Aku Dan Sang Penguasa Malam

Aku Dan Sang Penguasa Malam
Episode 9


__ADS_3

Tetapi disaat aku berada di dekat kamarku, terdengar suara Acrodite yg seperti nya sedang berbicara dengan seseorang.


Karena penasaran aku bergegas kembali ke kamarku.


"Acrodite kamu sedang berbicara sama sia--" aku pun membuka pintu kamarku dengan keras tetapi nampak di dalam kamarku seorang gadis yg sedang telanjang bulat tanpa memakai sehelai benang pun.


"Tidaaaaaaakkkkk" karena kaget dan panik dia pun langsung melempar semua barang - barang ke arahku.


"Ma ma maafkan akuuuu" karena malu aku langsung lari dari sana dan kembali ke bar yg waktu itu sedang sepi karena pestanya telah selesai.


"Ini sudah yg kedua kalinya, kenapa harus aku yg mengalami ini?" teriakku dengan keras.


"Mengalami apa guru?" tiba - tiba saja Syla datang dan menghampiriku.


"Tidak ada apa - apa kok, oh iya kenapa kamu masih berada disini?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.


"Tadi aku membantu kak Rias untuk membersihkan piring dan merapikan meja yg berantakan" jawabnya dengan tersenyum.


"Tetapi aku tetap tidak percaya kalau muridku sudah tumbuh menjadi seorang gadis yg cantik padahal kan dulu masih sangat kecil" kataku untuk menggodanya.


"Ya iya lah masa aku harus menjadi anak kecil terus" jawabnya dengan bangga.


"Dulu kamu itu anak yg sangat lemah dan tidak bisa melakukan apa - apa, tetapi sekarang kamu sudah menjadi orang yg kuat dan bisa di andalkan" kataku sambil mengingat masa lalu.


"Itu semua berkat guru yg melatihku dengan keras ini adalah hasil dari kerja keras guru yg terus sabar membimbingku" jawabnya dengan tersenyum.


"Tidak itu bukan karena latihanku itu memang hasil kerja keras mu, aku mah cuman memerintah mu saja" jawabku dengan tertawa.


"Tetapi tetap saja aku sangat berterima kasih kepada guru karena guru adalah orang pertama yg mempercayai kemampuanku, dan aku sudah yakin kalau guru adalah orang yg baik hati" dia pun tersenyum ke arahku.


"(Aku bukan lah orang baik yg kamu kira)


"Baiklah guru aku pamit pulang dulu karena sudah malam nanti ibu mencariku" dia pun berpamitan dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Sampai ketemu lagi guru" dia tersenyum dan langsung keluar dari bar.


Aku hanya diam dan tersenyum ke arahnya saja.


"Gawatt aku lupa kalau ada gadis di kamarku, aku harus menanyainya" aku pun memberanikan diri untuk kembali ke kamarku.


Sesampainya disana, aku membuka pintu kamarku dengan pelan agar tidak ketahuan.


"Permisi?" aku masuk ke dalam kamar tetapi gadis itu sudah tidak ada disana yg ada hanyalah Acrodite yg sedang melihat keluar jendela.


"Oh tuan tumben banget buka pintunya pelan - pelan" dia pun terbang menghampiriku.


"Oh iya Acrodite apa kamu melihat seorang gadis di dalam sini?" tanyaku dengan sedikit takut.


"Tidak tuh, hmm apa tuan menyembunyikan gadis lain?" secara seketika suara bicaranya pun berubah.


"A a ah enggak kok tenang saja" jawabku dengan gugup karena merasakan aura yg tidak biasa dari Acrodite.


"Benarkah?" dia pun semakin mendesakku.


"Benar kok aku jujur" aku pun langsung berbaring di kasur.


"Sudah aku mau tidur dulu, besok harus bangun pagi" kataku sambil memejamkan mata.


"Ada misi lagi kah tuan?" tanya nya di sela - sela tidurku.


"Iya misi yg sangat mudah kayaknya sih" jawabku dengan singkat.


"Oh begitu, yasudah selamat malam tuan" ucapnya dengan lembut.


"Iya Selamat malam juga"


Aku pun tertidur dengan nyenyaknya karena dari kemarin tidur ku tidak nyenyak bahkan terkadang juga sampai begadang, tetapi entah karena apa saat tertidur tubuhku terasa tertindih oleh sesuatu.


