
Hari ini pekerjaanku telah selesai, saya mau pulang minta di pijitin sama bi Ija untuk mengusir lelah di badanku. Di sepanjang perjalanan saya hanya memikirkan gimana masalah perceraianku siapa yang akan membantuku, tak mungkin saya melakukannya sendiri tampa perlu bantuan.
Hari sudah semakin malam biasanya Nuri kirim pesan beruntun tapi tidak kali ini yang ada hanya pesan dari pak Bara. Dari satu jam yang lalu, mungkin saya ke enakan di urut jadi gak tau kalau ada pesan.
"Besok resmi pemecatan suami kamu dan kalau kamu butuh pengacara untuk menggugat cerai suamimu saya akan bantu. Dan satu lagi suamimu terbukti korupsi uang dan tidak melakukan pekerjaan apa pun selama di kantor."
Begitulah isi pesan dari pak Bara, tapi kok aneh suka korupsi dana pantas saja kadang dana yang di laporkan kadang anjlok. Dasar laki laki bikin malu saja. Mau di taroh dimana muka ku di kantor besok yang di tau kan istrinya saya.
Pagi ini badanku sedikit fresh. Mungkin bukan badanku yang cape tapi hati dan fikiranku. Setelah sarapan sarapan saya sudah bersiap ke kantor. Semoga hari ini saya bisa melewatinya dengan baik.
"Kamu baik baik saja nayla ayo semangat, ini bisa di lewati dan harus bisa bangkit tampa menyulitkan siapa pun." Saya menguatkan diri sendiri, saya sudah bertekad untuk mengurus semuanya sendiri tampa harus melibatkan orang lain.
Pagi ini kantor masih sepih dan belum banyak yang datang. Batu clening servis yang membersihkan kantor ini. "Pagi bu Nayla. Tumben bu datang lebih awal."
"Pagi juga pak Jono. Saya banyak kerjaan pak di ruangan saya." Pak Jono hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaan nya. Sejak kapan mereka ber ramah tama sama saya, biasanya juga hanya senyum itupun sudah bersyukur, mungkin kali ya mereka kesambet di gerbang itu.
Sesampainya di ruanganku, saya menyiapkan semua bukti bukti yang ku punya dan saya bertekad makan pun masih bisa sendiri dan soal anak saya tidak punya jadi tidak masalah bagiku.
Jam 9:30 saya masuk keruangan pak Bara, sebelumnya saya sudah buat janji melalui sekertarisnya.
Tokkk....tokk
__ADS_1
Masuk...!
"Selamat pagi pak Bara." Sapaku untuk menghilangkan gugup yang melanda, dan saat ini pak Bara menelisik penampilanku dari atas hingga ke bawa.
"Pagi juga ibu Nayla. Silakan duduk."
Setelahnya mengalirlah cerita dan saya menambahkan beberapa bukti untuk menunjang, dan pak Bara sudah mengendus kecurangan mas Edi dalam perusahaan ini dan dia akan di pecat tampa pesangon karna telah korupsi.
Setelahnya saya kembali dalam ruangan ku dan melanjutkan pekerjaanku yang tertunda dan tumben orang orang julid itu pake apa mereka bungkam. Biasanya mulut mereka seperti bom Atom.
Gubrak.....
Astagfirullah siapa sih yang tendang pintu saya. Saya hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan calon mantan suamiku ini. Sudah di pastikan ini jadi kosumsi publik dan saya lihat banyak yang merekam kejadian ini.
Orang orang makin panik melihat apa yang di pegang mas Edi. Ternyata dia bawa sajam untuk mengancamku. Ayo siapa takut emang dia saja yang berani.
"Mas kamu buat apa itu sajam." Sambil ku tunjuk apa yang ada di tangannya." Dia hanya tertawa sinis.
"Hari ini kamu akan lenyap di tangan aku Nayla, karna kamu telah berani melaporkan ku sama pak Bara." Sambil menodongkan pisau itu.
