
Ini adalah hari pertama Destya dan Sarah melakukan praktek kerja di rumah sakit. Sarah merasa sedikit gugup ketika sampai di rumah sakit tersebut karena ditempatkan di tempat yang berbeda dengan Destya.
Di jam istirahat mereka pun bertemu dan makan siang bersama di kantin rumah sakit tersebut.
“Des, aku gak pd banget praktek tadi.”
“Kenapa ?”
“Gak pd aja, aku takut salah ngasih obat ke pasien.”
Destya tertawa mendengar perkataan Sarah.
“Kenapa kamu ngetawain aku Des ?”
“Kamu itu Sarah ada – ada saja, yang ngasih obat kan Dokternya bukan kamu, disini kan kita masih pelatihan Sarah. Sudahlah Sarah mending kita makan keburu masuk.”
Destya dan Sarah segera menghabiskan makan siangnya, dan bergegas kembali ke ruangan masing – masing.
Di saat praktek, karena tidak terlalu banyak pasien Destya memikirkan Reyhand yang belum mengabarinya hingga saat ini.
“Ayo Destya fokus fokus.” Gumamnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Destya berusaha membantu perawat rumah sakit yang lain agar ia ada kegiatan untuk laporan prakteknya. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, saatnya ia pulang. Destya menunggu Sarah sudah hampir setengah jam, namun Sarah belum juga menunjukkan batang hidungnya.
“Dimana sih kamu Sarah, nomor ponselmu juga tidak aktif.” Gumam Destya yang mulai bosan menunggu Sarah.
“Raka, Clara ? Kalian disini ?” tanya Destya heran melihat kedatangan Raka dan juga Clara yang menghampirinya.
“Aku kan praktek di daerah sini Des, kamu praktek di rumah sakit ini ?”
“Iya Raka, aku praktek disini dengan Sarah.”
“Berarti tempat praktek kita berdekatan dong.” Seru Raka yang merasa senang bisa bertemu dengan Destya.
__ADS_1
Clara memasang wajah tidak suka karena bertemu dengan Destya.
Di kejauhan Sarah berlari memanggil Destya.
“Destyaaa......”
“Sarah, darimana saja kamu lama sekali ?” ketus Destya yang sudah bosan menunggunya.
“Aku tersesat Des, rumah sakit ini banyak sekali lorongnya.” Jawab Sarah dengan suara terengah – engah.
Destya hanya geleng – geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya itu.
“Raka Clara, kita pulang duluan ya.” Sambil menarik tangan Sarah agar segera pulang.
“Des, kenapa si Clara bisa sama Raka?”
“Mana aku tahu.”
“Iya mereka satu kelompok.”
“Kok bisa sih.”
“Mana aku tau Sarah, kan yang nentuin kelompoknya bukan aku.”
“Aku gak suka sama si Clara anak baru yang songongnya minta ampun. Kamu liat gak Des, tadi dia mendelik sinis gitu pas liat kita.”
“Apa sih Sarah ngegibah mulu, udah mending kamu isi buku kegiatan praktek hari ini keburu lupa. Lalu kita cari makan di sekitaran sini.”
“Mending cari makan dulu Des aku udah lapar, keburu malam banget. Emangnya kamu mau ada kejadian horror kayak kemarin malam.” Gumam Sarah bergidik ketakutan mengingat kejadian kemarin malam.
“Ya udah ayo.”
Mereka berdua memesan mie tek – tek yang sedang mangkal tak jauh dari kostan mereka.
__ADS_1
“Des, kenapa kamu kayak lagi banyak pikiran gitu ?" Tanya Sarah karena melihat Destya melamun terus tanpa memakan mie tek – teknya.
“Reyhand belum menghubungiku Sarah, aku merindukannya Sarah.”
“Yaelah Des, kirain kamu kenapa.”
“Kamu gak ngerasain apa yang aku rasain Sarah, coba aja kamu ada di posisi aku, mungkin kamu juga akan merasakan hal yang sama.” Jawab Destya kesal.
Seketika Sarah teringat dengan laki – laki misterius yang sering mengirimkan pesan padanya tanpa ia balas. Ia juga merindukan laki – laki misterius itu yang sudah lama tidak mengirim lagi pesan padanya.
“Mungkin Reyhand lagi sibuk Des, dia kan bantar lagi mau Ujian Nasional Des.” ucap Sarah menangkan Destya.
Tak lama kemudian handphone Destya berdering. Destya langsung mengangkat telponnya itu tanpa melihat ID pemanggilnya.
“Hallo Reyhand ?”
“Aku Raka, bukan Reyhand.”
“Destya, bahkan diingatanmu sekarang ini hanya dia.” Batin Raka merasa hatinya kecewa karena Destya memanggilnya Reyhand.
“Maafkan aku Raka, ada apa Raka kau menelponku ?”
“Aku hanya ingin mengajakmu makan bakso di cafe yang dekat rumah sakit tempat praktekmu setelah pulang praktek besok.”
“Oh baiklah Raka.”
Destya langsung menutup sambungan telpon dari Raka, ia kembali cemberut karena Reyhand tidak menghubunginya.
“Yah dimatiin.”
“Apa hanya dia yang ada di hati dan fikiranmu Destya ? Padahal aku lebih dulu mendekatimu Destya. Tapi kenapa hanya dia yang ada di memori ingatanmu.”
Raka menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan memukul – mukul bantal untuk melampiaskan kekesalannya.
__ADS_1