AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR

AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR
BAB.23 Menelan Pil Pahit


__ADS_3

  Terkadang kita mencintai seseorang butuh pengorbanan. Tapi itu tak berarti apa apa untuk orang yang kurang bersyukur.


  "Bu Nayla saya sudah ada jemputan. Ibu mau pulang sekarang?"


Nayla hanya mengangguk berlalu dari hadapan karyawannya itu, yang menyisakan tanda tanya di benak Rina."


  "Bu bos kenapa ya? Apa benar itu mas Edi masih sah suaminya atau mantan suami.


Kalau itu masih suami tidak mungkin di jadiin karyawan. Masa sampai kasbon?"


  Rina menerka nerka tapi dia memutuskan untuk bertanya langsung sama mas Edi menurutnya ada yang ganjil. Setelah mengunci toko Rina langsung pulang karna suaminya sudah dari tadi menunggu.


Sepanjang jalan Nayla hanya menerka nerka kenapa dia bisa iba sama orang yang ke susahan tapi kebaikannya malah dimanfaatkan. Berharap tidak bertemu lagi dengan orang di masa lalu.


Mira saat ini sudah pulang ke rumah ibu mertuanya pastinya bawa makanan enak. Dia ingin di puji oleh tetangganya dan ingin di bilang orang kaya.


  Mira masuk langsung nyelonong dalam rumah, dia meletakan makanan yang di bawahnya dari restoran.


  "Mira ngapain kamu masuk dalam rumah tampa salam. Gak sopan tau nggak."


  "Saya sudah bersalam bu, ibu saja yang tidak dengar salamku." Kelit Mira, sambil memamerkan giginya yang sudah di pasang behel.


"Ini bu gak usah masak, saya sudah bawa makanan dari restoranku. Jadi ibu kalau mau sekali kali saya bawain. Ingat yah bu gak setiap hari, bisa bangkrut aku."


  Bu sari melihat ada lobster, air liurnya sampai netes, saking ngilernya. Masih banyak lagi lauk yang sudah tertata diatas meja.


"Bu jangan dimakan lobsternya ya. Soalnya itu makanan kesukaanku."


Mira memperingati bu Sari untuk tidak memakan lobsternya, karna dia akan mandi terlebih dahulu, bu Sari hanya menahan keinginannya. Karna rasa tidak tahannya akhirnya dia makan lobster itu.


"Makan sedikit gak apa apa kali." Bu Sari makan dengan lahap dia tidak menyadari jika lobster itu sudah habis...

__ADS_1


"Wahhh... habis padahal masih enak enaknya makan, kok dia pelit sekali kenapa juga bawa hanya satu coba. Kan dia yang punya restoran cukup tinggal minta dianterin saja kan."


Bu Sari merapikan meja tersebut, dia kekenyangan nonton di ruang tamu, anaknya pulang tinggal makan.


"Enak juga punya mantu kaya raya apa apa makanannya enak enak, coba dari dulu begitu saya sudah makin sayang sama dia."


  Sari malah terlena dengan makanan itu, dia malah tidak curiga bahwa makanan yang diatas meja itu mengandung sebuah makna.


  "Asalamualaikumm..."


"Walaikum salam.... tumben kamu pulangnya lama.?"


Edi tidak mejawab pertanyaan ibunya yang membuatnya makin frustasi. Dia langsung ke kamar untuk membersihkan dirinya. Tapi bukannya senang ketemu Mira sudah menyambutnya dengan pakaian transparan, malah membuatnya makin emosi.


  "Kamu ingat pulang juga, kirain kamu pergi jual diri."


Mira mendengar hinaan suaminya itu sakit hati tapi dia sengaja mengabaikannya demi sebuah misi.


  Edi mematung di tempatnya dia sudah lama tidak menyalurkan hasratnya tapi malah ilfil kalau ketemu sama Mira. Dia membayangkan tubuh Nayla yang ada di balik baju haram itu. Nayla sekarang membuatnya kembali berhasrat cantik di matanya saat ini. Padahal dulunya biasa saja dimatanya.


