AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR

AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR
BAB.36 Bukan Sembarang Jendes


__ADS_3

"Sayang kalau kamu di rumah ibu jangan tersinggung ya." Bara takut sebenarnya jika ibunya melakukan sesuatu, dia hanya ingin wanita di Sampingnya saat ini adalah wanita satu satunya. Dia tidak ingin yang kedua dan selanjutnya.


  Sementara sahabatnya sudah datang. Untuk makan malam bersama. "Hay jeng ayo masuk...masuk.... ini sicantik udah senyum senyum saja."


Lisa menyambut anak dan sahabatnya itu Ibu Rita sama anaknya Nita. Nita adalah kandidat yang akan di jodohkan dengan anaknya Bara.


  "Bara mana tante?" Tanya Nita sudah satu jam tapi Bara belum juga muncul.


"Iya ya Bara kok gak keliatan ya..?"


"Bara lagi jemput seseorang." Jawab Lisa dengan ambigu.


  "Assalamualaikum...."


  "Ehhh nak Bara panjang umur baru diomongin dah muncul..." sapa bu Rita dengan antusias seandainya dia masih gadis, dia menyodorkan dirinya tuk di jadikan istri.


  Bara hanya tersenyum kecut, ternayata ibunya memang berniat untuk memisahkannya dengan Nayla. Dia menngeser tubuhnya agar Nayla keliatan.


  Bu Rita tercengang dia melirik bu Lisa untuk meminta penjelasan, Nita ibarat melihat hantu, saingannya tampak sempurna bak bidadari yang turun dari surga.


  Bahkan dirinya minder. Dia baru melihat yang berkarisma. Hehhe memang kalau orang yang berkarisma pasti jadi pusat perhatian seperti saat ini Nalyla menjadi pusat perhatian.


  "Salamualaikum..."


Salam dari Nayla membuyarkan lamunan mereka. Nayla duduk di samping Bara, Bara menunjukan bahwa wanita yang duduk di sampingnya kini calon istrinya dia tidak mau basa basi hanya mau di mengerti keputusannya.


  "Maaf tante maaf Nita saya di sini sudah punya calon istri dan namanya Nayla." Nita meneguk silva dengan susah payah karna baru kali ini laki laki berani menolaknya secara terang terangan.


  "Tapi mas kita akan di jodohkan sama orang tua kita masing masing. Kamu tidak mengerti perasaan orang tuamu sendiri." Nita berusaha untuk menarik simpatik dari orang tua Bara yaitu bu Lisa.

__ADS_1


  Tapi respon Bara di luar dugaan. Tidak ada yang menyangka jika hatinya sekeras batu. Tidak ada yang bisa menebak yang ada dalam pikirannya.


  "Saya yang akan menikah jadi saya juga yang menentukan dengan siapa saya akan menikah. Saya tidak mau berangan angan terlalu tinggi soal wanita, wanita makhluk bumi yang paling sempurna dan punya kekurangannya. Jadi jangan memaksakan perjodohan ini."


  Lisa tercengang dengan jawaban anaknya. Sejak kapan anaknya bisa bicara selancar itu. Tumben biasanya juga irit bicara apa apa serba bisa sendiri.


  "Nak. Kamu yakin akan menikahi wanita pilihanmu dia itu seorang jendes. Gak takut kamu di buli sama orang orang di luar sana. Apa lagi kamu sekaranng sudah mapan, takutnya dia hanya numpang dan ingin hidup mewah hanya mau hartamu saja."


  Lisa bicara terang terangan tidak memikirkan perasaan Nayla yang hanya jadi penyimak perdebatan diantara mereka.


"Dia bukan sembarang jendes dia berbeda dengan jendes di luar sana. Dia juga punya harta dan dia memiliki segalanya jadi jangan salah artikan statusnya. Tidak semua jendes itu buruk tergantung pembawaan hidup masing masing.."


Nayla senyum senyum sendiri, satu hal yang dia tau dari Bara ternyata dia slalu membelanya tampa harus diminta. Cocok juga di jadiin suami. Walaupun semua orang dalam ruangan ini ingin menjatuhkan mentalnya habis habisan tapi Bara membelanya.


