
"Maass...." rengek Nita saat ini tangannya di cengkram sama Nayla.
"Apa...! Mas mas emang kamu siapa mengadu sama calon suamiku. Dasar aneh."
"Kan baru calon kita itu sama saya juga calon istrinya karna saya di jodohkan dengannya."
Mereka adu mulut. Dari sini bisa di lihat Nayla semakin punya power, dia tidak ingin di tindas lagi. Lisa hanya jadi penonton dari balkon dia ingin tau seperti apa dua wanita itu. Siapa kah yang akan di jadikan menantu. Tidak ada yang bisa menebak jalan fikirannya saat ini.
"Ingat baik baik yah. Kami itu pilihan kedua orang tua kami. Jadi kamu harus tau diri, kalau miskin, miskin aja kali jangan gatal sama cogan yang banyak uangnya."
Nita sengaja menjatuhkan mental lawannya agar terlihat dialah pemenangnya. Dia yakin saingannya kali ini tidak ada apa apanya.
"Iya. Tapi saya gak salah dengar ya. Upsss kamu yah yang gak kenal saya, kamu kemana aja sih..." ledek Nayla.
"Ehhh jendes sadar diri dong ya. Masa mau saingan sama anak sya yang jelas kalah jauhlah sama kamu. Liat body anak ku langsing, montok siapa sih yang tidak suka."
Rita ikut berdebat tapi gak di tanggepin sama Nayla. Dia masuk dalam mobil dan mengajak Bara untuk pergi dari sana.
"Sayang ayo jalan..." mobil Bara keluar dari pekarangan rumah meninggslkan dua wanita yang sibuk caper.
"Ihhhh... ibu ngapain sih keluar dari mobil segala. Akhirnya kita di tinggalkan kan." Nita menyalahkan ibunya karna mereka di tinggalkan. Suka tak suka pulang harus naik taxi sementara rumah itu sudah terkunci jadi gak mungkin mereka masuk kembali dalam rumah.
"Kok kamu nyalahin ibu sih. Kan tadi saya hanya datang membelamu tapi si blagu itu. Gara gara dia juga kan di tnggalkan."
Mereka pulang dengan kesal komat kamit yang membuat supir kebingungan. "Maaf bu ini rumahnya sesuai titik kan."
"Aduhhh pak jalan saja. Ikuti saja maps nya.!" Bentak Rita. Supir taxi hanya mengangguk dalam pikirannya saat ini mungkin orang orang ini main dukun di kuburan. Soalnya titiknya di kuburan umum.
Supir taxinya sibuk dengan dua orang yang duduk di belakang kemudi dari penampakan keduanya saja sudah horor.
__ADS_1
"Apa manusia yang duduk di dalam mobil atau hantu?"
Guman pak sopir. Dia takut takut dengan keadaan sudah masuk gang gang sempit dan sepih. Sementara dua lainnya dalam mobil sudah tertidur.
Sopir taxi semakin was was mungkin saja yang di dalam mobil ini komplotan perampok. Akhirnya pak sopir dia baca doa kesalamatan semakin sepih semakin besar suaranya baca doa.
Tampa sadar bukan lagi doa yang dia ucapkan melainkan dia adzan. Semakin mendekati pemakaman umum semakin kencang suaranya.
Allahu akbar....
Allahu akbar....
Sampai akhirnya bu rita terbangun dan dia tidak menyadari bahwa dia sekarang berada di gerbang pemakaman umum.
"Masih lama mas, ini dimana kok hutan semua ini pak." Bu Rita sudah ketakutan dia sudah keringat dingin. Dia ingin berteriak tapi lidahnya mendadak keluh. Suaranya mendadak hilang.
Guman sopir taxi tersebut, "ampuni kami pak jangan bunuh kami, kami belum menikah ya allah lindungi hamba." Rita berdoa sambil histeris. Membuat sopir taxi tersebut kebingungan.