  "Saya cape jadi tidak usah ganggu saya. Kamu juga masih nifas kan jadi tidak usah mancing mancing."


   Mira hanya tersenyum kikuk. Malah menurutnya suaminya kurang jauh pengetahuannya tetang s*x.


"Sayang kan masih ada lubang lain.."


Mira berdiri di hadapan suaminya lalu memangut bibirnya dengan rakus. Tapi Edi sama sekali tidak teroancing menurutnya itu bukan hal yang menggairahkan. Edi mendorong tubuh istrinya hingga terjengkang di belakang.


  "Ingat ya saya cape gak kaya kamu pulang pulang...."


"Pulang pulang apa mas. Saya tidak pulang karna saya berkunjung di beberapa restoranku. Ingat saya orang kaya bukan kamu yang orang kismin."

__ADS_1


Edi tidak lagi menyahuti istrinya karna percuma. Masuk dalam kamar mandi sambil bersolo ria. Mira akhirnya keluar dari kamar daripada makan hati mendingan makan.


Mira sesampainya di dapur mendelik, lobster yang sengaja pisah sudah raib. "Siapa yang makan makananku, jangan sampai mas Edi lagi. Awas saja kamu mas ku hajar kau bentar."


Mira melihat makanan lain belum tersentu. Cumi saus tiram salah satu pilihannya dan sisahnya di sembunyikan di tempat yang jarang di jangkau orang.


Mira menyisakan sisa sedikit di meja makan yang lainnya di simpan kembali. "Enak saja saya pulang bukannya senang malah marah marah. Liat saja kalian tampa saya bisa apa."


Mira sibuk mendumel sambil makan. Dia tidak peduli dengan seseorang yang melihatnya. Edi yang sedari tadi berdiri hanya mematung di di depan Mira. Dia ingin makan juga tapi segan, dia tau pasti Mira yang bawa makanan itu.


"Saya bisa ikut makan juga?" Tanyanya dengan ragu ragu. Dia tidak ingin makan kalau tidak di izinkan.


"Loh bukannya kamu sudah makan lobster tadi?" Pertanyaan Mira menyentil bu Sari yang sengaja nguping.


"Saya belum makan apa pun tadi soalnya saya baru pulang kerja?"


"Loh terus siapa yang makan lobster di sini. Tadi itu hanya satu di sini besar lagi masa langsung habis sendiri. Atau lobsternya di makan maling berdaster."


Mira menyinggung bu Sari. "Ngapain kalian singgung singgung saya. Saya belum makan kok."


Kelit bu Sari bahkan menyuruh menantunya itu untuk bawa lobster yang banyak. "Kan itu restoranmu jadi jangan pelit pelit lah sama orang rumah, bawa yang banyak supayah puas makan."


"Lobseter tadi ibu yang makan kan. Soalnya piringnya ada di wastafel mana ada itu piring langsung di wastafel." Mira memicingkan mata sambil menatap ibu mertua.


"Ehhh nggak ada. Ibu juga lapar ini tapi tidak diajak. Atau justru kamu yang makan baru nyalahin ibu. Ya kan ngaku saja, ibu ini sudah hafal kamu jadi gak usah bohong."


Bu Sari malah menuduh dan itu menciptakan perseteruan yang hebat. "Loh kamu makan sendiri lobster itu lalu kamu menuduh ibu. Benar benar licik kau Mir. Ingat ya ibuku tidak mungkin makan makanan murah dari restoranmu itu."


Bu Sari tersenyum licik. Dia yakin pasti putranya lebih membelanya. "Lihatlah nak istri kayamu itu pelit sama ibu. Padahal ibu belum makan apa pun. Tapi semuah makanan sudah gabis. Bu sari sambil menangis.


Mira tidak peduli lagi karna menurutnya menjelaskan tapi tak di percaya. Mira menghabiskan semua makanan di meja itu. Dia tidak peduli lagi mereka mau makan apa.

__ADS_1


"Mira kenapa makanannya di habiskan semua. Ibu belum makan malah kamu menuduhnya macam macam..kalau kamu masih mau tinggal di sini silakan hargai ibuku.


__ADS_2