AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR

AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR
BAB. 11 Hampir Ketahuan


__ADS_3

   POV MIRA


  Ni orang tua gimana sih ngagetin saja, saya hampir saja pingsan. Mertua ku tersayang ngapain masih bangun padahal kami sengaja pulang malam supaya tidak di ketahui malah ketahuan..


Malam ini saya tidak melayani pelanggan saya libur dulu, soalnya kemarin malam saya mendapat pelanggan yang agresif dan pasti keuntungannya sangat banyak dari sebelumnya, tiga jam sepuluh juta jadi tadi saya shoping semauku. Untung barang barang aku masih dalam mobil nanti saja besok baru di kasih keluar.


  "Ibu kok ngagetin saja sih. Ibu kenapa bangun tengah malam. Ibu masuk kamar ya.."


Sengaja bicara selembut mungkin karna tadi saya menghancurkan taman kesukaannya dan barang barang dalam rumah ini tak luput dari amukan ku.


"Jangan sok baik kamu Mira justru saya yang tanya darimana kalian rumah berantakan dan tidak ada masakan sekarang masak saya tidak butuh alasan apa pun."


Ternyata mertua ku masih mode jutek. Tapi gimana caranya mau masak, saya masak air saja hangus apa lagi masak yang lainnya. Apa ibu ku bujuk saja ya. Saya beliin saja makanan melalui aplikasi, tidak mungkin saya masak baru saya tidak tau masak...


"Ibu saya cape ini. Saya beliin saja ya." Bujuk ku agar saya bisa lolos dari ujian memasak kali ini. Hampir saja ketahuan kalau saya tidak tau masak. Bisa bisa dia cari mantu baru yang bisa masak.


Ibu mengangguk tanda setuju. Saya pesan ayam bakar tiga porsi siapa tau mas Edi mau makan juga sekali kali sedekah gak apa apa yang penting tidak berkali kali.


Mas Edi masuk dalam rumah dengan wajah cengonya. Mungkin dia fikir ibunya akan tidur saat kami pulang nyatanya dia masih asik merong rong. Untung saya punya uang pribadi untuk beli makanan.


Satu jam menunggu akhirnya makanan kami sudah diantar. Ibu mertua paling lahap makannya mungkin dia kelaparan plus makanananya enak.


Ke esokan paginya saya bangun jam sepuluh pagi, lumayan lah saya jadi ratu di rumah ini mau apa apa tinggal ngomong. Memang siapa mereka nyuri nyuru saya bersihkan rumah yang ada tanganku kasar dan badanku bau keringat kan gak pake bangat.


  "Kok kamu baru bangun bantuin ibu sana mencuci kamu harus berbakti sama ibu dan suami." Sambil menunjuk dirinya.


"Mas dimana mana istri itu jadi ratu. Pekerjaan rumah seharusnya kamu sewa saja pembantu toh gaji kamu cukup cukup saja."

__ADS_1


Wajahnya berubah jadi masam emang saya peduli, sudah seharusnya kan kalau mereka yang mejadikan aku ratu ini malah nyuruh nyuruh..


Selesai mandi saya keluar kamar saya dengar ibu mertua sibuk mendumel tidak jelas..


"Seharusnya ini pekerjaan istri kamu kok malah ibu yang jadi babu dalam rumah sendiri."


"Maaf ibu tapi Mira tidak mau melakukannya, maaf ya bu."


Mas Edi memohon mohon sama ibunya agar tidak lagi di omelin.


"Bu mas kok kalian marahan ada apa?" Bertanya dengan wajah sok polosku biarlah saya menikmati sebelum saya muak. Lama kelamaan saya muak juga satu rumah sama mereka. Mas Edi minta di belikan rumah pun tidak mau alasan ibu tidak ada temannya.


Mas Edi menyuruhku masuk dalam kamar dan dia mengekor dari belakang entah ada apa.


"Mas mau bicara sama kamu.!"


