
Keinginan Bara untuk menikahinya semakin besar, seiring berjalananya waktu semakin mengenalnya semakin pula tertarik...
"Ibu minta di temani ke mall, kita perginya bertiga, supaya ibu mengenal mu lebih dekat lagi.."
Nayla tak pernah menjawab dia masih mencari cela mengapa secepat itu di beri restu.
Siang ini Lisa jalan diantara Bara dan Nayla, ternyata nyaman juga bercerita dengan Nayla orang nya gampang menyesuaikan keadaan.
"Nak kita cari cari tas yukk.... ada toko langganan ibu.."
Nayla hanya mengangguk.. dia mengikuti dimana kemauannya calon mertuanya itu. Di sisi lain Nayla ternyata orang tua di sampingnya sangat baik bahkan lemah lembut beda dengan awal bertemu di rumahnya.
Tapi kembali lagi setiap orang pasti memiliki sisi lembut dan juga sisi kerasnya. Jadi itu salah satu karkater yang alamia.
"Coba deh tas yang ini ibu suka... kamu pilih juga ya suka yang mana"
Nayla mencari tas yang dia sukai. "Kayakya ni. Bagus tapi harganya lumayan fantastis, saya belum mampu membelinya." Guman Nayla dia menginginkannya tapi uangnya masih banyak kebutuhan..
"Sayang kalau suka ambil saja.." tawar Bara. Soalnya dia melihat gerak gerik Nayla seolah tak rela meletakan kembali tas itu di tempatnya.
"Nggak kok mas.. saya masih punya tas jadi belum butuh...o" elak Nayla karna tak enak kepergok sama Bara.
Bara hanya tersenyum mendengar alasan klasik wanita kalau uang gak cukup..
Bara mengambil tas itu sekalian bayarin tas untuk ibunya. Setelah keluar dari toko tas mereka mencari tempat makan yang ada di mall tersebut untuk makan siang.
Nayla sama Lisa mereka asik bercerita tentang pengalaman mereka, dan saling tukar informasi tentang kesukaan wanita. Yang jadi pendengar setia Bara.
Begitulah kalau wanita ketemu paling suka cerita dan lupa dengan orang yang kini diam diam tertidur. Bagikan di bacakan dongeng sampai sampai dia terpejam.
"Mas...mas... kok tidur sih ni makananya udah ada.." Nayla membangun kannya.
__ADS_1
Selesai makan mereka pulang tapi di parkiran ada sesosok wanita yang tak di inginkan muncul lagi. "Ohhhh jendes murahan ya... taunya gaet laki laki kaya..."
Huuuu.
Mira saat ini tak sadar diri dia jalan sama laki laki yang bukan suaminya malahan lebih tua darinya juga. Nayla tersenyum mengejek dia tau bahwa Mira masih sah jadi istri mantan suaminya tapi kok malah jalan sama aki aki kan.
"Ehhh.... Mir itu suami keduamu yah.. wihhh mantap Mir bersuami masih juga cari cadangan, ajarin aku dong Mir.."
Nayla mengejeknya. Sementara dia sudah meradang dari tadi. Mira salah lawan deh kayaknya, niat jatohin orang tapi malah dia sendiri yang kena batunya. Emang enak kalau di jatohin sejatoh jatohnya.
Sementara laki laki yang di sampingnya kebingungan. Hehe mungkin Mira ngaku janda kali ya...
"Mi katanya kamu belum nikah tapi kok udah bersuami..."
"Sayang dia kan orang iri. Memang saya belum nika yang kamu liat kemarin itu abang gwe." Mira masih saja mengelak. Gak mungkin dong mau kehilangan sumber keuangan.
Nayla terkikik geli, menurutnya cara Mira membual itu sangat lucu dan laki laki bersama nya itu mau aja di kibulin. Maklum lah kan kalau udah cinta tai kucing rasa coklat...
