
Mira semakin menunjukan taringnya. Dia ingin menjadi wanita yang terpuji di depan orang lain. Sebenarnya apa yang terjadi dengan keluarga ini. Kenapa saya di bilang tidak becus dan bau asap. Atau mereka yang sibuk menjelek jelekan saya. Baiklah kamu jual aku beli Mira.
"Ohh iya siapa yang bilang aku tidak becus, suamimu atau mertuamu. Asal kamu tau yah mertuamu aku yang kasih uang dan lain lain."
Aku memberi mereka senyum termanisku. Rasakan kalian emang siapa lawan kalian bahkan pelakor udel itu tak sampai seujung kukuku.
Mas Edi tidak terima lantas menyanggah. "Nayla kamu mau jadi istri durhaka kamu.! Bentaknya berang...
Aku memberi kode pada juru kamera hehe untuk menyudahinya. Saya sudah memiliki cukup bukti untuk melaporkanmu ke kantor. Hhehe sekalian saya viralin biar kapok sekalian. Lagian siapa yang harus saya jaga perasaannya anak pun saya belum punya.
"Guys pulang yuk kita rayaain rasa sakit ini.."
Edi mendelik melihatku. Dia ingin aku menagis kejer setelah mengetahui kebusukannya. Hello aku bukan Nayla yang yang lemah. Pastinya kamu akan merasakan apa yang telah kurasakan ferguso. Siap siap saja, jadi gembel bersama istrimu.
Kami masuk dalam mobil masing masing meninggalkan mereka yang di hujani kata kata pedas dari tetangga kompleks rasakan itu emak emak kok di lawan.. lawan terus mak sampai mereka tak punya muka lagi.
Sebenarnya hatiku menjerit di kala melihat suamiku kebih berpihak sama pelakor itu. Tapi saya tidak ingin menampakan itu depan semua orang.
"Nayla kok ngelamun saja. Ada apa ayo cerita kalau mau nangis ayo nangis. Aku tau kamu tak sekuat itu."
Nuri menghentikan mobil di pinggir jalan. Di ikuti satu mobil lainnya. Nuri memeluk ku erat. "Menangislah Nayla lepaskan semua tapi berjanjilah setelah ini tidak ada lagi air mata."
Sekuat tenaga menahan agar tidak menangis tapi.. benar kata mereka aku tak sekuat itu, aku adalah manusia yang paling rapuh tapi dia dengan teganya menyakitiku sedemikian rupa...
__ADS_1
Robohlah pertahananku dan gelombang berlomba lomba keluar membasahi pipiku.
Selesai sudah aku bertahan semoga hari esok tak ada air mata kesedihan. Sebenarnya aku paling benci menangis di depan orang lain saya tidak suka terlihat lemah.
Setelah sekian lama menangis akhirnya melanjutkan perjalanan kami saya ingin nonton atau ke club malam tapi mereka belum tentu maua. Kata orang orang kalau ke club malam itu bisa melupakan masalah yang ada.
"Guys kamu saya antar pulang saja ya. Saya ada urusan." Pintaku tidak mungkin saya mengatakan jika saya ke club malam.
Nuri melihat ku dengan tatapan tak biasa. "Kamu mau kemana dan ini sudah malam dan tidak mungkin kamu ada janji sama yang lain. Saya nginap saja di rumah kamu ya."
Nuri menawarkan diri untuk menemaniku, apakah hanya pencitraan saja. Saya sudah tidak mengerti semua orang yang berada di sekitarku. Aku hanya menatap dalam matanya mencari sesuatu yang ada di sana. Tapi tidak kutemukan...
Nuri membingkai wajahku dengan tangannya. "Kamu ragu sama saya, gimana caranya saya menolongmu coba kasih tau saya."
Sebenarnya tidak ada alasan menolak bantuan orang yang sebaik dirinya hanya saja pikiranku sangat kacau saat ini hingga saya tidak bisa mengambil kesimpulan.
