dengan kesombongan yg benar - benar melebihi manusia{diakan memang bukan manusia bambang!!}.
Dia pun berjalan mengambil piring dan juga lauknya yg ada di sebuah meja yg aku buat kemarin.
"Hei vampir kamu liat Syla tidak?" tanyaku sambil memakai jubahku dan mengambil kapak.
"Aku tadi melihat nya ke sungai, mungkin dia sedang mandi" jawabnya dengan mulut yg penuh dengan makanan.
Ini vampir sebenarnya seneng ama darah atau makanan manusia sih doyan banget terus juga itu perut ruangannya ada berapa sih.
Aku pun berjalan keluar tetapi jubahku di tarik oleh seseorang yg membuat jalanku terhenti sebentar.
"Papa mau kemana?" tanya nya dengan mata yg penuh kekhawatiran dan hampir menangis.
"Papa mau cari kak Syla, mau menyuruhnya pulang biar bisa makan sama kita" aku pun membungkuk dan memberikan sebuah gelang yg sudah kuberi sihir pelacak.
"Rika pakai gelang ini ya dan jangan di lepas, soalnya nanti kalau Rika ada apa - apa kamu tinggal mengikuti jalan yg di tampilkan sama gelang ini, nanti jalan itu akan mengantarmu ke papa " jelasku dan berdiri sambil mengelus - elus kepalanya.
"Jadi kalau Rika pakai gelang ini nanti Rika bisa menemui papa?" katanya sambil memutar - mutar gelang di tangannya.
"Iya benar sekali, Rika pintar yaa"
"Hei vampir aku titip dia ya, jangan sampai dia tergores sedikit pun"ucapku kepada vampir rakus yg sedang enak - enakan makan.
" iya tenang saja, dia 100℅ aman" jawabnya sambil meminum sebuah air di gelas.
"Papa berangkat sebentar ya, kamu makan saja duluan " aku pun tersenyum kepadanya agar dia merasa tenang.
"Iyaa hati - hati papa" dia pun membalasnya dengan senyuman termanis di duniaa.
Senyuman nya pun seketika membuat tempat penyimpanan semangatku menjadi bocor dan seketika seluruh tubuhku di penuhi semangat yg membara.
" dahh ya Rika" aku langsung saja melompat ke atas pohon dan mulai melompati setiap dahan pohon layaknya seorang ninja.
***********
Aku pun menuju ke arah sungai yg hanya ada satu di hutan itu, tetapi sesampainya di sana aku tidak melihat Syla di manapun dan hanya menemukan Handuk yg di bawanya.
Di saat aku sedang menelusuri aliran sungai, tiba - tiba saja aku mendengar sebuah teriakan perempuan dari arah keluar hutan.
Aku pun langsung pergi ke arah sumber suara itu dan di setiap jalan aku menemukan sebuah jejak kaki yg cukup besar yg sepertinya itu bukan jejak kaki manusia, aku pun mengikuti jejak itu dan sampai di sebuah gua yg cukup besar.
"Jangan mendekat!!!!!"
Dari dalam gua terdengar suara Syla yg sepertinya sedang di serang oleh makhluk itu, aku pun langsung masuk dan memanggil Acrodite untuk bersiap dalam sebuah pertarungan.
Sesampainya disana, aku melihat Syla yg sudah tidak memakai baju sedang di kerumuni oleh 3 monster yg besar dan nampak seperti gorila karena bulunya yg banyak.
"Acrodite pinjamkan kekuatanmu"bisikku kepada acrodite dan mulai maju secara perlahan ke arah rombongan makhluk mesum itu.
" Sebagai kekuatan sang penguasa, tolong tingkatkanlah kecepatanku sampai bisa menembus ruang dan waktu Skill Bladedance:Infinte!!!"
Aku pun dengan cepat langsung menyelinap dan membawa Syla keluar dari gua itu.
"Guru?"
__ADS_1
"Iya kamu tidak di apa - apain sama makhluk mesum itu kan?"
Dia mengabaikan pertanyaanku dan langsung memelukku, jujur saja rasanya sangat hangat apalagi dadanya itu lohh tetapi sebagai seorang lelaki harus tahan nafsu okee.
"Aku sangat takut guru, terimakasih ya"
"Iya iya tetapi kamu harus pegangan yg erat ya,soalnya makhluk itu mengejar kita" dia pun melihat kebelakang dan nampak rombongan gorila dengan bulu yg berwarna putih sedang berlari mengejar kami.
"Gimana nih guru?"
