
Sesaat keributan di toko sudah teratasi tiga pengacau itu sudah meninggalkan toko tersebut. Bara heran dengan Edi yang tak pernah berubah...
Dia masuk dalam toko sambil tersenyum... "hallo calon istriku..."
"Ciee...... ohhhooi..... ada yang mau gercep kepelaminan ini...." ledek karyawannya, yang bikin Nayla makin merona pipinya.
"Ihhh... mas... apaan sih malu tau..."
Nayla monyong, "ihhh ni boca minta di lahap itu bibir..."
Bara berlalu dari hadapan Nayla tak mungkin lama lama juga kan di situ, takutnya terbawa suasana. Bara memacu mobilnya pulang kerumah karna sudah di telponin sama ibunya.
Sesampainya di rumah di sambut dua badut yang menjelma jadi kunti. Gimana tidak mereka sama skali tidak memiliki sopan santun dan juga make up tebal bangat badut or kunti keduanya lah...
Bara melepas pelukan dua penamapakan kunti di depannya. Entah lah kok muka mereka putih sekali kaya kunti gitu. Pake tepung kali bedaknya.
"Mas saya kangen loh.. kamu kangen nggak sama aku..."
Bara melepas rangkulan ibu dan anak itu lalu pergi masuk kekamarnya. "Kenapa sih ibu suka sekali manusia norak kaya mereka.."
Bara hanya diam dalam kamarnya tidak memperdulikan ibunya. Menurutnya jika hanya melihat dua cacing kepanasan mendingan tidur, menghilangkan rasa lelah..
Lisa menggedor kamar anaknya tapi tidak ada sahutan, sebenarnya agak risih dengan kelakuan anak dan sahabatnya itu, mereka datang di rumah nya dengan siap dilamar sementara anaknya memiliki wanita pilihannya sendiri.
Lisa mulai melihat berbagai sudut pandang. Dia melihat anaknya bahagia dengan pilihannya dan setelah menyuruh orang lain untuk menyelidiki calon istri anaknya ternyata punya toko, rumah dan kendaraan sendiri, itu artinya dia bukan wanita sembarangan.
"Jeng mana mas Bara...?" Suara Rita lembut tapi terkesan genit bak ABG yang baru tumbuh.
Lisa geleng geleng kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Gak kebayang kalau anaknya menikah sama anaknya bisa bisa minta di nafkahi juga.
"Anak saya lagi tidak mau diganggu jadi pulang saja.."
__ADS_1
"Loh jeng kamu usir saya. Jangan nolak rezeki jeng ingat kami dari keluarga baik baik jadi jeng tidak rugi."
Nita tersenyum penuh arti lari ke lantai dua kamar Bara. Dia menggedor gedor pintu itu semakin keras dan berhasil membuat orangnya semakin kesal..
"Mass.... Bara buka pintunya. Nita mau pipis nih tapi kamar mandi di bawah masi penuh.." teriak Nita dari luar sementara dalam kamar sudah mencak mencak sedari tadi karna jam istrahatnya terganggu...
"Kalau kalian mau ribut jangan dirumah saya." Nita tak punya sopan santun dan terlalu agresif yang membuat orang lain muak dengan tingkahnya.
Lisa pun menyuruh mereka pergi. Dia tidak mau jadi orang tua egois menurutnya sudah saat anaknya bahagia tak ada alasan untuk menolaknya.
Malam pun tiba dua orang ibu dan anak makan dalam keheningan hanya dentingan sendok yang terdengar. Tak ada yang memulai untuk bicara masing masing tenggelam dalam fikiran masing masing.
"Nak kapan kamu mau lamar perempuan yang kamu kenal kan sama ibu tempo hari."
Bara terbengong di tempatnya, harud bahagia atau sebaliknya dia tau jika ibunya tak memberinya restu tapi dia ngotot. Tapi saat ini malah di tanya kapan akan melamarnya..
"Yesss
"Ibu memberiku restu?..."