"Kamu setiap pagi bikin sarapan, bangun lebih awal. Kamu harus tau aturan dalam rumah ini. Ibu itu sudah tua jadi harus kamu yang kerjakan seluruh isi rumah ini. Kamu hanya di rumah saja, kebetulan hari ini libur ayo keluar bantu perbaiki itu taman yang kamu rusak kemarin."


  Mas Edi berlalu kekuar kamar. Masa iya saya harus bantu nanti kuku ku kotor gimana ini. Masa iya main kotor juga, mas Edi suami yang kurang pengertian mah ini.


Saya mengikuti mas Edi keluar kamar tapi baru membuka pintu ibu mertua sudah menatapku sinis.


"Bagus ya kerjaanmu makan tidur saja setiap hari. Kamu fungsinya jadi istri."


"Bu saya ini lagi hamil kok tega sih bilangin saya seperti ini. Kalau kandunganku kenapa napa gimana emang mau ibu kehilangan cucu."


Sambil pura pura menangis dan mengeluarkan air mata. Tapi cape juga nungguin ini air mata tapi gak tumpah tumpah juga. Ihhh air mata sialan.

__ADS_1


Ibu mertua begitu saja dan tak berselang lama dia membawa kain pel beserta embernya ini maksudnya gimana lagi orang tua.


"Sekarang kamu ngepel seluruh rumah ini tampa terlewatkan sedikit pun.."


"Ta...."


"Tidak ada tapi tapia sekarang kerjakan. Jangan manja dulu saya pernah hamil tapi tidak segitunya."


Akhirnya saya merasakan pegal pegal seluruh badanku. Baru kali ini saya kerja ngepel seperti ini. Pokoknya ini harus saya pertanyakan kenapa saya di perlakukan seperti ini dan saya harus minta rumah sendiri tidak mau harus tinggal lagi serumah. Rumah seluas ini saya sendiri yang mengerjakannya. Sementara adiknya tidak tau dia kemana sudah tidak pernah pulang.


Melani statusnya adik iparku tidak lagi pernah pulang kerumah ini semenjak saya tinggal di sini. Katanya ngekos dekat kampus tapi entahlah.


"Ibu.... aku pulang...."


Ibu mertua menyambut anak bungsunya itu dengan gembira.


"Ibu tebak Melani bawa apa ?"


Diatas meja banyak perhiasan entah itu palsu atau asli. Mata ibu mertua melotot saking syocknya. Kok aneh anak kuliah kok punya duit banyak. Saya rasa itu tidak mungkin sementara uang jajannya tidak banyak paling di kasih satu juta sebulan itupun di suruh hemat.


"Banyak bangat nak. Kok kamu punya emas sebanyak ini dapat darimana kok keliatannya kamu banyak uang.?"


Melani hanya tersenyum simpul, saya sudah tau apa yang dia kerjakan, ternyata anak kebanggan nya itu tak jauh dari saya. Suka jadi pemuas laki laki, kami memiliki penghasilan yang sama, tunggu tanggal mainnya saja.


Melani baru juga dua jam sudah pergi lagi dengan alasan dia harus bekerja. Dia mengaku kerja di hotel milik dosennya dan di gaji tinggi. Ibu mertua percaya percaya saja yang penting banyak uang. Sementara kerja di hotel gaji standar satu juta bahkan paling tinggi dua juta. Mungkin maksudnya kerja dalam kamar hotel kali ya.


Setelah anaknya pergi dia masuk kembali dalam kamarnya sambil melirik ku sinis. "Ingat ya bukan hanya kamu yang banyak uang di rumah ini dan mulai sekarang yang mengerjakan pekerjaan rumah itu adalah tugasmu sebagai istri."

__ADS_1


Widih.... baru juga segitu udah songong. Saya hanya senyum senyum sendiri melihat tingkahnya. Anak sama orang tua sama saja karna tidak ada yang beres.


__ADS_2