"Tenang saja, aku akan menggunakan sihirku agar kamu bisa langsung sampai di rumah dengan cepat dan juga kalau sudah sampai tolong bilang ke Elves kalau aku sedang kesulitan" aku pun langsung berhenti dan memberinya jubahku agar dia bisa menutupi tubuhnya dan langsung memerintahkan Acrodite untuk memindahkannya langsung ke rumah.
"Wahai sang waktu, aku mohon pindahkan orang ini agar bisa sampai dengan selamat dan juga tepat waktu:Dark teleport!!!" Syla pun langsung menghilang dan aku langsung mengambil Acrodite dan membuat kuda - kuda bertarung.
{Di tempat Syla}
Syla pun sampai di rumah dengan selamat tetapi Elves yg sedang minum langsung merasa kaget dan memuntahkan airnya, Rika yg melihat Syla langsung menghampiri dan memberikan sebuah pertanyaan yg sangat sulit untuk di jawab
"Kak Syla papa mana?" tanya Rika dengan polos.
Syla pun bingung untuk menjawabnya tetapi dia langsung teringat pesanku jadi dia langsung bilang kepada Elves.
"Elves guru bilang kamu harus menyusulnya karena lawannya cukup unik"
Elves yg tau kode itu dan langsung pergi membawa busur yg sering dia pakai yaitu El drago.
"Tenang saja ya paman Elves pasti akan membawa papa mu pulang" Syla pun langsung mengajak Rika kembali ke kamarnya untuk menenangkan diri.
{Kembali ke kora yg sedang menikmati pukulan dari makhluk yg mirip yeti}.
Aku terus menghindari pukulan makhluk itu yg sangat kuat tetapi karena aku satu lawan 3 jadi aku sering kali terkenal pukulan.
"Kuat juga makhluk ini ya, mirip dengan Jendral kerajaan tetapi tidak semudah itu untuk membunuhku" aku pun menebas kedua tangan dari makhluk itu tetapi kedua tangan yg terpotong itu kembali menyatu dengannya dan nampak sangat menjijikan bagiku.
Aku pun menebasnya terus menerus tetapi makhluk itu selalu saja menyembuhkan diri setiap aku menebasnya.
"Kekuatan regenerasinya Ngeselin banget " dan dari belakangku muncul sebuah yeti yg langsung menyerangku, tetapi aku berhasil menahannya dengan pedangku.
"Parah ini gorila kekuatannya besar amat"
Gorila yg satunya pun ikut menyerangku tetapi tiba - tiba saja 3 buah panah melesat dan mengenai gorila itu.
"Lama sekali sih"
"Emangnya kecepatanku seperti mu" Elves pun muncul dan membantuku untuk melawan makhluk dengan kekuatan yg menjijikan itu.
Aku pun kembali menebas kedua tangan monster itu dan langsung melompat mundur ke tempat Elves.
"Regenerasinya susah ya"
"Betul banget aku sudah menebas nya berkali - kali tetapi mereka selalu sembuh"
"Apa kamu punya serangan satu kali langsung mati?" tanya nya sambil memberiku sebuah botol minum.
"Aku punya satu terus mau di buat apa?" aku pun meminum air itu dan langsung bersiap - siap menyerang mereka karena aku tau maksudnya.
"Masa kamu tidak tau sih maksudku, assasin macam apa kamu ini?"
"Tenang saja aku yg disisi kanan, kamu yg sisi kiri ya" pintahku dan aku langsung melompat turun sambil membaca sebuah mantra yg sering aku gunakan untuk membunuh orang.
"Tebaslah tebaslah sang angin, aku yakin kamu bisa menebasnya : Serangan Pedang pembelah Apapun!!!" aku pun menebas makhluk itu secara berurutan dan membentuk sebuah zig zag.
Elves yg tidak mau kalah denganku dia pun langsung menarik busurnya dan membaca mantra.
"Sang petir yg agung hancurkan lah mereka : Sambaran petir biru!!!" panahnya pun di tembakan ke makhluk itu dan diikuti oleh petir yg berwarna biru di belakangnya.
Kedua monster itu pun langsung lenyap dan tidak meregenerasi lagi dan tersisa satu gorila lagi yg sepertinya merasa ketakutan, karena dia langsung lari tetapi karena seranganku itu bukan satu tebasan tetapi 2 aku pun langsung mengejar dan menyerangnya yg membentuk sebuah segitiga yg memotong tangan kepala dan kaki.
"Lenyaplah Makhluk menjijikan!!!" semua bagian tubuh gorila itu pun tidak meregenerasi dan berceceran.