Tetapi aku abaikan saja karena sudah mengantuk sangat berat, dan juga seperti biasanya setiap aku tertidur pasti tanganku selalu memegang pedang yg sering ku pakai.

__ADS_1


******


Pagi hari pun tiba, dengan di iringi oleh suara burung yg saling bersautan dengan indahnya tetapi walaupun begitu aku tetap membencinya.


"Tuan bangun sudah pa--


" (huaaamm) oh acrodite selamat pagi" aku pun menyapanya dengan lembut walaupun aku merasakan hawa yg tidak enak dari tubuh acrodite.


"Iya selamat pagi juga tuan" dia pun menjawabnya dengan lembut walaupun begitu warna pedang itu semakin berubah menjadi hitam pekat.


"A a a ada apa ? " karena merasa tidak nyaman aku pun bertanya dengan polosnya.


"Oh tidak ada apa - apa kok, tapi coba jelaskan apa yg terjadi tadi dimalam?" dia pun bertanya dengan nada yg lembut tetapi dengan aura yg mengerikan.


"Tadi malam? Lah aku kan--- ehhh Aina ke ke kenapa kamu ada di di di disini?" karena kaget aku pun langsung bangun dari tempat tidurku.


"Tuaaannnn!?"


"I i ini ti tidak seperti yg kamu bayangkan kok" jawabku untuk menenangkannya.


"Selamat pagi tuan kora" katanya dengan polos.


"Oh selamat pagi juga Aina, kenapa kamu ada disini?" tanyaku dengan serius.


"Disini? Kan ini adalah kamar--" dia pun memandang sekeliling kamarku dan seketika pipinya mulai memerah.


"Ahh anu tu tu tuan kora ti ti tidak me melakukan apapun pa pa padaku kan? Ka kalau tuan me melakukannya aku ti tidak ke keberatan kok" dia pun berkata sambil di selimuti oleh rasa malu dan pipi yg memerah.


"Enggak enggak kok, aku tidak melakukan apapun" jawabku dengan jujur karena dari tadi aku merasakan hawa kebencian yg semakin besar.


"Tuuuaannn tidak berbohong kan?" secara seketika tubuhku langsung merinding mendengar ucapannya tadi.


"Tidak kok beneran" aku langsung membungkukkan badan agar acrodite mempercayaiku.


"Hmm begitukah?" dia pun semakin merasa semakin curiga kepadaku.


"Ah tidak kok ini bukan salahmu, kami memang sudah biasa berantem kalau di pagi hari, iya kan acrodite?"jawabku sambil tersenyum dan menatap acrodite.


" hmph" tetapi entah mengapa dia malah mengabaikanku.


"(Sakit juga ya diabaikan oleh sebuah pedang)" ucapku dalam batin.


"Jadi Aina kenapa kamu bisa ada di kamarku?" tanyaku dengan lembut.


"Anu sebenarnya...... sebenarnya..." dia pun menundukkan kepalanya karena malu.


"Ah hmm kalau kamu tidak mau jelaskan yg sebenarnya juga tidak apa - apa aku juga tidak memaksa" kataku sambil berusaha menenangkannya.


"Umph sebenarnya aku itu...memiliki kebiasaan yg disebut dengan WolfSleep" jawabnya dengan malu - malu.


"Wolfsleep?" tanyaku dengan bingung.


"Iya Sleephurman itu adalah kebiasaan atau lebih tepatnya adalah kutukan bagi kami bangsa serigala putih, kutukannya adalah ketika kami sedang tertidur maka energi sihir dari tubuh kami menjadi tidak tenang dan meluap layaknya Air yg di panaskan dan mulai keluar dari tubuh kami secara perlahan jadi setiap kami bangun tidur maka tubuh kami akan lemas dan akan menjadi lemah terhadap semua serangan fisik maupun non fisik" jelas nya secara rinci walaupun pipinya masih memerah.


"Tapi kenapa kamu masih bergerak?" tanyaku lagi dengan polosnya.


"Karena jumlah energi sihir kami lebih besar dari para serigala yg lainnya, jadi kutukannya pun sedikit berubah" jawabnya dengan serius.


"Emangnya apa kutukannya?" tanyaku lagi karena rasa penasaran yg semakin besar.


"Kutukannya adalah Teleportasi" jawabnya sambil bangun dari tempat tidurku.


"Teleportasi?"


"Iya Teleportasi kamu pasti tau kan itu apa?"


"Iya aku tau tapi memangnya ada ya sihir teleportasi bukannya hanya ada di cerita - cerita novel" jawabku dengan bingung.


