
Pov. Ibu Mertua
Setelah hubungan Edi debgan Nayla renggang uang bulananku kemungkinan berkurang. Saya sebenarnya hanya ingin anak dari mereka tapi apa daya sudah setahun pernikahan mereka belum juga kasih aku cucu.
Sesimpel itu mereka bisa kabulkan lagian umurku sudah semakin berkurang, jadi kapan mereka nyenangin saya kalau bukan sekarang.
Untung nya Mira lagi hamil, jadi saya bisa punya cucu lagi. Nunggu sama Nayla gak dapet dapet mungkin dia benaran mandul.
Mira walaupun kaya tapi dia tidak bisa kasih saya uang. Dia hanya mengharapkan gaji anak ku. Katanya lulusan luar negeri tapi kadang rada rada orangnya suka tidak nyambung kalau bicara.
Apa benar yah yang di katakan temannya Nayla kemarin dia hanya ngaku ngaku sarjana. Tapi dia itu sarajana apaan urus rumah saja tidak bisa dari bersih bersih sampai masak pun saya yang kerjakan.
Berbeda dengan Nayla setiap datang atau nginap paati masak atau membersihkan rumah. Mira seola ola ratu dalam rumah ini dan sering bangun kalau sudah makan siang alasan kehamilannya yang membuat nya mager.
Hari sudah siang, dan belum bangun juga, hari ini hari sabtu jadi Edi tidak masuk kerja, jam sudah menunjukan tenga hari mereka asikan kelonan dalam kamar. Nasib nasib punya mantu orang kaya tapi pelitnya minta ampun. Setelah semua nya beres saya makan duluan karna mau pergi arisan sekalian ngerumpi.
Selesai makan saya keluar dari rumah berpapasan dengan tetangga yang sok cantik dan sok alim padahal suaminya juga menikah lagi. Tapi kok aneh ya suaminya baru sehari nikah sudah cerai. Pasti dia pake guna guna kan, penampilan nya saja yang sok alim padahal aslinya kumpulan penghuni neraka.
"Tumben bu keluar siang siang? Sapanya basa basi.
"Iya kan gwe orang kaya say. Jadi kalau siang hari keluar buang sial."
Dia hanya tersenyum mendengar ucapanku, padahal sudah patah hati terdalam sampai kepalung hati. Saya pergi kerumah bu Siti karna hanya dia yang membelaku di saat ibu ibu menghakimiku. Bu siti janda sepertiku tapi bedanya dia tinggal sendiri dan hanya memiliki satu anak.
Itupun anaknya suka kirimin duit tiap bulannya berpuluh puluhan juta, anaknya sudah menikah dan punya anak tiga, tapi tidak mengurangi pesona laki laki tersebut.
Setelah basa basi semua ibu ibu pada ngumpul dan banyak pertanyaan menohok dari mereka. Saya hanya pasrah jika mereka kembali menghujatku. Untungan saya memiliki teman yang slalu belain saya.
__ADS_1
"Kok tega ya kamu sesama perempuan itukan anak menantu sendiri sudah baik cantik pula."
"Iya ya padahal Nayla itu kurang baik apa? Semua tanggungan mertua di bayarin gak tanggung tanggung."
"Aku tunggu jandanya untuk anak saya, dimana lagi ada wanita sebaik itu, hargai orang tua penurut pulan"
Dan masih banyak lagi, arisan kali ini tidak ada lagi pamer tas, baju, emas dan lain lain. Yang jadi topik utama adalah mantu tak tau diri itu. Pasti dia senang mendengar pujian pujian itu.
"Untuk apa baik penurut kalau tidak bisa hamil sama saja kan. Mandul kok jadi idolah."
Sengaja ku katakan mandul agar mereka tutup mulut rasanya cape juga mendengar ocehan mereka.
