
Ke esokan pagi nya saya sudah mulai memantapkan hati agar tidak akan luluh lagi, saya sebenarnya tidak tega untuk melaporkannya karna dia masih memiliki adik, ibu dan istri yang mana tanggung jawab di limpahkan samanya. Dan mereka tidak ada yang bekerja jadi mengharapkan gaji dari mas Edi.
Tapi kesalahannya yang fatal saya harus bertindak tegas supayah dia tak semena mena samaku. Sesampainya di kantor saya langsung menemui sahabatku.
"Hallo Nur, masih ngambek aja.."
"Iya mau apa di sini. Mau bilang kalau kamu mau batalin rencana kamu yang telah kamu susun rapi, atau kamu masih bucin sama dia karna cinta pertama kamu, kalau soal itu kamu silakan keluar dari ruangan saya. Saya malas berteman sama orang yang bucin."
Nuri memang sangat menentang yang namanya perselingkuhan makannya tak heran sekarang menjomblo dan tidak mau lagi mengenal laki laki dalam hidupnya. Dulu dia hampir menikah tapi di hari H pacarnya ketahuan hamilin anak orang, pernikahan mereka seketika batal padahal sudah duduk di meja ijab.
Tidak ada yang salah sebenarnya. Memang hanya aku yang slalu pake perasaan kalau memutuskan sesuatu. Tapi ada baiknya juga jika saya mengakhirinya.
"Nur di sini saya minta di temani keruangan pak Bara. Mau yah saya takut menghadap sendiri kamu tau kan saya orangnya kayak gimana."
Dia menatapku sekilas lalu ber alih pada layar di depannya seola ola ceritaku tak menarik lagi. Akhirnya saya menghadap sendiri ke ruangan pak Bara. Sesampainya di ruangan pak Bara saya mulai menceritakan semua yang terjadi dan ku berikan beberapa bukti.
"Baiklah bu Nayla saya akan proses tapi tidak hari ini. Tapi besok hari ini saya mau menyelidikinya terlebih dahulu."
Saya menyetujuinya karna ini sudah proses maka saya kembali keruangan saya untuk melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Karyawan semua memandang kearahku dengan sinis. Tapi saya abai dengan hal tersebut.
"Bu Nayla punya suami tampan pekerja keras seperti pak Edi bisa bisanya selingkuh sama bos sendiri."
"Kan secara suaminya itu tak kaya kaya amat, mungkin dia cari yang lebih kaya dan lebih hot hot gitu. Mungkin pak Edi letoi."
"Hahahha... iya ya. Tapi kalau pak Edi duda aku mau kali dudanya. Ganteng perhatian pula dari pada si ono tidak tau bersyukur."
Sambil menunjuk ku pake dagunya. Tapi lantaran pekerjaanku sangat numpuk jadi saya mengabaikannya karna tidak mungkin saya memarahi mereka sementara sekarang masih jam kerja.
__ADS_1
Tapi lagi dan lagi masuk dalam ruanganku ada manusia tembok di sini. "Ngapain masih oagi sudah dalam ruangan aku.?"
Dia hanya terkeke kesannya manusia di depan ku ini orang yang tidak tau aturan sama sekali. "Nayla sayang kita kan masih suami istri masa suami di larang masuk di dalam tapi kalau laki laki lain masuk di sini pasti langsung di....."
Plakkk
Tanganku gatal jadi untuk mengobati mulut kotornya cukup satu gamparan saja. Dia memegang pipi kirinya sambil menatapku nyalang.
"Kamu berani mukul suami kamu. Saya laporkan ini ke pak Bara awas saja kamu akan di pecat hari ini juga.!"
Aku mau tertawa saya lihat tingkah suamiku bak laki laki teraniaya dan mau menarik simpati kesemua orang. Setelah mengacam dia pergi meninggalkan ruangan kerjaku.
