
Nuri masuk dalam ruanganku dengan gaya anggunnya. "Gimana say...?"
Kami makan dengan lahapnya. Nuri sengaja membeli nasi bungkus yang porsi lumayan banyak, karna kami memiliki ke samaan jika tidak baik baik saja lahap untuk makan.
Selesai makan juga. Alhamdulillah, "guys ayo cepat selesaikan pekerjaanmu saya bawa kamu hiling sebentar."
Saya bingung dengan kata katanya yang ngambang itu. Hiling kemana ini masih siang. Sementara saya di suruh selesaikan pekerjaan lebih cepat.
Jam pulang pun tiba pekerjaan semua rampung mataku teralihkan ke kalender ya ampun ternyata besok itu weekend. Di kantor sabtu minggu kami tidak masuk kerja. Saya keluar dari ruangan ku di sambut dengan manusia kurang seons ini.
"Sayang gimana kerjanya.? Udah selesai kan ayok saya bawa kamu jalan jalan.."k
Semua mata memandang ke arahku dan suamiku yah calon mantan suami gitulah kira kira. Terlalu malas meladeninya akhirnya saya meninggalkannya. Setela itu saya menemui Nuri kami sudah janjian mau ke mall. Kebetulan besok weekend jadi kami hiling dulu.
"Nayla kita pulang kerumah, ada sesuatu yang harus ku bicarakan."
Nuri menoel lenganku agar ku menyetujui apa yang di inginkan Edi. Rasanya malas memanggilnya dengan embel embel jadi cukup memanggilnya dengan sebutan namanya saja.
"Iya pak Edi jika tak keberatan di rumah orang tuamu saja, karna rumahku tak kuizinkan lagi siapa pun yang masuk kedalamnya." Sengaja kutekan kata kata terakhirku agar dia mengerti. Semua sudah saatnya ku tegaskan semua kata kataku.
"Loh itu rumah kita sayang, masa kamu melarangku masuk dalam rumah sendiri."
Rasanya ku sumpal tapi takut dosa juga dia masih berstatus suamiku saat ini. Sepertinya harus segera mengurus percerainaku dengannya. Biar saya menyandang status janda tidak mengapa tak mungkin aku bertahan dengan rasa sakit ini.
Mau tak mau dia menyetujui kami membicarakan ini di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Sesampainya kami di rumah itu di sambut oleh kata kata mutiara dari mulut ibu mertuaku.
"Ehhh.... simandul mau balikan lagi sama anak saya, semoga kamu betah ya jadi istri mandul untuk suamimu."
Mulutnya ngalahin pedasnya bakso marcon level 10. Heran saya liat manusia tidak tau malu, uang selalu saya kirimin anaknya tak pernah kasih nafkah hanya menang burung memiliki dua istri.
"Maaf ibu mertua yang terhormat tapi saya di sini diundang sama anak anda. Jadi tidak salah dong kalau saya datang. Lagian juga saya bawa teman kan, anak anda itu yang gagal move on dari saya."
Kubalas kata kata mertuaku tak kalah menohok. Ngapain jaga perasaan orang lain jika perasaan sendiri saja berantakan.
Keluarlah istri Edi yang bernama Mira itu dengan pakaian seksi dandan seperti ondel ondel alis tebal sebelah bibir ndower wajah belang belang.
Nuri sedari tadi menahan tawanya, agar tidak meledak. Saoalnya rumah ini penghuninya rada rada semua.
"Sayang sudah pulang ya. Ngapain bawa dia kesini lagi sih mas, aku tidak mau loh kalau dia masih jadi istri kmau."
"Gini saja supayah tidak memakan waktu yang lama kita mulai saja. Nayla kamu masih sah jadi istriku jadi sudah kewajibanmu untuk melayaniku, kamu harus setrika pakaianku dan harus mencuci juga sepulang kerja. Istriku lagi hamil jadi saya tidak izinkan dia bekerja membersihkan rumah ini. Apa salahnya kamu ssbagai istri yang tak berguna ikut melayani madumu."
Kata katanya barusan berhasil memancing amarahku. Enak saja dia kiranya saya pembantu mereka.
"Maaf pak Edi yang terhormat, saya bukan pembantu anda dan sebentar lagi kita akan cerai. Jangan sok mengagungkan sampah ketimbang berlian."
"Nayla apa salahnya kamu menjadi istri yang berbakti kepada suamin."
Cihh... najis ini manusia, emang selama ini kurang baktiku sama dia. Heran kadang manusia zaman sekarang makin tua makin o o on.
__ADS_1
"Saya saja tamat s2 tidak wajib melayani suami apa lagi kamu hanya wanita rumahan."
Astaga manusia satu ini benar benar tidak bisa membedakan mana wanita karir dan mana yang rumahan.
Aneh ya dia kemanakan itu ilmunya. Dia tidak lihat pakaian aku seperti apa. Wah wah hebat juga dia cari istri bisa jadi sarjana dengan sekejap.
Lagi lagi Nuri tertawa terpingkal pingkal seolah olah ada yang lucu. "Jangan ngaku ngaku deh mbak sarjana. Tidak ada sarjana modelan kaya kamu." Nuri memberinya kata kata mutiara yang mungkin saja akan bangun dari mimpi indahnya.
Dia meninggalkan kami sambil menghentak hentakan kakinya masuk dalam kamarnya.
Edi hanya diam di tempatnya. "Maaf pak Edi saya tidak bisa menerima tawaran anda. Karna sebentar kagi kita akan bercerai."
Edi mendengar kata cerai keluar dari mulutku membulatkan matanya secara sempurna. Saya pergi dari rumah itu. Di dalam sana sudah ada wanita yang akan menggatikan tugasku sebagai istri. Saya bukan wanita yang mau berbagi dan memungut bekas orang lain.
Setelah jauh kami melangkah sudah mau masuk dalam mobil tiba tiba ada tetangga yang hadang kami. Katanya ada satu rahasia yang harus di katakannya. .
"Mbak Nayla ya. Mvak mampir kerumah ada yang harus kamu ketahui. Saking pebasarannya akhirnya kami mengikuti langkah bu Daian merupakan tetangga pas depan rumah. Sesampainya kami dalam rumahnya sudah di suguhi oleh minuman serta cemilan.
Bu Dian mengutak atik laptop yang ada di depannya saat ini. Rekaman CCTV dan menampakan seorang perenpuan seksi memakai mini dres.
Ada mobil hitam yang menjemputnya tepat jam 12 malam di saat semua orang sudah terlelap. Saya juga tidak tau gimana ceritanya sampai pergi diam diam dari rumah.
Dan pulang jam empat subuh... wao kayaknya ada yang tidak beres ini barang. Saya langsung meminta salinan videonya siapa tau berguna di kemudain hari. Setelah berbasa basi akhirnya kami pulang dulu kerumah untuk ganti pakaian sudah tak nyaman di pakai kalau sudah terlalu lama.
Saat ini kami berada di mall. Kami tidak membeli apa apa hanya cuci mata. Siapa tau liat yang segar segar langsung angkut. Selesai kami mengintari mall akhirnya kami makab di salah satu restoran yang ada dalam mall di kota ini. Kebetulan masakan nya khas indonesia jadi kami bebas memilih makanan.
__ADS_1
"Nayla kamu kapan melaporkan suamimu atau menggugatnya cerai."pertanyaan Nuri ada benarnya tidak mungkin saya biarkan masalah ini larut terlalu lama atau bahkan sampai ku melupakannya.
"Secepatnya Nur. Saya juga malas berumah tangga dengan laki laki itu."jawabku antusias.