
4 hari kemudian...
Pagi hari pun datang lagi dengan bangganya, ya seperti biasa benciku sama pagi masih tetap ada entah sekeren apa datangnya pagi itu aku tetap membencinya.
aku bangun dari tempat tidurku dengan perlahan karena takut Aina akan bangun.
karena kebetulan ini adalah hari minggu dan juga bahan - bahan buat kafe sudah habis, setelah mandi aku langsung di suruh olehnya untuk membeli persediaan di pasar.
jarak antara pasar sama rumahku cukup dekat karena hanya beberapa kilometer saja, aku pergi dengan rasa mager yg terus menyelimutiku dengan kuatnya tetapi di tengah perjalanan aku melihat Shira yg sedang berbelanja di sebuah toko di pasar.
aku pun langsung menghampirinya dan menyapanya.
"halo kamu Shira kan? temannya Silva" tanyaku tanpa basa - basi.
"iya trus kamu kora kan sang penguntit" dia pun menjawabnya dengan dingin.
"ehhh kenapa bisang kaya begitu?"
"terserahku"
tetapi entah mengapa aku merasa tertarik dengan Shira dan ingun berusaha untuk mendekatinya.
"kamu sedang beli apa sih?" aku pun memberanikan diri untuk bertanya basa - basi.
"kamu tidak bisa melihat" jawabnya sambil menunjuk papan penjualan yg bergambar ikan.
"(dingin sekali susah kalau udah kaya begini) batinku terus saja bilang untuk berteman dengannya.
dan seketika aku langsung teringat kalau aku harus membeli persediaan, kalau tidak aku bisa di bunuh olehnya.
" dah Shira aku pergi dulu" aku langsung meninggalkannya dan pergi ke toko langgananku.
sesampainya di sana aku merasakan hawa keberadaan seseorang yg sedang mengikutiku.
"permisi pak, aku mau membeli persediaan yg biasanya" aku pun mengabaikannya dan langsung fokus kepada tujuanku kesini.
__ADS_1
"oh kora apa kabar?, mau beli yg biasanya?" tanya penjual gadungan yg dari dulu sering membuatku kesel dengan cara bicaranya itu.
"iya yg biasa" aku menjawab nya dengan dingin.
dia pun langsung menelpon seseorang dan samar - samar aku dengar dia bilang "kiriman ke rumahnya Eleven"
setelah selesai dia langsung berbalik dan bilang kepadaku kalau pesanannya sudah di antar, aku hanya percaya saja dan memberikan uang untuk pesanan itu.
karena sudah selesai aku langsung berjalan kembali ke rumahku untuk menerima pesananku, tetapi di tengah perjalanan aku melihat sekelompok irang dengan baju polisi kerajaan sedang berdebat dengan Shira di depan toko ikan dan karena penasaran aku langsung menghampirinya.
"cepat bayar pajakmu penjual ikan, ini perintah raja" kata pemimpin dari orang - orang itu.
"kemarin aku sudah membayarnya masa harus di tagih lagi" jawab sang penjual ikan yg dari tadi nampak gemetaran.
"cepat sini!!!" gentakknya sambil mengangkat pedangnya.
"kalian sudah dengar bukan apa kuping kalian budeg?" kata Shira yg dari tadi diam sekarang ikut berdebat.
"kamu hanya seorang cewe, jangan ikut campur" mereka pun menghiraukan ucapan Shira.
" Apa kamu bilang bocah!!!" dia pun mulai mengeluarkan amarahnya yg mengebu - gebu.
"jangan panggi aku bocah paman" kataku untuk membuatnya semakin marah.
"brengsekk" dia langsung menyerangku dengan pedangnya.
karena gerakannya lambat aku dapat dengan mudahnya menghindar dari serangannya.
karena aku tidak mau melanjutkan ini aku langsung saja memberikan uang kepada mereka dan meninggalkan toko itu bersama dengan Shira.
di saat kami sudah menjauh dari sana Shira berhenti dan bertanya kepadaku " kenapa kamu tidak habisi mereka saja, malah menuruti kemauan mereka"
"siapa yg bilang tidak menghabisi mereka?" jawabku sambil tersenyum.
dia pun bingung dengan perkataanku.
__ADS_1
Di tempat lain di dekat gang sepi....
"mudah sekali daoat uang ya" kata salah satu anak buahnya sambil mencium uang itu.
"iya tetapi bocah itu menyebalkan banget tau, sok berani sama kita ya kan"
mereka pun nampak senang dengan yg aku berikan padahal itu adalah senjata untuk membunuh kepunyaanku.
haaaaaa(maklum susah buat ngeilustrasiin teriakan)
kembali ke tempat kora....
dia pun nampak bingung dengan perkataanku, karena aku adalah tipe cowok yg tidak suka membuat cewe berfikir lama aku pun menjelaskan kalau itu adalah senjata buatanku yg bisa membuat semua tubuh orang yg memegangnya akan terpotong menjadi dua.
dia nampak kaget setelah aku jelaskan seperti habis melihat sebuah kejadian itu sendiri.
"kejam sekali kamu ini" dia pun mundur dengan perlahan dan meninggalkanku.
"ehh kok dia pergi?" karena aku rasa sudah tidak ada urusan lagi di pasar ini aku langsung kembali ke rumahku untuk menerima pesanan.
sesampainya di sana nampak kak Rias sedang membawa barang - barang, karena tidak tega aku pun membantunya mengangkat barang - barang itu dan membawanya menuju ke gudang.
setelah mengerjakan tugas itu,aku langsung kembali ke kamarku.
tetapi di saat aku naik keatas lagi - lagi kutukan Aina bangkit dan Baju pun penuh dengan Sobekkan seperti habis dicakar sesuatu terus akhirnya dia pingsan.
kejadian ini terus saja terjadi setiap kali aku keluar rumah dan aku merasa kasihan dengan Aina yg terus mengalaminya dan aku berjanji akan membuat kutukan itu menghilang, dan begitulah janjiku kepada diriku sendiri walaupun aku tidak tau obat untuk kutukan itu tetapi aku akan terus berjuang untuk mencarinya.
dan aku yakin kalau kebahagiaanku hanya sementara karena aku yakin banyak pihak yg benar - benar akan mengganggu kehidupanku ini.
walaupun begitu aku akan tetap melindungi semua orang yg aku sayangi apapun yg terjadi untuk kedepannya.
(Berakhir sudah volume pertamaku )
Thanks yg udah baca hehe
__ADS_1