
Sebelum pulang ke rumah Reyhand mampir di swalayan, ia membeli beberapa buah – buahan dan makanan untuk Destya agar kekasihnya cepat sembuh. Reyhand mengirimkan beberapa buah – buahan dan makanan itu dengan menggunakan aplikasi pengantaran online.
Di rumah Destya. Ibunya memberikan buah – buahan dan beberapa makanan pada Destya.
“Des, ini ada buah – buahan untukmu dari temanmu.” Sambil memberikannya pada Destya.
“Dari siapa Bu?”
“Sepertinya dari temanmu yang tadi kesini. Ini ada suratnya Des.”
“Apa mungkin dari Reyhan.” Gumamnya dalam hati.
Destya pun membaca isi surat tersebut, dan ternyata benar kiriman makanan dan buah itu dari Reyhand. Destya pun tersenyum senang membaca isi surat tersebut. Ia pun meminta tolong pada Ibunya untuk mengambilkan handphonenya di meja belajarnya, karena semenjak sore kemarin pulang dari rumah Sarah, Destya belum mengecek ponselnya. Destya pun mengirimkan sebuah pesan.
“Makasih ya Rey, sudah begitu perhatian padaku.”
Reyhand yang mendengar notifikasi pesan masuk langsung membuka pesannya dan segera membalasnya.
“Sama – sama Sayang.”
"Apa aku boleh mendengar suaramu sebentar saja ?"
"Tentu."
Reyhand pun menelpon Destya.
"Hallo Sayang."
“Jangan lupa makan yang banyak ya agar kau cepat sembuh."
"Iya Rey."
“Aku rindu makan siang denganmu.”
"Iya Rey aku juga."
"Jaga kesehatanmu Sayang, aku tidak mau kamu sakit."
“Iya.... aku gak papa kok Rey, sekali lagi terima kasih, kamu selalu memperhatikanku dengan baik.”
"Sebaiknya kamu beristirahat agar cepat kembali pulih.”
“*Get well soon my lovely.”
“I love you.”
__ADS_1
“I love you too*.”
Destya pun menutup sambungan telponnya, dan segera beristirahat.
Di dalam kamar, Reyhand kembali teringat akan permintaan Papanya. Rasanya ini begitu berat bagi Reyhand untuk meninggalkan Destya. Reyhand sudah sangat mencintai Destya. Destya adalah wanita pertama yang berhasil meluluhkan hatinya.
Tanpa disadari air matanya jatuh dari pelupuk matanya. Reyhand tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti mereka berdua harus terpisah karena jarak.
“Apa yang harus aku lakukan. Aku gak bisa menentang keinginan Papa.”
“Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Destya disini.”
“Destya, pasti sangat sedih jika tau aku akan tinggal disana.”
“Aku sangat mencintaimu Destya. Kamu cinta pertama dan terakhirku.”
Reyhand pun menangis, hati dan pikirannnya merasa kacau di sisi lain ada perasaan keluarganya yang harus ia jaga. Namun disisi lain ia juga tidak sanggup kalau harus meninggalkan Destya disini.
Tak lama kemudian Bi Surti mengetuk pintu kamar Reyhand.
“Den Reyhand, ada yang mencari sepertinya teman Den Reyhand.” Panggil Bi Surti.
“Iya Bi, tolong tunggu sebentar.”
Reyhand pun menghapus air matanya, ia tidak mau kalau ada orang lain yang mengetahui dia menangis. Reyhand beranjak dari ranjangnya bergegas ke toilet untuk mencuci wajahnya agar bekas menangisnya tadi tidak terlihat orang lain.
Adinda adalah anak dari sahabat Mamanya Reyhand. Adinda mulai menyukai Reyhand saat acara pembukaan cabang usaha Mamanya yang baru. Kebetulan saat itu Bu Kirani meminta Reyhand untuk menemaninya.
“Reyhand, aku sayang merindukanmu.” Adinda beranjak dari duduknya lalu memeluk Reyhand.
“Lepaskan Adinda !”
“Aku merindukanmu Rey.”
“Lepaskan aku bilang Adinda !” dengan nada sedikit membentak karna Adinda belum melepaskan pelukannya.
“Aku hanya merindukanmu Rey, aku sengaja datang jauh - jauh kesini hanya untuk menemanimu.”
“Aku sedang ingin sendiri Adinda.” Jawab Reyhand dengan ketus.
“Apa kau tidak merindukanku Rey ?”
“Padahal kita jarang bertemu.”
“Kenapa aku harus merindukanmu ? Diantara kita tidak ada hubungan yang lebih bukan ?”
__ADS_1
"Kita hanya sebatas teman."
Adinda yang mendengarnya menjadi kesal, karena Reyhand hanya menganggapnya sebagai teman.
“Kamu juga kenapa tidak pernah membalas pesanku Rey?”
“Aku sibuk."
“Ada apa kamu datang ke rumahku ?” tanya Reyhand yang tidak suka melihat akan kedatangan Adinda.
“Sudah kubilang aku merindukanmu Rey.” Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke suatu tempat ?”
Reyhand tidak membalas pertanyaan Adinda ia tetap fokus pada ponselnya. Adinda yang mendapat sikap cuek dari Reyhand menjadi sedikit kesal. Ia pun menyandarkan kepalanya di pundak Reyhand.
“Adinda apa yang kamu lakukan ?”
“Rey, kita makan siang di luar yuk !” Ajak Adinda dengan manja.
“Aku tidak lapar.” Jawab Reyhand dengan ketus.
“Adinda jika tidak ada lagi yang penting. Aku harap kamu segera pulang.”
“Kamu mengusirku Rey ?”
“Aku tidak mengusirmu, tapi aku sedang sibuk. Banyak tugas yang harus aku kerjakan hari ini.”
“Kalau begitu biar aku yang menemanimu mengerjakannya ya Rey.”
“Tidak”
“Kenapa Rey ?”
“Aku tidak suka kalau ada orang lain ketika aku sedang fokus belajar.”
“Sebaiknya kamu segera pulang Adinda.”
“Reyhand aku jauh – jauh kesini hanya untuk menemuimu, dan sekarang kau malah mengusirku.”
Reyhand tidak memperdulikan ucapan Adinda, Reyhand pun beranjak dari kursinya dan meninggalkan Adinda sendiri.
“Reyhand aku belum selesai bicara.”
"Reyyy ..... Reyhand." Adinda berteriak.
Adinda yang mendapat sikap cuek dari Reyhand tak bisa berkata apa – apa lagi. Adinda pun keluar dari rumah Reyhand.
__ADS_1
“Dingin bener nih cowok, gue harus dapetin Reyhand gimana pun caranya.” Adinda pun melajukan mobilnya menjauhi rumah Reyhand.
Adinda menyetir mobil dengan kesal, ia terus menggerutu karena baru kali ini ada laki – laki yang tidak memperdulikannya sama sekali.