
Keesokan paginya, Reyhand terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam dinding kamarnya yang menunjukan pukul 5 pagi. Reyhand segera bersiap untuk ke sekolah lebih pagi karena harus membantu kegiatan di anggota Osis. Reyhand melirik handphonenya di ranjang, berniat menghubungi Destya.
“Mungkin dia sudah bangun.”
Reyhand lalu mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Destya.
Destya yang sedang mandi tidak mendengar handphonenya berbunyi.
“Kenapa Destya tidak menjawab panggilanku lagi.” Gumam Reyhand kecewa.
“Mungkin dia sedang bersiap pergi rumah sakit."
Reyhand lalu menyimpan handphonenya di nakas lalu bersiap untuk mandi.
Setelah selesai mandi, Destya mengecek handphonenya dan melihat ada beberapa notifikasi panggilan tidak terjawab di handphonenya.
“Sarah, nomor tidak dikenal yang kemarin menelponku lagi.”
“Mungkin orang misterius yang diam – diam menyukaimu Des.” Jawab Sarah yang teringat akan laki – laki misterius yang sering menghubunginya itu.
“Masa sih.”
“Kenapa kamu tidak menelponnya balik, kalau kamu penasaran.”
Destya lalu menelpon balik nomor tersebut.
“Gak diangkat Sarah.”
“Berarti dia orang iseng Des, atau nomor nyasar atau orang yang menyukaimu diam – diam dan gak pengen ketahuan sama kamu.” ucap Sarah yang tertawa renyah.
“Ada – ada saja kau ini Sarah.” Jawab Destya sambil menggelengkan kepalanya.
“Des, sarapannya kita beli bubur yang di depan aja ya ? Aku bosen sarapan mie instan terus.”
__ADS_1
“Ya udah nanti sebelum ke rumah sakit, kita coba buburnya kayaknya enak juga Sarah. Nanti langsung bawa tas biar gak balik lagi kesini ya."
Sarah tidak menjawab perkataan Destya, Sarah senyum – senyum sendiri saat melihat ada pesan selamat pagi dan ucapan semangat dari laki – laki misterius yang tak lain adalah Roy.
“Cieee senyum – senyum sendiri ?” goda Destya pada Sarah.
Sarah pun tersenyum malu.
“Siapa sih Sarah, pacar barumu ya ? kenapa gak pernah cerita padaku ?”
“Hehe....” Sarah menggaruk - gatuk tengkuknya yang tidak gatal.
“Bagaimana keadaanmu Des? Sudah lebih baik ?” tanya Sarah mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Iya aku merasa lebih baik Sarah.”
“Semalam aku mimpi bertemu dengan Reyhand, dia terlihat sangat tampan dia memelukku sangat erat tapi dia tidak mengatakan apapun padaku, dia hanya tersenyum dan kembali memelukku.”
“Apaan sih Sarah ?” ketus Destya kesal karena Sarah balik menggodanya.
“Bercanda kok hahahaha.” Sambil mengangkat kedua tanggannya membentuk huruf V.
Tak lama kemudian, handphone Destya berdering.
“Hallo Des ? Bagaimana kabarmu sekarang ?”
“Aku sudah lebih baik Raka.”
“Syukurlah.”
“Kamu sudah sarapan ?”
“Belum”
__ADS_1
“Jangan lupa sarapan ya. Jaga kondisi kesehatanmu Destya.”
“Sudah dulu ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumusalam.”
Raka lalu memutuskan sambungan telponnya.
“Raka yang barusan nelpon kamu ?”
“Iya.”
“Kamu beruntung banget Des, dikelilingi laki – laki yang mencintaimu dengan tulus.”
“Apa sih Sarah. Aku hanya mencintai Reyhand. Hanya dia laki – laki yang aku cintai di dunia ini.”
“Iya Des, aku tahu akan hal itu. Apa kamu gak lihat Raka gak henti – hentinya mengejarmu terus meskipun dia tahu kalau kamu sudah memiliki kekasih.”
“Kadang aku suka kasihan sama dia yang terus memperjuangkan cintanya yang tak kunjung terbalas. Cintanya padamu begitu besar.”
“Aku sudah memiliki kekasih Sarah, aku hanya menganggapnya sebagai teman tidak lebih.”
“Ya Destya, aku gak memintamu untuk mencintai Raka. Aku kadang kasihan aja sama dia, dia ngejar kamu terus – terusan dari jaman mopd. Padahal yang menyukai Raka itu banyak lo di sekolah tapi dia cuman menyukai satu wanita yaitu kamu.”
Destya memang bisa merasakan akan sikap perhatian Raka yang lebih padanya. Destya ingat bagaimana Raka menembaknya dulu di depan kelas di depan banyak orang, namun Destya menolaknya saat itu. Tapi Raka tidak pernah membencinya sedikitpun meskipun Destya sudah menolaknya beberapa kali.
Destya menghembuskan nafas dengan kasar mengingat kejadian tersebut. Tapi perasaannya tidak bisa dibohongi, laki – laki yang dicintainya bukanlah Raka melainkan adalah Reyhand.
“Ayo Des, kita beli bubur sekarang keburu siang.” Ajak Sarah yang melihat Destya masih berdiri mematung dan melamun.
“Ya udah ayo.”
Mereka langsung pergi untuk sarapan, dan berniat langsung pergi ke rumah sakit.
__ADS_1