Di meja makan hanya ada dentingan sendok yang terdengar. Bara sengaja menyuap Nayla di depan semua orang, yang membuat Nita kebakaran jenggot. Dia sangat mencintai Bara tapi apa yang dia lihat tak sesuai keinginannya.


  Ekhhemmm


  "Aawww sakit.... mas kamu tega sih nendang kaki aku." Rintihan Nita sukses membuat Nayla naik pitam.


"Awww cakit..." ledek Nayla yang di tanggapi tawa semua orang. Lisa menyadari satu hal dari Nayla pendiam sopan tapi sedikit bar bar. Sebenarnya Lisa suka dengan keberadaan Nayla dalam rumah ini tapi gengsi karna status Nayla seorang jendes.


  Selesai sudah acara makan malamnya. Nita sengaja pura pura sakit kepala supaya di suruh nginep.


"Aduh bu kepalaku pusing nih..."


Rita sigap menanggapi kepura pura an anaknya itu. "Aduh gimana ini jeng pasti gara gara jendes ini makannya dia kumat asam lambunya."


Nayla tidak mau terus di injak hanya karna status jenjesnya akhirnya buka suara. "Ibu jangan bawa bawa status saya ya. Saya memang jendes tapi saya tidak pernah ganggu hidup anda, lagian status saya tidak merugikan hidup anda kan." Jawaban menohok Nayla mendapat lirikan sinis dari Nita tapi hanya di balas sebyum mengejek dari Nayla.

__ADS_1


  "Oiii.... ibu dan anak sama sama jago ekting ya.. upss.... maaf ya mulutku asal comot soalnya."


Nita menggeram wajahnya merah padam. Dia meruntuki kebodohannya kenapa juga ia pura pura sakit. Dia hanya ingin menyingkirkan wanita itu tapi seolah dia sendiri yang tersingkirkan.


Nita memutar otak untuk menarik perhatian Bara. Dia menggoyangkan tubuhnya untuk menarik perhatian Bara. Bara hanya geleng geleng kepalah.


"Maaf bu Rita sebaiknya Nita bawa pulang saja dia juga lagi sakit kan.?"


"Nak Bara bisa kan antar kami, soalnya Nita suka kumat ke gini jadi was was kalau saya pulang sendiri."


Bu Rita dengan suara mendayu dayu. Ni yang suka bara kayaknya keduanya jangan sampai viral di perebutin ibu dan anak.


"Bole sekalian saya antar calon istri saya juga."


"Kok ajak dia sih Bara. Kan dia bisa naik taxi pulang sendiri saja." Rita menolak jika semobil dengan Nayla. Jelas lah dia tidak leluasa bicara.


"Maaf ya bu dia calon istri saya, saya yang harus antar pulang. Jika ibu mau naik Taxi saja kan. Atau saya yang pesan kan taxi."


Rita menggeleng pasrah sementara lisa sedari tadi masuk kamarnya. Entahlah dua wanita yang berbeda usia itu semakin aneh tingkahnya.


Rita akhirnya setuju satu mobil dengan Nayla daripada harus naik taxi. Mereka keluar menuju mobil. Nita langsung duduk di depan di samping kemudi. "Mas Bara saya harus diduk di depan karna saya lagi sakit. Nayla kamu bisa ngalah kan."


"Cihhh dasar bocah edan..." guman Nayla yang sengaja di keraskan.


"Nita keluar duduk di belakang. Di sampingku harus calon istriku tidak untuk yang lain." Bara sangat tegas bahkan dia tak ingin melukai perasan seseorang yang sangat di cintainya.


"Mas . Saya pengen di depan.." rengek Nita kek anak kecil dengan tidak tau malunya dia memeluk lengan Bara. Nayla yang tidak suka dengan pemandangan itu menarik Nita keluar dari mobil..


"Ihhh lepasin apa apaan sih kamu. Kenapa iri emang ingat ya kamu itu jendes kala saing dengan kamu."

__ADS_1


"Woiik... mimpi anda ketinggian yang bersaing dengan bocah ingusan ke kau siapa. Dengar baik baik jika milikku kau ambil ku jadikan kau santapan buaya."


"Mas...."


__ADS_2