Kasian kamu mas, kamu bilang dia wanita baik baik padahal tak lebih dari wanita obralan, mau sana mau sini. Begitulah kosenkuesinya jika berani bermain api.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, akhirnya Nayla akan di lamar sebentar lagi. Sudah mengantongi restu dari orang tua Bara dan itu mempermudah jalan pernikahan mereka.
Sementara Bara sibuk dengan urusannya. Bahkan kali ini Bara lebih giat lagi supayah kedepannya bisa membagi waktu antara pekerjaan dan istrinya nanti. Karna keduanya sama sama penting dalam hidupnya.
Penyemangat nya ada foto di mejanya. Foto calon istrinya terkadang membuat sebagian wanita di kantornya itu keheranan melihat tingka Bara karna tak semudah itu dia menemukan cintanya tapi sekarang kok malah bucin ya.
Hari ini Bara pulang kerumah ibunya, dia akan minta solusi sama orang tuanya karna ibunya sudah berpengalaman.
Di meja makan ini lah terjadi diskusi hangat sebelum kedatangan orang yang tak pernah dianggap slalu saja menampakan dirinya..
"Bu kalau seandainya Bara memberinya rumah apa kah mama tidak cemburu?"
__ADS_1
"Nggak dong sayang... kan ibu sudah punya rumah dari almarhum ayah kamu. Jadi ini pun sudah lebih dari cukup."
Lisa tak ingin cemburu jika anak laki lakinya memberi sesuatu sama istrinya kelak karna itu sudah kewajiban dan tanggung jawabnya. Dia tidak ingin juga ikut campur urusan anak anaknya kelak. Karna pernikahan itu mereka yang jalani tidak mungkin kan ikut campur di dalamnya.
"Bu rencana minggu depan akan di lamar nanti dua bulan kemudian baru akad nikah, gimana menurut ibu..?"
Lisa mangguk mangguk sambil memikirkan cara untuk ledekin anaknya. "Cieee... udah gak sabaran tu di nikahi anaknya orang. Emang ya kalau udah bucin.." ledek Lisa...
Bara merajuk kayak anak bayi yang tak di kasih permen... "yee... gitu aja manyun awas loh... nanti ibu cabut restunya..."
"Ihhh... ibu jangan dong.. ibu gak seru..."
Lisa terbahak bahak melihat tingka ankanya itu. Gak tau kenapa yah bawaanya happy padahal selama ini melisa tidak pernah tertawa sekencang itu.
"Tante.... Mas.... aku datang...."
Nita datang sambil bawa martabak manis. Dia mencoba mengambil hati bu Lisa karna selama ini care samanya.
Bara melihat kearah ibunya meminta penjelasan. Kenapa ada Nita lagi disini malam malam lagi. Terus di suruh ngantar pulang uhhh... malas bangat ya kan...
Lisa tetaplah menyambut tamunya dan Bara pergi ke kamar dia tidak ingin ada drama lagi setelah ini. Lisa sebenarnya enggan tapi bagaimana pun tamu datang ke rumah harus di sambut.
"Bu boleh saya ketemu dengan mas Bara da hal penting yang harus saya omongin..."
Lisa menelisik wajah ayu di depannya itu dulu ingin sekali menjadikannya menantunya tapi setelah melihat ke bobrokan nya dia jadi ingat satu hal jika paras itu terletak di nomor ke seribu.
"Gimana boleh kan bu...?" Nita kembali melontarkan pertanyaan setelah melihat mertuanya hanya memandangi dirinya.
"Maaf ya Nita Bara lagi capek katanya tadi langsung mau istrahat soalnya di kantor banyak skali pekerjaannya." Memang alasan itu benar adanya tapi asumsi Nita berbeda dia mengira jika Bara sengaja menjauhinya.
Nita melihat ke arah kamar Bara. Dia tau orang di dalam sana belum tidur tapi kenapa sulit untuk menemuinya. Pasti gara gara jendes itu pikirnya.
__ADS_1