AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR

AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR
BAB.20 Pertengkaran


__ADS_3

Setelah mengetahui kebenaran ini rasanya tak ingin lagi muncul di depan orang orang. Malunya jika di ketahui orang lain bahwa wanita yang saya gadang gadang wanita yang tak benar. Entah itu benih siapa?


Setelah sekian lama saya termenung, kembali mengingat dimana saya menemukannya. Dia bilang dia itu orang kaya tapi tidak pernah ada rumah yang dia tunjukan malah sekarang numpang di rumahku.


Jangan bilang anak itu meninggal karna minuman minuman keras atau dia minum obat obatan. Sekejam inikah dunia. Kenapa sampai sekarang banyak sekali ujian yang tak ada habisnya.


  "Melani ayo pulang nanti da pulang sendiri." Melani tak menjawab hanya mengikuti langkahku. Belum puas rasanya jika saya belum memakinya. Tapi apa daya entah sudah sadar atau belum saya tidak pusing.


Sudah seminggu berlalu dia pulang dari rumah sakit satu rumah tidak ada yang menyapanya. Biarlah suapaya dia tau diri sedikit, jangan sampai dia ini bukan sarjana tapi hobinya ngaku ngaku. Aneh kan jadi orang, makan bisanya minta dalam rumah.


Saya sudah mendapatkan pekerjaan walaupun hanya sebagai pelayan di toko sembako tapi tidak apa apa lah yang penting bisa bertahan hidup.


Saya berangkat jam 8:30 ke toko pulang jam 19:30 malam hari. Seperti biasanya sudah tiga hari jadi pelayan di toko.


"Mas minta uang untuk kesalon, badan melar terus wajahku kusam. Bagilah uang mas." Pinta nya manja. Dulu jika bermanja seperti itu apa pun saya lakukan demi ksbahagiaannya tapi sekarang rasanya enggan satu rumah dengannya..


"Tidak ada uang." Ketusku.


"Gimana sih mas saya istrimu tapi gak di nafkahi dengan layak, kamu kira cantik itu gratis, kalau jadi suami gak becus nanti gak usah minta jatah."


Dasar wanita tidak tau dirinya bisa nuntut saja. Sudah jadi istri gak becus malah seenak jidatnya saja kalau bicara.


"Mbak gak usah teriak teriak, ini dalam rumah bukan dalam hutan."


"Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya liat tidak ini saudarah laki laki mu tidak becus memberiku nafkah."


"Katanya olang kaya tapi kok gak di kasih nafkah kaya cacing kepanasan." Ledek Melani entahlah ada apa dengan Melani sehingga terlihat jutek begitu setiap orang jadi sasaran sinisannya dia.

__ADS_1


Stop..!!!!


"Kamu jangan minta nafkah sama saya. Sekarang jujur itu anak siapa kenapa kamu minta pertanggung jawaban sama saya." Dia sedikit kaget mungkin dia tidak menyangka jika ketahuan belangnya kan. Iya iyalah dasar wanita iblis.


"Mas itu anakmu loh dan memang sudah tua mas." Jawabnya lancar juga dia mempertahankan kebohongannya.


Saya meninggalkannya saya harus berangkat kerja, soal makanan untuk satu bulan saya kasbon dari tempat saya bekerja dan potong gaji nanti.


"Mas tunggu dulu uangnya mana?"


Mira ternyata mengekor sambil menengadakan tangannya. "Uang mulai sekarang kamu cari sendiri, saya tidak sudi untuk menafkahimu lagi."


Pagi pagi bisa nya uang dan uang masak pun tidak tau. "Mas kalau kamu tidak nafkahi saya. Bisa loh saya laporin kamu ke polisi."


Andalannya dari kemarin bawa bawa polisi padahal hanya menggertak saja. Emang mana berani dia melapor kasian. "Mira kalau mau uang kamu kerja cari uang sendiri."