Di luar ada suara gadu dan membuatku terganggu. Saya keluar dari ruangan di sana ada pak Bara dan mas Edi yang lagi adu jotos. Saya tidak tau bagaimana kronologi yang terjadi yang saya lihat mereka lagi gulat dan di nonton semua karyawan kantor ini.
Astaga bikin malu saja, bisa bisanya berkelahi hanya karna saya. Saya mencoba melerai keduanya karna orang orang di sini hanya merekam tampa harus membantu.
"Maaf pak Bara ada apa ini.?"
Pak Bara hanya menatapku sekilas lalu ber alih ke mas Edi suamiku. "Tanyakan padanya apa yang telah dia lakukan hari ini. Hanya karna ulahnya di kantor kacau pagi ini. Dia tidak datang bekerja tapi datang menyebar fitnah." Sambil menunjuk mas Edi.
Edi hanya menunduk, jadi yang gonjang ganjing tadi semua ulahnya yang menarik simpati orang lain dengan cara menfitnahku.
Setelah pak Bara kembali keruangannya. Saya pun begitu masuk kembali dalam ruanganku karna pekerjaanku jauh lebih penting daripada mengurusi mulut orang lain.
Setelah menyelesaikan pekerjaanku akhirnya saya keluar makan karna mood gak bagus saya pergi sendiri dan ini sudah jam istrahat.
Saya makan di rumah makan padang favorite ku, saya pesan telur dadar sama ayam gulai. Serta menu menu pelengkap lainnya.
__ADS_1
"Hay.... kaka ipar.."
Melani ada di sini. Saya melihat penampilannya dari atas sampai bawah pakaiannya sangat minim bahkan ini sangat seksi tidak biasanya dia berpakaian terbuka seperti ini.
"Melani kamu darimana. Kok pakaian kamu seperti itu dan kamu gak ngampus.."
Dia membuang pandangan ke arah lain dan yang membuatku sesak adalah pekerjaan yang di tekuninya sampai sampai dia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Saya open *O." Sambil menunduk entah apa alasannya telah melakukan ini aku yakin dia anak yang baik baik.
Pesananaku sudah ada dan dia pergi begitu saja dan mungkin malu. Malu karna apa mungkin dia mengakui itu sangatlah sulit bagi dia. Tapi alasannya berhenti kuliah apa kah pekerjaannya saat ini sangat menguntungkan. Entahlah resikonya dia sendiri yang dapat.
Sesampainya di kantor semua mata tertuju ke arahku. "Tega yah fitnah suami menikah tapi dia sendiri yang menggoda bos di kantor ini."
"Iya ya padahal pak Edi orangnya baik bangat dan derwan loh."
Saya berjalan ke arah dua wanita yang sedang berdiri di depan lift tersebut. "Kalian di gaji berapa sama pak Edi untuk menyebarkan berita hoaks itu. Hati hati loh kalau tidak benar kalian bisa di pidana karna pencemaran nama baik."
Mereka saling bertukar pandang. Mereka kira saya lugu mungkin seenak mereka kalau bicara.
"Tapi kenyataannya begitu kan bu Nayla. Kami tidak bicara kalau bu Nayla punya uang banyak."
Waoooo....
"Hati hati loh terima suapan bisa juga di kenakan denda." Berlalu sambil ku bergidik ngeri.. supaya mereka tau saya pendiam tapi kalau mukutku sudah bicara kalah bakso mercon.
Lihat saja sampai mana kamu bisa menyuap mereka ku pastikan kamu betada di balik jeruji besi. Apakah adik kesayangan kamu akan sukses seeprti kakanya yang suka membual dan main perempuan dan adik nya pula sama saja dengan kakanya.
__ADS_1
Tak perlu membalas keburukan mereka cukup jadi penonton setia. Dalam semua episode kehidupan mereka. Tak mungkin saya ikut suap orang untuk membersihkan nama baik ku. Biarlah hukum alam yang bekerja sesuai perbuatan mereka.