AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR

AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR
BAB.19 Terungkap


__ADS_3

Sudah malam tapi orang tua bahkan kakanya tidak ada yang kerumah sakit. Melani mau tak mau harus mengeluarkan uang untuk biaya operasi dan biaya administrasi rumah sakit.


"Mas Edi kemana kok istrinya sekarat tidak kwatir. Apa saja ni orang lakukan kalau untuk saya sudah ku teror."


Melani yang sedang mematung di kursi tunggu pun di sapa seseorang.


"Hay mel kamu kenapa.?"


"Ini lagi nungguin kaka ipar saya di dalam." Melani sambil menunjuk ruangan yang yang ada di depannya.


Siska sahabat menemaninya kebetulan dia orang tuanya dibrawat di rumah sakit yang sama. Tidak lama dokter keluar dari ruangannya bahwa bayi itu sudah usia tujuh bulan. Bukanlah lima bulan seperti perkiraan awal.


"Masa dok bukannya masih lima bulan ya?" Dokter tersebut hanya tersenyum mendengar penuturan Melani.


"Ibu nya masih selamat. Sebentar lagi akan di pindahkan."


Siska yang mengetahui isi fikiran sahabatnya itu. "Mel kalau usia nya tujuh bulan berarti hamidun."


"Gak tau bukan urusanku." Melani cuek saja. Dulu dia pernah melarang sang kaka untuk menikahi wanita twrsebut. Tapi kaka nya tetap ngeyel dan sekarang baru ketahuan kan.


Edi dulu mati matian membanggakan wanita tersebut, bahkan dia tidak peduli jika dia menyakiti seseorang. Yah yang di sakiti adalah Nayla yang paling royal sama keluarganya dan yang paling sabar. Hanya karna masalah anak tega mendua padahal pernikahan baru seumur jagung.


Dengan alasan sanggup adil jika memiliki dua istri, sekarang dia berusaha untuk menarik simpati Mira untuk di kuasai hartanya.


Padahal tidak ada harta. Orang tuanya pun tinggal di kontrakan petak yang ada di desa. Lalu harta yang mana yang di istimewakan, ehhh lupa mereka kan aktor hebat jadi cocok lah kalau jadi pemain flim dalam kehidupan mereka.


Saat ini Edi masih berada di rumah Nayla yang di tempati saat ini bahkan dengan bangganya mereka. "Ingat yah Nayla saya tidak akan melepaskanmu. Saya akan gantung status kamu. Saya tidak akan pernah hadir di sidang perceraian kita sampai hakim membatalkannya.


Edi ini sebenarnya bego atu gimana sih. Masa dengan tidak tau malunya dia akan menggantung status mantan istrinya tapi dia tidak akan hadir di persidangan dan apa da bilang di batalkan hakim.

__ADS_1


    Aduh ferguso malah itu lebih mempermudahkan penggugat. Atau otaknya rada koslet makannya gak bisa lagi berfikir. Atau minim pengetahuan.


Nuri yang sejak tadi geram ingin mencakar cakar wajah Edi tapi dia tahan setelah mendengar hal tersebut. Nayla sebenarnya sudah muak melihat mantan suaminya itu. Bahkan dia berfikir kenapa bisa menikah dengan laki laki yang ada di depannya itu.


Andaikan waktu bisa di putar kembali,dia tidak ingin mengenal laki laki itu. Beruntungnya belum memiliki anak sehingga mudah memili mundur dan tidak menyakiti siapa pun.


"Mas silakan pulang. Ini sudah larut malam saya juga mau istrahat besok saya mau kerja." Nayla sudah jengah mau tak mau dia harus mengusir kedua orang ini yang mengganggu malamnya.


"Saya masih sah jadi suamimu dan masih bisa rujuk. Jadi saya masih punya hak tinggal bersamamu."


Edi ini tipikal manusia tidak tau malu. Masa iya masih punya muka datang mau numpang hidup sama mantan istrinya, yang benar saja dan.