"Yakin pisaumu itu tajam mas. Itukan pisau untuk kupas bawang ngapain kamu bawa di kantor mas." Dia melirik pisau kecil itu sambil menggenggamnya erat. Mungkin dia tidak yakin dengan apa yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Saya akan menghancurkan hidupmu, kamu tidak terima ya kalau kamu itu mandul, apa yang akan di harapkan. Sekarang saya akan talak kamu sekarang juga."
Saya hanya menatap mata itu yang dulu saya kagumi bahwa tatapan itu penuh cinta tapi hari ini hanya ada kebencian di sana. Apakah kamu tega akan jatuhkan talak di depan semua orang. Setegah itu kah?.
"Nayla mulai hari ini kamu bukan istriku lagi dan kamu saya talak tiga." Setelahnya dia keluar dari ruangan ini sambil tertawa puas.
Puaskah dia melihatku seperti ini. Hatiku seakan tidak rela di talak di depan semua orang, tubuhku rasanya melayang, kakiku lunglai sekan tak berpijak sama tanah. Tiba tiaba ada yang memeluk ku dan kurasakan itu sehangat ini. "Apakah mas Edi kembali lagi yah mungkin dia bersalah makannya dia datang memelukku. Mungkin dia tau aku wanita yang lemah maafkan aku mas nanti saya carikan pekerjaan baru untuk mu.
Air mataku jatuh seiring dengan air hujan yang jatuh membasahi bumi. Seola dia mengerti jika aku lagi bersedih. "Sudah jangan menangis lagi. Saya akan bersamamu di sini. Ku tengok siapa yang berucap, Ternyata yang memeluk ku barusan pak Bara.
"Maaf pak Bara aku tak apa apa." Bohongku padahal hatiku sangat sakit di tamba lagi bukan mas Edi memeluk ku barusan. Tega kamu mas...! Teriak ku dalam hati.
"Yah sudah kamu saya antar pulang saja. Ini juga sudah agak sore takutnya kamu drop di sini kasian karyawan lain." Saya tidak menjawab melainkan menggeleng dan pak Bara tidak memaksakan kehendaknya. Dia keluar dari ruanganku mungkin dia tau kalau saya butuh sendiri.
Hari ini sudah sore dan saya ingin cepat pulang supayah tidur karna bawaanku ngantuk, Nuri hari ini tidak masuk kerja jadi saya rasa kesepian saya telpon juga tidak di jawab. Mungkin dia masih marah sama saya.
Sesampainya di rumah saya rebahkan badanku, saya tidak mengganti pakaianku hatiku masih benar benar sakit. Ingatanku kembali membuka kenangan dulu dia sangat bahagia bisa menikahiku dia bilang saya wanita satu satu nya yang dapat menggetarkan hatinya.
"Dek baru kali ini bergetar hatiku saat sama kamu. Banyak wanita di luar sana tapi tak seperti dirimu." Kata kata itu yang slalu membuatku bahagia dia slalu seperti itu sebelum tidur. Air mataku kembali jatuh sambil ku peluk bantal berharap dia menyesal dengan dengan ucapannya tadi. Saya ingin dia minta maaf saat ini juga.
Kuraih ponselku berharap ada pesan darinya tapi nihil sejak ketahuan menikah lagi dia sudah jarang mengirim pesan bahkan tidak pernah lagi. Sehebat apa wanita itu mas sehingga kamu tega menghianatiku. Kamu tau aku baik baik saja tapi kenapa perkara anak kamu tega mendua.
__ADS_1
Sedetik, semenit, sejam berlalu tidak ada pesan darinya bahkan nomornya tidak aktif. Mungkin dia blokir saya. Baikalah mas nikmati pilihanmu saya akan mencoba mengikhlaskanmu. Benar kata Nuri saya terlalu bawa perasaan ketika memutuskan sesuatu tapi orang lain tak mengerti itu