
“Sarah, kamu sudah baikan ?” Tanya Destya pada Sarah yang baru datang ke kelas dengan kaki pincang.
“Maaf ya aku tidak bisa menengokmu kemarin.”
“Gak papa kok Des, ini cuman terkilir aja bentar lagi juga sembuh.”
“Iya tadinya aku berencana mau ke rumahmu Sarah, tapi kemarin aku harus membantu Ibuku karena banyak pesanan.”
“Gak papa Des, aku ngerti kok.” Sambil tersenyum.
“Oh ya Sarah, hari Senin depan kita mulai praktek ya ?”
“Iya Des, aku jadi takut.”
“Kenapa ?”
“Iya takut aja soalnya kan kita terjun langsung ke dunia kerja bertemu dengan para Dokter dan perawat. Terus gimana kalau pegawai – pegawai disana pada jutex.”
“Gak usah takut Sarah. Kan kita barengan.” Ucap Destya menenangkan Sarah yang berfikiran buruk.
Sarah yang melihat mata Destya bengkak menjadi bertanya – tanya.
“Des, mata kamu kenapa ? Kamu abis nangis ya ?”
“Nggak papa kok Sarah.”
“Jangan bohong padaku Des ? Aku kan sahabatmu Des. Ayo dong cerita siapa tahu aku bisa bantu ?”
“Reyhand, Sarah.....”
Tak lama kemudian datang lah Bu Rika, membawa soal ulangan ditangannya.
“Des, ceritanya entar ya pas istirahat di kantin.”
“Anak – anak hari ini kita ulangan ya, Ibu harap hasilnya memuaskan. Untuk absensi 1 – 17 tetap di dalam kelas, dan untuk absensi nomor 18 – 35 silahkan tunggu diluar.
“Des, hari ini kita ulangan ?” tanya Sarah yang terkejut karena hari ini ada ulangan.
“Iya kan kemarin lusa Bu Rika udah bilang, kemarin malam juga aku udah chat kamu Sarah, tapi kamu gak balas chat ku.”
“Duh Des, aku belum belajar kemarin aku tiduran aja seharian di ranjang gak ngapa – ngapain.”
“Kamu beneran lupa Sarah ?”
"Iya Des."
“Sarah, nomor absensimu berapa ?” tanya Bu Rika yang melihat Sarah masih diam dibangkunya dan mengobrol dengan Destya.
“Dua puluh sembilan Bu.”
Sarah pun bergegas menunggu di luar.
“Kenapa aku bisa sampe lupa kalo hari ini ulangan.” Gumam Sarah dalam hatinya.
“Raka, nanti kamu jangan pelit ya.”
“Pelit kenapa ?” Tanya Raka dengan heran.
“Semalem aku gak belajar, aku nyontek ya Ka. Plisss.”
“Nggak ah kamu kan tau Bu Rika kayak gimana kalau lagi ngawas ulangan.”
“Ayolah Raka plisss.”
“Gak mau ah Sarah, kalo ketahuan gimana coba ? Emang kamu mau tanggung jawab ?”
Sarah yang mendengar ucapan Raka, langsung cemberut.
__ADS_1
Di dalam kelas Bu Rika sedang mengawas siswanya yang sedang mengikuti ulangannya. Bu Rika selalu ingin memastikan siswanya tidak ada yang mencontek. Bu Rika melihat ada salah satu siswinya yang terlihat mencurigakan. Akhirnya Bu Rika menghampirinya dan melihat kalau ada contekan di bawah kertas soal ulangan.
Clara yang melihat Bu Rika menghampirinya mendadak gugup dan langsung menyembunyikan hasil contekannya.
“Sudah menconteknya ???” Tanya Bu Rika dengan nada datar.
Keringat dingin mulai bercucuran di tubuh Clara.
“Kenapa diam ?” tanya Bu Rika pada Clara yang kelihatan gugup sekali.
“Ti...ti...tidakkk Bu.” Dengan nada terbata – bata.
“Coba Ibu lihat tanganmu.”
Clara enggan menunjukkan tangannya, ia tetap menyembunyikan tanggannya di bawah meja.
Bu Rika lalu mengambil lembar kertas jawaban lalu merobeknya. Sontak siswa - siswi yang lain merasa terkejut dan takut.
“Silahkan keluar dari kelas saya !”
“Ta...tta..tapi Bu.”
“Tidak ada tapi – tapian ayo segera keluar dari kelas saya.”
“Saya tidak mau jika ada yang mencontek ketika ulangan di kelas saya. Segera keluar !!!”
Clara pun akhirnya segera keluar dari kelas ia pun mendengus dengan kesal karena semua murid melihatnya mencontek dan membuatnya jadi malu.
“Sialan kenapa Bu Rika bisa tahu sih kalau gue nyontek, padahal gue dari dulu itu penyontek profesional baru kali ini gue ketahuan. Sial ... Siaaalll." gumamnya dengan kesal.
Semua siswa yang menunggu diluar, melihat Clara keluar di jam ulangan Bu Rika dengan wajah bete, siswa lain melihatnya dengan heran. Karena mereka tau ada aturan khusus di kelas Bu Rika ketika ulangan tidak boleh meninggalkan ruang kelas dengan alasan apapun.
Setelah selesai ulangan semua siswa bergegas ke kantin, begitu juga dengan Destya dan Sarah.
“Des, kenapa si Clara anak baru itu bisa meninggalkan kelas Bu Rika tadi padahal kan baru beberapa menit ulangannya juga?”