Jujur ini lebih menjijikan dari pada waktu aku menghancurkan semua penduduk desa.
"Kamu tidak bisa menahan kesadisanmu ya, assasin hitam" dia pun mendekatiku dan menepuk pundakku dengan pelan.
"Maklum udah dari bawaan, baiklah ayo kita pulang Dark teleport!!!" aku pun mengangkat pedangku dan seketika sampai di depan rumah.
*********
Aku pun membuka pintu rumah itu dan mengucapkan kata yg ingin sekali aku ucapkan.
"Aku pulang!!!"
Elves yg tidak peduli dengan yg kulakukan, langsung duduk di sofa dengan gaya sombongnya.
"Selamat datang papa!!!" Dia langsung berlari ke arahku dengan air mata yg menetes dan membasahi pipinya, diikuti Syla yg sudah memakai baju sambil membawa jubah milikku.
Aku pun berjongkok dan dia langsung memelukku dengan erat.
"Maaf yah papa tadi agak lama" aku pun membalas pelukannya {penyakitnya tambah parah nih Si kora}.
"Terimakasih ya guru sudah menyelamatkanku" gadis dengan rambut pirang pendek itu pun mengembalikan jubahku dengan wajah yg memerah.
Kenapa dia memerah, apa semalu itu memberikan sebuah jubah?
"Dan juga tolong jangan ceritakan hal ini kepada anak buahku ya, nanti jabatanku sebagai kapten akan di copot" jelasnya sambil menutup mukanya dengan tangan.
Oh itu toh aku kira dia malu karna aku, hehe ge er banget ya.
"Tenang saja kok, mungkin akan aku ceritakan ke komandan nanti, mumpung dia juga orang mesum"godaku sambil menggendong Rika dan membawanya duduk di sebuah kursi.
" jangan guru!!!!!"
Aku pun mengabaikan omongannya yg kaya kereta api itu dan bertanya kepada Rika.
"Apa kamu sudah makan?"
"Iya enak sekali"
"Kalau begitu kamu ajak Kak Syla untuk membereskan barang - barangnya dan juga milikmu ya soalnya kita akan melanjutkan perjalanan ini" aku pun menyuruh Rika untuk membereskan barang - barangnya.
Dia langsung mengangguk dan menghampiri Syla lalu dia menarik tangan milik Syla dan berjalan ke arah tangga, mereka pun naik ke kamar yg sepertinya mereka sudah mulai membereskan barang - barang mereka karena terdengar suara seperti barang jatuh ataupun yg lainnya.
"Apa kita mau melanjutkan perjalanannya?" tanya dia sambil menaruh kakinya di atas tetapi aku segera memukul kaki itu turun.
"Iya soalnya aku punya perasaan buruk jika kita terus berlama - lama disini"jelasku sambil mengambil tasku dan berjalan keluar yg diikuti oleh Elves.
Dia pun langsung memanggil El drago dan menyuruhnya untuk berubah menjadi sebuah makhluk yg sangat buruk rupa{badan aja yg keren tapi jalan kaya siput wkwkwk}.
Aku langsung mengambil beberapa barang dan menaruhnya di bagasi, Syla dan juga Rika pun keluar dari pondok itu sambil membawa tas mereka masing - masing.
Karena tidak tega dengan Rika, aku langsung mengambil tasnya dan menaruhnya di bagasi sedangkan Syla aku biarkan saja dia.
Aku pun mendengar dia bergumam dengan cukup keras " Guru tega ya sama murid sendiri" gumam nya saat sedang menaruh barang - barangnya di bagasi, aku hanya tersenyum ke arahnya dan langsung mengangkat Rika untuk masuk ke dalam kereta karena dia nampak kesulitan untuk menaikinya.
Aku pun langsung duduk di depan dengan Elves.
"Apa kalian sudah siap?" tanyaku sambil melihat ke dalam kereta.
"Siappp!!" mereka berdua pun menjawabnya dengan semangat.
"Baiklah ayo kita lanjutkan perjalanan!!!!"
Kami pun melanjutkan perjalanan dan meninggalkan pondok itu.
__ADS_1
Tetapi disaat kami sedang berada di dalam hutan, kami agak kesulitan untuk menemukan jalan keluar karena semua jalan keluarnya sudah tertutup oleh salju yg agak tebal.
Namun untungnya kereta milik Elves memiliki sebuah kekuatan untuk melacak keberadaan orang jadi kami bisa keluar dari hutan ini tanpa adanya masalah.