"Bu ngapain ke kuburan malam malam begini. Mau pesugihan ya..?"
"Loh kekuburan. Kami tidak ingin ke kuburan mau pulang kerumah."
"Lah ini titik lokasinya di sini bu. Lihat bu kalau tidak percaya." Sopir itu menunjukan bahwa titiknya ada di pemakaman umum.
"Aduh pak bu sudah sudah kan gampang bapak tinggal pulang aja dari sini. Alamat rumah saya perumahan Ss." Sopir taxi tersebut merasa di permainkan.
"Emang dirimu siapa sehingga dengan gampangnya anda berkata seperti itu. Ini jauh sekali lokasinya bu dan rumah ibu juga jauh dari sini.!" Bentak supir taxi itu.
Nita merasa geram tapi dia juga takut. Setelah mengecek ponselnya. Benar dia memberikan alamat yang salah tadi. "Aduhh... kok bisa ya..." guman Nita seorang diri.
__ADS_1
Setelah terjadi perdebatan sengit berujung mereka di tinggalkan di pemakaman itu dan terkenal angker.
Sopir taxi itu merasa di permainkan, masa iya orderannya di kuburan malah pura pura amesia. "Hedeww ada ada saja kelakuan orang zaman sekarang."
"Bu gimana kita pulangnya malah ini hutan pula." Rengek Nita.
"Nita kamu yang pesan tadi ngapain kamu kasih alamat di sini, malah nyalahin orang lain pula."
Mau tak mau mereka harus jalan kaki sampai jalan raya. Mereka order taxi tapi slalu di batalin karna memang banyak korban di sini pada malam hari. Perampokan atau para pereman. Semoga tidak terendus oleh para preman itu.
Sepanjang jalan yang sepih mereka diam tampa suara, kendaraan lewat mereka bersembunyi di balik semak semak.
Ke esokan harinya Nayla menjalani aktifitasnya seperti biasa. Di sepanjang jalan fikirannya di hantui tentang statusnya. Dia tidak mengerti apa kah ini keputusan yang salah sehingga banyak yang menghujat statusnya.
"Apa salah kalau menyandang status janda. Dimana letak salahnya?" Pertanyaan itu meluncur dengan indah. Tapi di jawab sendiri juga karna memang dia seorang diri dalam mobil tidak ada temannya.
"Iya karna janda itu paling banyak yang jadi penggoda entah itu dengan suami orang atau pun yang lain lain. Tapi kan tidak semua janda akan seperti itu."
Siang hari di toko ini banyak pembeli karna sudah mau dekat musim bikin bikin kue. Atau toko toko yang jualan kue kering atau yang lain lainnya slalu belanja di tokonya. Omset perbulannya tak tanggung tanggung.
Andaikan dia belum bercerai mungkin akan ada kerugian karna keluarga mantan suaminya mental gratisan. Siang ini ada salah satu wanita yang memperhatikan gerak gerik Nayla. Sambil belanja sambil ngelirik lirik.
Bahkan dia tidak tau kalau di dalam toko ini ada CCTV yah memang gak ketahuan karna dia seperti balon lampu pada umumnya.
Kalau di liat sekilas memang itu seperti lampu biasa. Dia mengambil beberapa barang yang di kasih masuk dalam pakaiannya. "Enak saja serakah sekali wanita itu kerja keras suamiku dia makan sendiri, dia berdandan menor supayah tidak di bilang kismin padahal aslinya.
Dia masih menjalani aksinya menjadi wanita panggilan sementara suaminya bekerja di bengkel di dekat rumah mereka. Di gaji perminggu. Istri glamor suami bau oli itulah yang terjadi.
Mereka tidak punya anak, sementara ibu mertuanya menyuruh anaknya menikah lagi. Dia ingin skali gendong cucu tapi tak di beri. Dia tidak mengerti ekonomi anaknya tidak stabil malah mereka slalu mengutang di warung sembako untuk makan sehari hari.
__ADS_1