"Tetapi kenyataannya terjadi kepada kami" dia pun tersenyum ke arahku.

__ADS_1


"Tetapi kenapa bisa terjadi teleportasi?" tanyaku dengan penasaran.


"Karena waktu kami sedang tertidur, energi sihir yg kami miliki di dalam tubuh tidak akan keluar melainkan membuat sebuah mantra dengan sendiri, jika kami tertidur terlalu nyenyak maka kami akan berpindah tempat tetapi jika tidur kami tidak nyenyak maka energi sihir itu akan meledak dan menghancurkan seisi area yg berada di sekitar kami" jelasnya dengan detail.


"Hmm jadi kalau tidur mu nyenyak maka kamu akan berpindah tempat tetapi jika tidak tidur dengan nyenyak maka akan menghancurkan semua yg ada di sekitarmu, hmm jadi dua - dua nya berbahaya ya" aku pun mulai berpikir dengan keras walaupun aku jarang berpikir


"Tetapi kenapa kamu berpindah tempat nya ke kamarku bukan ke kamar yg lain?"tanyaku dengan polosnya.


"Eh um k ka ka karena kamu a a adalah orang yg aku S S S A, tidak ada apa - apa!!!!


Dia pun langsung melarikan diri dari kamarku.


" ehh!"


Karena rasa penasaranku sudah hilang, aku pun langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah mandi aku langsung pergi ke kamar dan bersiap - siap untuk melaksanakan misi selanjutnya.


"Selamat pagi kak Rias dan Selamat pagi juga Aina" sapaku kepada kak Rias dan Aina yg sedang duduk di meja makan.


"Emangnya sejak kapan kamu memanggilku kakak?" jawabnya dengan serius sambil memberiku sebuah piring.


"Trus emangnya mau di panggil apa? Ibu? Ayah? Adek? Atau kah Sayang?"


(Khuk uhuk uhuk) suara batuk wkwkwk


Setelah aku mengatakan itu tiba - tiba saja Aina batuk seperti tersedak oleh makanan


"Kamu tidak apa - apa Aina?" secara reflek aku langsung memberi minum kepada Aina.


"Iya aku tidak apa - apa terimakasih tuan kora" jawabnya dengan pipi yg memerah.


"Hmm kalau boleh tau nih Aina kenapa kamu memanggil kora dengan sebutan tuan?" tanya kak Rias dengan tersenyum.


"Ehh hmm karena di keluargaku memanggil tuan kepada orang lain adalah hal yg wajib" jawabnya dengan rinci.


"Oh begitu yasudah lah, ini silahkan makanannya " dia pun membawa sebuah panci yg berisi sup dan bubur.


"Tumben makanannya bukan telur sama sosis" kataku sambil tertawa.


"Itu doang komentarmu hmph dasar gk peka" jawabnya sambil memalingkan wajahnya.


"Aku hanya bercanda kali, jangan dianggap serius" aku pun berusaha untuk membujuknya.


"Hmph " dia pun nampak seperti acrodite saat sedang marah.


"Aina kalau mau tambah lagi bilang saja sama kakak ya nanti kakak kasih" dia pun berkata dengan lembut kepada Aina.


"Ehh hm iya kalau masih lapar" jawabnya dengan tersenyum.


"Kalau aku boleh gk kak Rias?" tanyaku dengan polos.


"Kamu ambil sendiri sana!!" jawabnya dengan tegas.


"Hmph kalau sama Aina ngomongnya lembut tapi kalau sama aku malah nge gass" kataku sambil berpura - pura ngambek.


"Terserah ku lah" jawabnya dengan singkat.


Kami pun sarapan sambil mengobrol beberapa hal yg tidak kami ketahui di ibukota.


"Tetapi kalau boleh jujur ni ya, kakak sempet kaget waktu tau kalau kora tunangan dengan cewe yg cantik" kata kak Rias sambil membereskan piring yg tergeletak di meja.


"Aku bantu ya kak Rias" Dia pun langsung bangun dan membantunya membawakan piring ke dapur.


"Terimakasih ya Aina, tetapi kalau soal cuci piring biar kakak saja yg bersihin kamu istirahat saja ya" suruhnya kepada Aina dengan lembut.


"Kalau begitu maaf ya sudah merepotkan kakak" dia pun meminta maaf sambil tersenyum.


"Tidak apa - apa kok sudah biasa ini mah tenang saja" jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2