
Yah senangnya akhirnya mas Bara akan memberikan kejutan hari esok. Saya tau dia juga mencintaiku bukan wanita lain, hanya saja dia tidak romantis seperti pria pada umumnya.
Tapi saya suka dia royal apa pun yang kupilih dia suka, besok harus pakaian terbaik ku untuk saat ini biarlah saya pura pura tidak tau saja.
Mungkin besok dia akan melamarku di depan keluarganya pas di hari ulang tahunku. Saya membayangkan nya sja aku sudah kejang kejang duluan. Aku gak nyangka kalau di lamar sama laki laki pujaanku..
Saya tidak harus beritahu ibuku yang di kampung, kalau ada laki laki yang akan melamarku pas di hari ulang tahunku. Pasti ibu akan senang apa lagi kalau dia tau mas Bara orang kaya raya.
Setelah kami beli perhiasan mas bara membawaku di sebuah hotel dan memintaku untuk memilih tempat yang menurutku romantis, jelas dong saya pilih dan minta mejanya di dekor dengan tema diner romantis.
Setelah itu Bara mengantarku pulang tampa bicara apa pun. Ya ampun ni orang kayak kanebo kering
Gak ada apa basa basinya sedikit pun.
"Nggak mampir dulu mas...?" Tanya ku mencairkan suasana saat ini berharap dia bisa mampir ke rumah aku yang sederhana ini. Walaupun rumah ini sudah terbilang elite tapi menurutku ini masih kurang mewah. Jabatanku di tempat kerja hanya sebagai wakil direktur keuangan.
Dia langsung meleset begitu saja dengan laju mobil kecepatan tinggi.
Mobil mas Bara tak terlihat lagi dipandanganku, semenjak di mall tadi belum ada makanan yang masuk dalam perutku. Keasyikan cari tempat tempat yang romantis. Entahlah harus senang atau sedih sebab sikapnya terlalu dingin.
"Loh ibu kapan datangnya. Kenapa ibu gak bilang bilang kalau mau ke jakarta."
"Ibu kangen nak makannya saya kasih kejutan karna besok juga ulang tahunmu."
Akhirnya ibu datang sendiri juga. Saya hanya punya ibu dan tidak memiliki saudarah sementara Ayahku entah masih hidup atau sudah meninggal, karna sedari kecil saya tidak pernah bertemu dengan sosok ayah.
Saya menceritakan perihal kejutan sama ibu mulai dengan keromantisan Bara dan juga kekayaan Bara. "Bu kalau Saras menikah ibu sudah merestui belum?"
__ADS_1
"Iya dong ibu restui sayang masa anak ibu gak nikah nikah apa lagi umur kamu sudah semakin tua. Ibu juga pengen gendong cucu."
"Iya bu orangnya gagah dan dia orang kaya dan memiliki usaha kuliner dan dia juga kaya raya apa lagi dengar dengar dia itu anak tunggal."
Ibu sangat antusias dan katanya besok akan perawatan ke salon untuk bertemu dengan calon menantunya. Ibu seantusias itu kah.
Pagi harinya ibu sudah di sibukan dengan sarapan walaupun sudah ada pembantu dalam rumah ini jika ada ibu, ibu slalu yang masak. Kebetulan saya juga sudah lapar. "Ibu wangi banget nasi gorengnya, bikin laper saja."
Kebetulan ini masih weekend jadi saya akan nyalon bersama ibu dan shoping dan akan menyiapkan keberanian diri di lamar sama mas Bara...
Selesai sarapan saya sama mama akan ke mall untuk shoping sekalian mau beli make up, pakaian yang couple sama ibu.
"Nak sudah lama ibu gak ke mall.." ibu memperhatikan sekelilingnya. Ibu memang baru kali ini saya bawa ke mall. Maklum di kampung gak ada mall jadi ibu rada kampungan.
"Ibu sibuk memilih tas, sepatu, baju dan lain lain bak ABG, terkadang saya heran saya yang akan di lamar kok ibu yang antusias.
Setelah seharian penuh sibuk shoping dan nyalon. Akhirnya saya siap siap untuk menunggu kabar dari mas Bara. Tapi sudah berjam jam menunggu tidak ada kabar satu pun dari mas Bara. Bahkan ibu sudah dari tadi make up.
Ibu memberondongku dengan segudang pertanyaan saya tidak tau harus jawab yang mana?. Seandainya saya memastikan terlebih dahulu mungkin saya tidak uring uringan seperti ini.
Saya telpon berkali kali pun tidak ada respon bahkan. Saya telpon sudah tiga puluh kali tapi gak ada respon sama sekali. Atau dia hanya bercanda kemarin, masa sih bercanda itu nyata kalau di bayar.
Saya langsung saja menuju lokasi mungkin dia akan menunggu di sana, maklum kan kanebo kering kaku. Saya menyiapkan tisu siapa tau kan saya menangis alat alat make up saya bawa semua. Malu dong kalau make upnya luntur.
Hehhe malu sama calon mama mertua, nanti mereka bawa untuk saminganku. "Kamu ngapain bawa koper besar emang kamu mau pindahan?"
Pertanyaan ibu membuyarkan lamunanku. Emang agak aneh sih kan hanya diner kok bawa koper.. bawa saja lah nanti taroh dalam mobil saja kalau di butuhkan langsung saja angkat.
__ADS_1
Stengah jam perjalanan saya sudah sampai di hotel yang kemarin. "Ini pasti hotel mahal kan nak? Mana kamar ibu?"
Astaga ini orang tua kampungan banget, bisa bikin saya malu ni di depan camer. "Bu jangan malu maluin lah kita gak ke kamar. Kita kelantai dua saja karna restorannya ada di lantai dua. Ibu celinguk celunguk dari tadi.
"Bu nyari siapa bu? Jangan gitu nanti di liatin orang kan malu bu.?"
Sesampainya di lantai dua saya melihat mas Bara dengan wanita kemarin, kok mereka romantis sekali. Wanita itu perpakaian senada dengan mas Bara. Dan perhiasan yang saya pilih kemarin wanita itu yang pakai.
"Mas.... siapa dia?
Mas Bara hanya tersenyum sangat manis tapi senyuman itu menyayatku berkeping keping.
"Perkenalkan ini calon istri namanya Nayla."
Wanita itu mengajak bersalaman tapi tak kuindahkan. Dia tersenyum sangat manis bahkan mengalahkan senyumanku. "Apakah kamu bahagia telah memilik mas Bara.."
"Mana nak calon suamimu?" Pertanyaan ibu sedikit membuatku malu entah apa yang saya harus jawab sementara orang yang ceritakan bersama wanita lain. Takut ibu bikin keributan di sini.
"Jadi ini bukan milikku mas..?"
Kutunjuk perhiasan mahal yang di pakai wanita yang bernama Nayla itu.
"Maaf Saras memang itu bukan untukmu. Kemarin saya hanya meminta bantuanmu karna saya tidak tau apa kesukaan wanita." Jawabnya tampa dosa.
Ku lihat ibu sudah mengambil makanan di sana dan benar benar membuatku malu. Ibu mengambil sekaligus dua piring entahlah apa yang ada di otaknya. Anaknya sedang bersedih kok malah mikirin isi perutnya.
"Mas saya kira kamu mencintaiku ternyata kamu sama sekali tidak mengerti perasaanku."
__ADS_1
Saya terkesan mengejar laki laki tapi bagaimana pun saya harus menyampaikan perasaan ini agar dia luluh...
Wanita itu tak ada kata satupun hanya menampiljan senyum terbaiknya yang mampu menghipnotis siapa saja.