Ternyata itu mengindang tawa orang orang sekitar termasuk tetangga yang lewat dan memang sombongnya bikin malu saja. "Wohhh... ngakunya orang kaya tapi kok suka sama suami orang."


Ledek para tetangga kalau di fikir fikir ada benarnya juga. Kalau dia kaya pasti standarnya tinggi bukan seperti saya dan ini rumah ibu saya dan pasti dia ingin tinggal di rumah mewanya. Nanti saya selediki sendiri apa benar dia orang kaya.


Setauku kalau orang kaya sibuk. Dia tidak seharian penuh dalam rumah dan biaya rumah sakit Melani yang tutupi. Masa iya biar uang untuk diri sendiri juga pelit. Biarlah dia beta dengan kebohongannya.


  Sesampainya saya di toko langsung beberes barang pajang pajang barang seperti itulah pekerjaanku kalau di toko.


Jam makan siang saya tukaran dengan Rina dia tugasnya sebagai kasir dan hanya kami berdua karyawan toko ABADI. Toko ABADI pemiliknya seorang wanita tapi saya belum pernah ketemu siapa orangnya. Lucu kan kerja tapi tidak tau siapa bosnya. Toko ABADI satu minggu bukanya. Tapi tempatnya lumayan strategis dan itu sekarang banyak pengunjung. Kadang kalau siang hari saya yang jadi kasir setelah makan diambil alih oleh Rina.


Sekarang sudah malan sudah saatnya pulang kerumah. Di toko kami dapat jatah makan siang dan malam jadi saya pulang langsung tidur. Orang rumah sudah saya kasbonkan makanan jadi gajian tidak full karna sudah kasbon.

__ADS_1


Sesampainya di rumah saya di suguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakan hati. Ibu sama Meli melawan karna Mira berusaha menyerang mereka.


"Mira....!!" Apa apan ini kenapa kamu mau mendorong ibu saya.


Mira melotot kearahku dan sedetik kemudian


...PLAKK.....


kuat juga tenaganya sampai saya terhuyung kebelakang dan bisa bisanya dia tampar saya.


"Ingat ya mas jika kamu tidak berikan saya nafkah silakan angkat kaki dari rumah ini. Ini akan jadi milikku dan ingat baik baik silakan berkemas dan tinggalkan rumah dan sertifikatnya tinggalkan saja."


Meli sudah kelihatan geram. Dia menarik rambut Mira sampai dia mengadu ke sakitan...


. .awww...lepasin rintihnya.


"Ingat ya ****** murahan. Ingat baik baik rumah ini rumah kami sebelum kamu ada. Jangan seenak undelmu saja kalau ngomong. Tadi apa kami keluar dari rumah ini. Jangan mimpi nanti gila deh."


Sekali hentakan dia melepas rambut Mira sampai kepalanya membentur sisi meja di ruang tamu. Untung dia tidak geger otak atau pingsan.


Meli dengan napas terengah engah dia mengambil gunting dan memotong rambut Mira sampai habis.


"Mas rambutku. Kenapa kalian jahat sama aku. Kalian tau perbuatan kalian bisa saya laporkan kepolisi ha..!" Hardiknya. Sementara Meli hanya tertawa renyah. Saya tidak habis pikir kenapa saya dulu percaya dengan wanita ular ini. Seandainya dulu tidak termakan omongannya ibu mungkin sekarang saya masih bersama Nayla.


Tapi apa lah dayaku berharap semua ini tidak akan terjadi lagi. Tidak ada lagi wanita yang seperti Nayla semua itu sudah terlanjur mana mungkin saya minta rujuk lagi sementara dia sudah tidak mau.


Mira kembali ke kamarnya entah apa yang dia lakukan, selama seminggu ini saya sudah tidak lagi menyentuhnya. Sekarang saya lebih suka tidur di sofa atau di kamar tamu.

__ADS_1


 


__ADS_2