Bara bertanya dengan polosnya yang membuat Lisa terbahak bahak karna anaknya melebihi anak kecil yang baru lahir. "Iya ya ibu memberikan restu dengan satu syarat tak ada kata cerai dalam rumah tangga kalian.."
Bara tak bisa menyembunyikan senyumbya yang jarang dinikmati setiap orang. Siapa yang menolak pesonanya pahatan wajahnya sangat mendominasi.
Pagi ini sangat cerah Bara sangat bersemangat untuk menemui pujaan hatinya untuk memberitahu kalau ibunya sudah merestuinya. Ternyata restu orang tua itu imun untuk pasangan lagi yang kasmaran.
"Ibu masak apa saya mau sarapan...?"
Lisa tersenyum telah berhasil mengembalikan mood anaknya dulu boro boro minta sarapan ibunya diajak bicara pun jarang....
Bara sarapan di temani ibunya. Sambil bercerita tentang masa depan jika mereka sudah menika.
__ADS_1
"Mas.... sayangku..... aku bawain sarapan ini..." tiba tiba ada ulat keket. Yang nongol dan meletakan rantang diatas meja. Langsung duduk di samping Bara. Bara melihat itu serba salah padahal dia sudah menolak tapi anak ini masih aja nekat. Padahal terang terangan dia menolaknya.
"Maaf ya Nita lain kali kamu tidak usah repot repot untuk bawain sarapan karna ada calon istriku yang sudah menyiapkannya." Rasanya percuma kalau menghindar dia sangat nekat bahkan terang terangan.
Nita mendengar hal itu ingin marah, tapi mengingat pesan ibunya tadi pagi akhirnya hanya terdiam sambil menatap nanar ke arah Bara.
"Mas sesulit itukah mencintaiku, kenapa kamu tidak meninggalkan dia dan menikah denganku."
Bara tak mau meladeni ucapannya karna di rasa itu sangat percuma. Yang penting tidak memberinya harapan sementara ibu Lisa kembali ke kamarnya dia sudah jengah melihat kelakuan Nita.
"Awas saja kalian saya akan melakukan apa pun agar kamu jatuh dipelukanku." Lirih Nita.
Nita pulang kerumahnya sambil memikirkan cara untuk membuatnya bertekuk lutut dia akan meminta saran dari ibunya.
Bara tidak ke kantor karna sudah ada yang hendel di sana. Dia akan bertemu masa depannya. Di sempanjang jalan bibirnya tak henti untuk mengukir senyum yang semua orang tidak akan lihat.
Sesampainya di toko dia melihat banyak pembeli jadi lagi sibuk sibuknya. Bara menunggu sampai pembeli tidak ada mengajak nya untuk bicara berdua saja.
"Mas kok datang di sini gak ke kantor mas...?"
Bara tersenyum penuh arti dia berusaha menahan senyum karna di depannya memasang wajah polosnya.
Mereka di saat ini berada di cafe dekat dengan toko Nayla. Mereka duduk di pojokan agar privasi mereka tidak ada yang dengar dan leluasa.
Setelah memesan minuman mereka bicara hal yang serius. "Ibu sudah memberi kita restu kalau perlu besok kita jalan jalan ke mall bersama agar kamu dan ibu semakin akrab."
Nayla mencerna kata kata itu. Secepat itu dia mendapatkan restu. Dia tau ini hal yang tak mungkin tapi bagi allah itu tak ada kata mungkin. Jadi yang terjadi berjalan sesuai kehendaknya.
"Apa alasan ibumu memberi kita restu. Bukannya kemarin ada Nita yang di jodohkan denganmu. Jujur aku sudah tak mengharapkanmu karna saya tak mau sakit hati untuk kesekian kalinya."
Jawaban Nayla mampu menghunus jantungnya karna wanita yang dia kenalnya pediam, ramah ternyata memiliki prinsip yang kuat.
__ADS_1
Bara tidak tau harus ngapain sejujurnya dulu tak menginginkan pernikahan diantara mereka, karna Nayla sudah milik orang lain tapi ternyata dia salah setelah berpisah dengan suaminya semakin besar untuk menikahinya.