AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR

AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR
BAB. 32 Mencintai Itu Sakit


__ADS_3

Saras hanya mampu berdiri di sana, dia tidak tau harus bagaimana, intinya dia sangat mencintai Bara, tapi cintanya tidak terbalaskan satu pun. Andaikan dia bisa berada meja yang sama mungkin bahagianya tak terkira.


  Ibu Lora makan dengan lahap, sampai sampai dia lupa kalau makanan itu bernilai jutaan, dia tidak menyadari makan dan makan kapan lagi kan kalau bukan malam ini.


  "Saras mana sih kok gak ikut makan, makanan enak kok dianggurun, gratis lagi gak perlu bayar.."


  Lora makan dengan lahapnya, dia melihat orang sekelilingnya makanbdengan santai sementara dirinya mengunyah drngan mulut penuh.


  "Bu kok makan banyak sekali, ini bayar nya habis berapa duit?"


  "Bayar gimana maksudnya..?" Lora bicara dengan mulut penuh. Sebagian orang jijik melihatnya. Entah apa yang dipikirannya atau baru pertama kali masuk hotel?


  Nayla akan ke TOILET di cegat langsung oleh Saras. "Kamu harus tinggalin mas Bara karna itu milikku kalau hidupmu aman aman saja."


  Nayla menghempaskan tangannya agar terlepas dari cengkramannya. "Kamu harus suruh Bara untuk jauhi saya. Pahamkan kalau anda punya nyali."


  Ughhh


  "Liat saja siapa pemenang di hati mas Bara."


  Nayla tidak meladeni Saras lagi dia masuk kedalam bilik itu. Saras mengambil kesempatan dan dia melihat Bara seorang diri di sana.


  "Sayang...kok kamu seperti ini sama aku. Kalau ada salah maafin aku dong masa kamu mendua." Saras dengan tidak tau malunya duduk di pangkuan Bara. Dia tidak malu dengan pandangan orang lain.


  Bara mendorongnya dari pangkuan hingga bokongnya mendarat dengan indah di lantai. Saras dia tidak menyangka akan di perlakukan seperti ini di depan umum dan betapa malunya dia jadi tontonan orang.


  "Maaf saya sudah bilang memiliki calon istri jangan ganggu saya lagi dan silakan pergi dari sini. Silakan bawa ibumu dan makanannya saya yang akan bayar."


  Saras tidak percaya jika barang barang mewah yang di pilih kemarin bukan untuknya, dia bersumpah akan merebut semuanya dari Nayla. Dia bangkit dan mulai mencari ibunya yang pergi entah kemana.


"Ibu kemana sih..."runtuk Saras, ibunya tertidur di sofa lobi mungkin akibat kekenyangan.

__ADS_1


  "Bu... ibu...bangun bu..."


Saras membangunkan ibunya yang tengah tertidur di sofa hotel. Malunya di liatin orang orang apa lagi ibunya ngorok dengan kencang.


Saras pulang kerumahnya dia memikirkan cara untuk menyingkirkan Nayla, menurutnya dia lebih pantas itu dirinya yang akan bersanding dengan Bara. Dia memikirkan segala ide jahat yang akan di lakukannya.


Sementara ibu Lora hanya tersenyum membayangkan makanan yang dia makan di hotel. Ternyata enak juga jadi orang kaya. "Saras kamu kok gak di lamar, ibu tunggu tunggu kok gak ada ya katanya calon suamimu orang kaya ko malah gak ada ya."


"Bu sabar napa. Saya lagi pusing bu jangan banyak tanya dulu, ibu sadar gak sih tadi itu ibu bikin malu saya, masa tidur di sofa."


"Loh kan tidak di larang. Besok kesana lagi ya, makanannya enak enak semua." Ibunya malah berkata tampa dosa dia mikirnya mungkin itu gratisan padahal makanan yang ada semua berkisar jutaan.


Saras hanya mendengkus kesal karna ibunya memintanya untuk kesana esok hari, padahal dirinya harus kembali bekerja.