Sesampainya di rumah saya langsung mengajak mereka makan tapi teman laki laki ku tidak mampir jadi sekarang yang tinggal hanya Nuri...
Ke esokan harinya ku jalani hari hariku penuh dengan kecemasan, kesedihan, dan kemarahan. Hari ini saya ke kantor untuk bekerja.
Semua mata memandang ke arahku karna mungkin mataku bengkak karna menangis sepanjang malam. Tak kuhiraukan mereka menurutku mereka Semua tidak penting. Nuri menemaniku sampai di ruanganku. Tapi di dalam ada manusia yang tak Punya perasaan ibarat pohon pisang punya jantung tapi tak punya hati.
"Hallo istriku yang cantik. Kamu kok nangis semalaman yah? Pasti kedinginan kan? Tenang saja saya akan memberimu kehangatan sepulang dari kantor." Lalu dia keluar dengan angkuhnya.
__ADS_1
"Dasar laki laki munafik, untung bukan suamiku, kalau jadi suamiku sudah ku rebus diair mendidih." Nuri naik pitam melihat laki laki itu yang tak memiliki etika dan sopan santun. Seola dia yang berkuasa di kantor ini.
"Awas saja kamu laki yang tak becus sebentar lagi kamu akan viral.." guman Nuri yang masih bisa ku dengar.
"Sayangku bestiku saya tinggal ya. Kalau ada apa apa kabari saja jangan sungkan." Nuri berlalu keluar dari ruanganku.
Setelah kepergian Nuri mataku kembali menatap sosok yang dulu kucintai tapi untuk saat ini pupus sudah rasa itu.
"Sayang kamu kalau rindu bilang lah jangan di pendam sendiri. " sok bijak
Bisa nggak saya gigit ginjalnya supaya dia tau rasa sakitku. Kenapa dia semakin menampakan taringnya. Dia pikir aku masih mencintainya tak segampang itu ferguso yang ada babak belur wajahmu itu. Dasar laki egois malah asyikan menikah hedew mendingan saya jadi janda daripada harus berbagi suami. Saya tidak ingin surga yang membuatku sakit hati.
"Sayang kok diam saja. Mas itu laki laki jadi wajar dong kalau saya menikahi wanita lebih dari satu bahkan lebih pun bisa. Yang tidak wajar itu perempuan keluar dari rumah kabur dari suami itu nanti di jauhkan kunci surga untuknya."
Astaga manusia seperti apa yang telah ku nikahi selama ini. Inikah modelnya punya otak tapi gak ke pake. Sok menasehati sementara dirinya tak sebaik itu. Hebat juga laki laki ini pandai berkata kata yang cocok jadi jigong.
"Silakan kekuar pak saya tidak butuh nasehat anda karna saya masih bekerja." Tukasku.
Dia mengepalkan tinjunya dia menahan amarah memang saya selama menikah dengan nya tak pernah menyelah sedikit pun ucapannya. Tapi sekarang berbanding terbalik hatiku seolah terkunci bahkan namanya pun sudah kutak ingat lagi. Sehebat itukah hancurnya aku sehingga tak ada lagi yang tersisa selain luka yang di torehkan.
Dia keluar dari ruangan kerjaku sambil mengomel bak emak emak yang lagi ngoceh...
Setelah kepergiannya saya mengerjakan apa yang bisa ku kerjakan dan masih banyak file file yang belum selesai yang masih butuh perhatiaanku. Setelah sekian lama berkutak di depan komputer tibalah jam istrahat.
__ADS_1
Saya tidak ingin makan di luar jadi saya suruh sahabatku untuk membelikanku makanan karna saya tidak ingin berpapasan dengan bos aku sementara mata ini masih bengkak.
Tak berselang lama Nuri masuk dalam ruanganku dan menenteng kantong plastik sudah ketebak Isinya nasi bungkus dan air mineral.