“Tadi Clara ketahuan nyontek di kelas.”
“Gimana Sarah, kamu bisa jawab soal ulangan tadi ?”
“Alhamdulillah 80% gak bisa. Hehe.” Sarah menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
“20% lagi berarti bisa ?”
“20% nya lagi aku masih remang – remang Des gak tau bener gak tau nggaknya. Soalnya tadi di setiap soal ada 2 jawaban sih yang menurut aku benar. Hehe”
“Ya ampun Sarah, masa sih dari 40 soal yang Bu Rika kasih kamu gak bisa mengerjakan satu soal pun.”
“Abis gimana lagi Des, belajar juga enggak.”
“Udahlah Des, jangan ngomongin ulangan tadi aku makin pusing.”
“Oh ya Des, gimana tadi kamu katanya mau cerita ?”
Seketika wajah Destya terlihat sedih, ia masih ingat bagaimana kemarin Adinda berusaha mendekati Reyhand ketika mereka sedang makan di cafe.
“Kenapa Des ?”
Destya tidak menjawab pertanyaan Sarah, air matanya pun berlinang.
Sarah yang melihat Destya sedih segera memeluk sahabatnya itu.
“Nanti aja Des ya ceritanya saat hatimu udah tenang.” Ucap Sarah menenangkan Destya.
Raka yang baru datang ke kantin segera menghampiri mereka berdua yang masih berpelukan.
“Ikut gabung ya.” Raka pun duduk di samping Destya.
__ADS_1
Raka yang melihat Destya meneteskan air matanya segera bertanya.
“Destya, kamu kenapa ?”
“Kamu apain sih Sarah, Destya sampe nangis gini.”
“Apaan sih Raka, nuduh mulu.” Jawab Sarah dengan ketus.
“Aku gak papa kok Raka, cuman lagi kelilipan aja.”
Raka bisa melihat kalau Destya itu sedang berbohong padanya.
“Ya udah, mending kita makan nih mie ayamnya keburu dingin.” Ucap Sarah.
Raka pun akhirnya memesan menu makanan yang sama.
“Nambah satu lagi ya Mbak.” Ucap Raka pada pelayan kantin.
“Ngikut – ngikut mulu nih Raka. Kayaknya kamu selalu ngikut deh kemana dan dimana pun kita berada.” Ketus Sarah.
“Emangnya gak boleh ?”
“Gak”
“Kenapa sih kalian itu kerjaannya cek cok mulu, gak pernah akur.” Jawab Destya yang kesal pada kedua temannya itu.
Sarah dan Raka pun akhirnya diam dan melanjutkan kembali makannya.
Karena hari ini adalah hari terakhir sekolah bagi kelas 11 sebelum praktek kerja, mereka pulang lebih cepat dari biasanya. Karena mulai hari Senin depan semua siswa kelas 11 mulai melaksanakan praktek kerja sebagai syarat agar bisa mengikuti Ujian Sidang Akhir bagi siswa SMK.
Raka pun berniat mengajak Destya nonton.
“Des, kita nonton yuk !!! Biar refesh sebelum praktek nanti. Aku bayarin tiketnya mau gak ?”
“Maulah Raka.” Jawab Sarah dengan cepat.
“Ayolah Des, mumpung dibayarin Raka nih. Yah mau yah ???”
“Ayo, tapi sama Sarah ya.”
“Iya.”
Raka pun menyetujuinya agar bisa mengajak Destya pergi, meskipun ada Sarah yang nantinya akan menggangunya ketika sedang bersama Destya.
“Kita kesana naik apa ?” tanya Sarah.
“Sarah kamu pake ojol aja ya ? Destya denganku.”
“Boleh asal dibayarin lagi. Hehe."
“Iya nanti aku yang bayar.”
Mereka pun segera menuju bioskop terdekat. Sesampainya di bioskop Destya teringat pada Reyhand, takut Reyhand datang menjemputnya. Namun handphone Destya kehabisan baterai dan meminjam handphone Sarah. Untung Destya hafal nomor Reyhand sehingga ia bisa menghubungi Reyhand.
Reyhand yang baru keluar kelas mendengar handphonenya berbunyi dengan ID nomor tidak dikenal, mengabaikannya karena semalam juga Adinda menghubungi Reyhand dengan nomor yang berbeda - beda.
"Ini pasti si Adinda." gumamnya dalam hati.
Akhirnya Reyhand buru – buru pulang dijemput Pak Joni, karena kakinya masih sakit belum bisa mengendarai motor sendiri.
Reyhand meminta Pak Joni untuk mengarahkan mobilnya ke sekolah Destya. Reyhand berencana menjelaskan kejadian kemarin di cafe agar Destya tidak salah paham padanya.
“Sarah, kenapa Reyhand gak mengangkat telponku ya.”
“Mungkin masih di kelas Des. Coba kamu kirim pesan saja. Mungkin nanti dia akan membacanya."
Destya pun mengangguk dan mengirimkan pesan pada Reyhand.
__ADS_1
Raka yang mendengarnya tersenyum senang, karena kalau Reyhand mengangkat telponnya itu akan mengganggunya untuk mendekati Destya. Raka sengaja memesan kursi yang berdekatan dengan Destya.
Raka begitu senang sekali bisa bersama dengan Destya, meskipun Sarah juga ikut. Berbeda dengan Destya ia nampak tidak tenang memikirkan Reyhand yang tidak menjawab telponnya. Sedangkan Sarah, ia sedang asyik sendiri menonton dan makan popcorn dengan gratis.