"Bu Saras besok masuk kerja, besok juga banyak meeting di luar, kesana nya lain kali saja."


Saras menyesal telah membawa ibunya di tempat mewah itu.


Ke esokan paginya Saras siap siap untuk berangkat ke kantor. Apa lagi hari ini meeting lagi dengan Bara ini kesempatan baginya. Tepat jam 10:10 pagi sudah berada di sebuah hotel tempat mereka akan diadakan meeting. Saras sengaja tidak membawa sekertarisnya dia fikir dalam ruangan kali ini hanya berdua dengan Bara saja.


"Ba.... ra... "


Sapa Saras putus putus saking gugupnya dia kira hanya berdua saja padahal ada saingannya ada dalam ruangan ini.


"Maaf pak Bara sebaiknya yang tidak berkepentingan silakan di suruh keluar karna itu mengganggu kosentrasi saya." Pinta Saras berharap Bara akan mengikuti perintahnya tapi malah tak di indahkan.


"Bu Saras silakan duduk. Disini tidak ada orang yang tidak penting. Mereka berdua sama pentingnya hanya beda tugas saja. Kecuali kamu menganggap mereka sainganmu."


Saras mengepal tangannya erat di bawah meja. Dia tidak menyangka Bara maju satu langkah dalam permainan ini. Padahal tadi sudah memesan minuman dan khusus untuk Bara tapi malah itu tak berlaku sekarang.


Saras menunduk malu atau marah hanya tuhan yang tau soalnya hanya dirinya yang tau.

__ADS_1


"Pak Bara saya sudah pesan minuman untuk anda. Sebaiknya minum dulu sebelum mulai meetingnya."


Ternyata Saras belum menyerah walaupun Bara menunjukan penolakan tapi itu membuatnya makin semangat.


Bara hanya tersenyum. Dia tidak ingin membuang buang waktu meetingnya dia mulai tampa persetujuan Saras. "Pak Bara anda harus profesional bukan begini caranya." Tegur Saras tak terimah.


Bara langsung diam walaupun dia sangat marah dengan perilaku Saras. Dia tidak menyangka oerusahaan mempekerjakan orang semacam Saras.


Minuman sudah berada di depan Bara. "Ayo minum mas di jamin langsung segar."


Nayla bangkit langsung membanting gelas tersebut.


Prang.....


"Mohon maaf bu Saras anda sangat tidak profesional dalam bekerja. Kembali ke kantormu tunggu pemecatan dari atasan kamu."


Nayla kali ini berdiri dia tau apa yang ada dalam gelas itu. Berisi obat kuat, sehingga dia menghancurkan minuman itu.


"Ehhh apa apaan kamu. Liat mas dia tak punya adab dan sopan santun. Peringatkan dia mas bahwa saya ini orang berpengaruh gajinya saja tak cukup sebanding denganku."


Saras meminta pembelaan tapi bukannya pembelaan malah berupa ancaman kedidukannya di kantor.


"Ingat Saras saya tidak mau bekerja sama lagi dengan anda. Saya batalin apa pun dan bentuk apa pun saya sudah tidak ingin lagi bekerja sama."


Bara langsung meninggalkan ruangan tersebut. Dia tidak nyaman jika bertemu lagi dengan wanita bersikap seperti Saras. Nayla hanya diam dia tidak mau memulai pembincaraan lebih awal.


Saras semakin frustasi jika saja kecerobahannya ini tidak di lakukan mungkin bisa menyelamatkan karirnya sekarang dia di hadapkan dua pilihan mengundurkan diri atau di turunkan jabatannya karna di kantor pun sudah hancur namanya karna ketahuan selingkuh dengan suami orang mereka kerja di tempat yang sama. Hanya saja dia beri kesempatan yang terakhir. Dia harus menghandle proyek. Tapi kali ini gagal.


Arrgghhhh


"Awas...! Saja kalian saya akan menghancurkan kalian sehancur hancurnya. Dia sudah kalut saat ini untuk kembali ke kantor pun dia tidak punya nyali.

__ADS_1


Sesakit ini kalau mencintai seorang diri.


 


__ADS_2