AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR

AKU ISTRIMU BUKAN PELAKOR
BAB.24 Kesurupan Lobster


__ADS_3

Mira yang tidak terima langsung beranjak percuma berdebat. Entah siapa yang makan,ternyata orang dalam rumah ini cocok jadi pemain sinetron, pandai ber ackting.


"Mas jika kamu lebih percaya ibumu terserah. Masa iya lobster segitu besar langsung habis, itu bisa dimakan untuk dua orang. Entah siapa yang tikus sebenarnya."


  Mira akan meningalkan anak dan ibu itu tapi belum sempat sudah di cekal tangannya. "Kamu jangan coba coba untuk menfitnah ibuku. Kalau tidak keluar dari rumah ini."


  Mira Hany tersenyum tipis, dua orang ini benar benar menguji mentalnya. Dia tidak menyangka mengenal keluarga yang penuh dengan drama.


"Jangan dong Edi. Kan makanan diatas meja sudah habis, suruh saja dia minta lagi dari restoran miliknya." Bu Sari bersuara dengan antusias.


  "Benar kata ibu, kalau punya itu jangan pelit pelit, mau kuburanmu sempit."


   keduanya kompak memojokan Mira karna menurut mereka restoran itu milik Mira jadi seenak mereka saja. Mira tampa peduli dia masuk kembali dalam kamar tidur dengan perut kenyang. Biar saja ke dua orang itu koar koar atau masak kan banyak.bahan makanan.


  "Mira mira bangun. Ngapain sih tidur ibu belum makan, pesanin lobster lagi di restoran kamu. Kasian ibu belum makan apa apa."


  "Bukan urusanku mas, kalian mau makan apa tidak, saya bawa makanan itu banyak tadi. Tapi saya masuk kamar untuk mandi ludes begitu saja."


  Mira sangat emosi mengingat lobster yang di simpan di meja makan ludes begitu saja, tapi dia yang di tuduh memakannya. Sementara dalam rumah ini hanya bertiga saja.


  "Jadi kamu tiduh ibuku yang makan itu lobster, bukan nya kamu yang makan sendiri, kenapa kamu tega fitnah ibuku.?"


  Edi malah kembali memihak sama ibunya. Tampa melihat siapa yang salah dan cerita yang mana yang dia bisa percaya tapi memang laki laki langsung telan mentah mentah informasi tampa di saring terlebih dahulu.


  Mira menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Tidak mungkin ladenin permintaannya orang yang stenga gila. Mira berharap orang orang rumah ini tidak lagi menngganggu tidurnya.

__ADS_1


Tapi nyatanya dia tidak di biarkan tidur, dia masih terus di gangguin bahkan ibu mertuanya masuk menarik kasar selimutnya.


  Mira menyesal membawa makanan tersebut, dia kira membawa makanan itu untuk menarik perhatian penghuni rumah ini tapi nyatanya malah mereka tidak tau diri.


  "Apa aan sih ibu. Saya cape tolong jangan di ganggu. Bukannya lobster kalian sudah makan, jangan serakah bu."


  Bu Sari memang makan lobsternya tapi itu masih kurang jadi pura pura belum makan saja supayah di pesankan lagi. Bu Sari menatap nanar putranya mencari pembelaan.


  Edi dia tidak bisa melihat orang tuanya berlinang air mata. Dia menyalahkan Mira yang menurutnya salah sedari awal. "Mira yang sopan sama ibuku ingat ibuku adalah ibumu juga. Apa susahnya sih tinggal suruh bawain lobster lima atau sepuluh kan tidak membuat mu rugi."


  Otak mereka sebenarnya sudah koslet. Mereka tidak menyadari bekas ****** yang ada di leher Mira yang masih meninggalkan jejak. Tanda itu sudah tertutup bayangan lobster yang sepuluh ekor. Edi malas berdebat meminta alamat restorannya dia sendiri yang akan pergi. Lagian kan restoran istrinya jadi dia juga memiliki hak.


  "Mira dimana alamatnya biar saya dengan ibu yang makan di sana. Nungguin kamu lama." Tapi Mira hanya memutar bola matanya malas. Di tanya berapa kali pun masih bungkam. Tidak mungkin dia menyebut alamat restoran itu. Testoran itu hanya orang berduit makan di sana kalangan menengah keatas.