"Maaf mas kita sudah cerai jadi saya harap anda tau diri." Balas Nayla telak.


Edi merasa di injak harga dirinya pun mulai naik pitam. Jangan kan disuruh masuk dalam rumah atau di suguhi minuman pun tidak.


Bu sari komat kamit dari tadi tapi tidak di hiraukan. Mereka datang ssngaja agak larut malam supaya mereka bisa numpang makan dan tidur tapi ternyata mereka salah.


"Maaf pak bu silakan anda pulang. Karna saya tidak menerima tamu yang macam kalian."


Kesabaran Nayla yang setipis tisu di kikis habis malam ini sehingga dia menggunakan kata formal. Bu sari mau memaksa masuk tapi di hadang Nuri serta mbok Ija di depan pintu.


"Awas saya mau masuk. Ini rumah menantu saya dan saya berhak untuk berada di sini."


Hahahaha. "Bu kalau halu jangan di rumah orang. Ini rumah kontrakan bukan rumah milik Nayla.


"Alhhh... sama saja kan itu artinya bisa saya tinggal di sini."


Bu sari tetap kekeh dengan pendiriannya untung kompleks ini tidak kepo penghuninya jadi aman kalau adu mulut.

__ADS_1


Setelah lelah mereka menyeret bu sari untuk keluar. Daripada tersita waktu istrahat mereka.


"Awas saja kamu menantu lupa diri semoga kamu di pecat dari tempat kerjamu." Umpat bu Sari sambil menangis, dia fikir Nayla gampang di manfaatkan padahal tidak ada yang di harapkan.


Nayla hanya tersenyum miris, ternyata selama ini dia hanya di manfaatkan keluarga suaminya itu. Sekarang sudah tidak mau lagi kembali menurutnya cukuplah air mata selama ini ia keluarkan.


Kesadaran Edi tak kunjung juga datang. Ponsel sengaja dia tinggalkan di rumah agar tidak di ganggu sama istrinya sebelum pulang dari rumah minimalis dan sederhana itu. Dia membayangkan jika malam ini tidur nyenyak di sana tapi apalah daya kehadirannya seola ola tidak di harapkan.


Sesampainya di rumah, rumah kosong tak ada satu pun orang. "Bu Mira kemana ya kok dalam kamar tidak ada. Atau jangan jangan dia pergi dari rumah ini bu."


Bu sari langsung bergegas menelpon Mira tapi ponselnya tidak aktif. Hanya ada panggilan dari Melani itupun tidak di hiraukannya yang terpenting saat ini Mira kaya itu.


"Ponselnya tidak aktif, apa dia blokir kita ya. Benar benar tu perempuan tidak tau malu masa iya dia main kabur gitu saja sih."


Edi semakin frustasi apa dia hanya pura pura sakit ya tadi. Tapi ponsel Edi kembali berdering Melani menelpon tengah malam ada apa?


"Hallo mell..."


"Mas istrimu di rumah sakit. Kamu kemana saja sih. Tu anak mu udah meninggoi gak becuz jadi orang tua."


Maki Meli dia mengakhiri panggilannya sepihak. "Bu Mira masuk rumah sakit anak saya meninggal bu."


"Ha..! Yang benar saja gimana sih melahirkan pun tidak becus. Itu istrimu tidak ada baik baiknya ya." Omel bu Sari gimana tidak emosi semuanya sial hari ini.


Edi bergegas kerumah sakit sesuai yang di kasih sama Meli. Mira sudah di pindahkan di ruangan dan belum sadarkan diri mungkin masih efek bius.


"Mel anaku mana.?" Meli mendelik ini laki laki bisa saj adi bego begoin. Katanya menikah masih perawan kok bisa tua dua bulan kandungannya.


"Mas anakmu di simpan di ruangan jenaza. Dan anakmu sudah tujuh bulan bukan lima bulan."

__ADS_1


Edi mengerjap beberapa kali untuk bisa menerima informasi tersebut dan memang benar anak itu sudah tujuh bulan usia nya dalam perut.


__ADS_2