"Nayla itu korban bu. Keturunan itu mutlak hak Allah apa lagi pernikahan mereka baru setahun masih seumur jagung, ada itu orang menikah sudah puluhan tahun tapi tidak di beri keturunan, jadi harus bersyukur bu."
Sok bijak juga ini bu Rt tidak tau saja rasanya kebelet ingin punya cucu gimana rasanya. Masa iya harus nunggu lagi seharusnya pernikahan aetahun sudah ada dapat satu minimal sudha dekat lahiran.
Astaga pedas juga mulut mereka ternyata. Saya hanya diam tidak ingin lagi ikut nimbrung karna tidak ada habisnya. Setelah semua nya sudah selesai saya pulang kerumah terlebih dahulu takutnya mereka mati kelaparan dalam kamar.
Sesampainya di rumah halaman depan berantakan, halaman samping bunga bunga nya pada terhambur, dalam rumah kaya kapal pecah.
"Edi..... Mira....!!
Kalian ngapain sih seharian dalam kamar kalian tidak liat ini semua berantakan, siapa yang hancurin ini semua.!" Bentak ku berang.
"Mira bu yang mengamuk, katanya saya tudak tanggung jawab, dia mau rumah yang kami tempati dengan Nayla. Tapi tidak di izinkan oleh Nayla kesana lagi."
Astaga Mira kenapa ngamuk seperti orang bodoh sih. Apa apa di hancurin apa modelnya orang kaya begitu yah nanti beli lagi. Pokoknya dia harus ganti kerigianku. Enak saja habis di hancurin baru gak di ganti.
__ADS_1
"Panggil Mira sekarang, suruh keluar..!!!"
Sengaja suaraku saya tinggikan agar dia berfikir kalau saya marah. Tak lama kemudain dia muncul dengan wajah di tekuk. Astaga naga kok gini amat yah kelakuan Mira, bukannya minta maaf malah manyun.
"Mira ganti semua barang barang ibu yang hancur..."
Mira hanya memutar bola matanya malas, ini orang gak ada tanggung jawabnya, bukannya takut malah nantangin. Pantas saja tetangga pada bilang rada rada ini toh sifatnya.
"Mira saya tidak mau gau gantiin semua yang kamu sudah hancurkan hari ini...!"
Sedikit ku tinggikan suaraku agar dia paham yang namanya tanggung jawab. Saya tinggalkan mereka berdua sebelum itu saya perintahkan untuk membersihkan semua kekacauan itu. Saya masuk dalam kamar mengecek saldo kerekeningku. Astaga kok tinggal lima ratus ribu. Gimana untuk bulan depan ini. Pokoknya harus minta sebagian gaji Edi mereka numpang di rumah ini jadi saya yang harus ke lola keuangan.
Malam sudah semakin karut perut minta di isi, pasti Mira yang masak karna tadi habis saya marahi pasti masak karna takut. Saya keluar dari kamar. Rumah masih seperti tadi berantakan dan meja makan sisa lauk tadi pagi, kemana mereka di suruh bersihkan kekacauan yang di buat malah kabur.
Ini tidak bisa saya biarkan. Mana mereka saya cek kamar mereka tidak ada orang lalu ku beralih ke garansi mobil tidak ada itu artinya mereka tadi perrgi. Jam sepuluh malam sekarang apa mereka pulang.
Pintu saya kunci dari dalam jadi ketahuan kalau mau masuk berteriak di luar. Saya matikan lampu setelah membersihkan ke kacauan tadi. Lampu baru di matikan tiba tiba ada yang nyalahkan di ruang tamu.
Apakah pencuri malam malam masuk dalam rumah ini ku intip dari jauh. Ya ampun ternyata dua kurcaci ini toh.
"Mira...!
Mira terlonjak kaget karna tiba tiba bersuara di belakangnya.
"Ibu ngapain belum tidur.."
Astaga ni orang kalau saya tidak ingat cucuku dalam kandungannya sudah ku jadikan perkedel.
__ADS_1