  Bu Sari pergi ke dapur mencari sesuatu. Setelah menumukannya dia berpakaian rapi yang ada dalam fikirannya saat ini akan menjadi bos di sana akan makan sepuasnya.


Ibu dan anak itu berangkat ke sana naik motor, dengan senyum yang tak pernah pudar dari keduanya. Membayangkan makanannya sudah pasti perut mereka kerincongan. Jadi pemilik restoran mewah. Angan angan mereka akhirnya tercapai juga.


Mereka masuk dalam restoran sambil memegang beberapa hiasan yang ada di restoran itu. "Wah ternyata kita bisa jadi orang kaya sekarang.."


"Iya bu. Saya juga tidak mau kerja lagi di toko cape bu. Jadi bos kan enak. Mulai besok saya yang akan mengendalikan restoran ini."


Bu sari mengacuhkan jempolnya tanda menyepakati keinginan anaknya. Mereka memanggil pelayan dengan gaya kampungan mereka. Semua orang memandang aneh kearah mereka. Suara mereka berdua yang kedengaran seantero restoran itu bahkan banyak orang yang hampir terbahak.


"Mbak bawakan kami menu yang ter enak dan termahal yang ada di restoran ini serta minuman yang mahal juga." Perintah kedua manusia itu

__ADS_1


"Tapi...."


"Gak ada tapi tapian silakan kembali bekerja mulai besok saya bosmu di sini. Jangan lelet nanti saya pecat."


Pelayan itu langsung ke dapur. Karna dia orang baru jadi langsung percaya saja,karna dia tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Mana mungkin dia dipecat baru seminggu kerja.


Setelah menunggu lama karna banyak pelanggan akhirnya makanan mereka sudah siap. "Lama skali pelayanan kalian, bisa lari pembeli dan bisa rugi restoranku kalau begini." Pelayan itu hanya menunduk dia takut.


Setelah dua jam mereka makan semua makanan pun habis. "Enak juga yah kalau punya restoran ya. Besok saya datang lagi di sini kalau perlu dia akan mengajak ibu ibu arisannya untuk menikmati makanan di sini. Di jamim pasti di sanjung karna memiliki restoran mewah.


Ada salah satu pelayan yang datang menyerahkan bil mereka. "Bu kami sudah mau tutup anda sudah terlalu lama di sini. Ini billnya totalnya dua juta tiga ratus lima puluh rupiah." Kata pelayan itu dengan sopan.


"Ehhh apa apaan ini. Ini restoran saya dan saya berhak mau sampai di sini kapan pun.!" Bentak bu sari dia sebenarnya masih kekenyangan tapi dia juga tidak suka di tagih karna menurutnya ini restorannya.


"Maaf bu jangan ngaku ngaku yang punya restoran ini bukan ibu. Kami mengenal pemiliknya dan itu bukan anda. Silakan bayar tagihan anda lalu pergi dari sini." Usir pelayan tersebut. Karna dia pelayan yang paling lama di sini jadi dia tau betul yang mana pemilik restoran ini.


Brakkk


Edi menggebrak meja. "Yang punya restoran ini istri saya dan kamu yang sopan sama ibu saya." Pelayan tersebut hanya tersenyum tampa menyelah.


"Mohon maaf pak bu. Restoran ini pemiliknya pemudah pelum pernah menikah, sementara dia ada di dalam loh pak. Apa mau saya panggilkan."


Mereka saling sikut, mereka tidak membawa uang sama sekali bahkan mereka tidak membawa KTP. Bu Sari memegang dadanya lalu tertawa nyaring. Tapi pelayan itu seola ola ketakutan dia berlari kedapur dia mengambil air di gayung.


Bu Sari pura pura kesurupan dan terus mengamuk semua barang barang dia hancurkannya dan itu membuat sebagian pelayan restoran pada ketakutan.

__ADS_1


"Awas saja kamu dasar kesurupan Lobster sudah makan tapi gak mau bayar."


Byurrrrrr...


__ADS_2