
Sesampainya di rumah Destya kembali teringat akan ucapan wanita tadi, yaitu Adinda. Destya merasa wanita itu seperti sedang mengejar Reyhand dan berusaha untuk mendekatinya. Air matanya kembali menetes. Meskipun Reyhand nampak tidak memperdulikannya, namun Destya tetap takut jika akhirnya ia harus berpisah dengan Reyhand.
Jika dilihat penampilan Adinda terlihat lebih modis dan terlihat dari kalangan orang kaya berbeda dengan dirinya yang tampil biasa – biasa saja dan sederhana. Kemungkinan besar orang tua Reyhand pasti akan lebih memilihnya.
“Reyhand, apa ini saat - saat terakhir kita bersama.”
“Aku sangat mencintaimu Reyhand, kamu selalu ada di setiap aku membutuhkanmu. Kamu selalu membuatku menjadi wanita yang paling bahagia dan beruntung.”
“Kamu selalu ada di hatiku Reyhand.” Destya semakin menangis, ia membayangkan jika akhirnya dia harus berpisah dengan Reyhand.
Bu Desi, Ibunya Destya yang mendengar anaknya menangis di kamar segera menghampirinya.
“Kenapa kamu Des ? Cerita sama Ibu, biar Ibu bisa bantu apa permasalahanmu itu.” Sambil memeluk Destya yang masih menangis.
Destya tidak menjawab pertanyaan Ibunya, dia semakin menangis. Hatinya terasa sesak, Destya tidak sanggup kalau harus kehilangan Reyhand kekasih yang sangat dia cintai.
“Sudah Des, kalau kamu belum mau cerita sama Ibu. Sebaiknya kamu istirahat dan tenangkan diri kamu, setelah itu kamu langsung makan.” Sambil mengusap air mata anaknya.
Destya pun bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Reyhand yang belum mendapat kabar dari Destya langsung menghubunginya, namun Destya tidak mengangkat panggilan telpon darinya.
“Kenapa Destya tidak menjawab panggilanku ya Ren ?”
“Santai bro, Lho gak usah khawatir yang berlebihan gitulah Rey.”
“Ya harusnya kan dia sudah mengabariku sejak tadi Ren kalau dia udah sampe rumah”
“Lo liat aja di aplikasinya udah sampe apa belum. Tadi yang pesaninnya lo kan ?”
“Iya juga ya, kenapa lo gak ngasih tau gue dari tadi sih Ren ?”
“Lo kan baru ngomong barusan ?”
Reyhand pun mengecek aplikasinya dan Destya sudah sampai sekitar 30 menit yang lalu.
“Kenapa Destya tidak mengabariku ? Apa dia marah karena tadi Adinda mendekatiku ?” gumamnya dalam hati.
“Ya udah Ren, gue mau mandi dulu baju gue kotor nih bekas jatuh tadi.” Reyhand pun beranjak menuju kamarnya.
Tak lama kemudian Adinda datang lagi ke Reyhand. Kebetulan Rendi sedang duduk menonton TV di rumah Reyhand. Rendi yang melihat Adinda tidak mengedipkan matanya, Rendi terus memandang Adinda.
“Hey lo pasti temennya Reyhand kan ? Dimana Reyhand sekarang ?”
Rendi belum menjawab pertanyaan Adinda ia masih menatap Adinda yang duduk di depannya. Rendi terlihat terpesona dengan kecantikan Adinda.
“Ini cewek cantik juga, gue jadi inget si Sisil mantan gue.” Gumamnya dalam hati.
Adinda melempar kacang kulit yang ada di meja tersebut untuk membuyarkkan pikiran Rendi.
“Aaawww ....” Reyhand memegang pipinya yang terasa sakit karena lemparan kacang kulit dari Adinda.
“Hey, gue nanya dimana Reyhand sekarang ?”
__ADS_1
“Lo siapa ?” tanya Rendi balik.
“Jawab dulu pertanyaan gue.” Bentak Adinda.
“Gue gak mau jawab, sebelum lo jawab pertanyaan gue.”
Adinda pun mengalah.
“Gue Adinda. Dimana Reyhand ?”
“Dia di kamarnya.”
Adinda beranjak dari duduknya hendak menuju ke kamar Reyhand.
“Mau kemana lo ?”
“Gue mau ke kamar Reyhand.”
“Ngapain ?”
“Bukan urusan lo.”
“Gila nih cewek, cantik sih cantik tapi gak punya sopan santun banget.” Gumam Rendi dalam hati.
Reyhand yang baru keluar dari kamarnya mendengar ada suara ribut segera turun ke bawah.
“Adinda ??? Ngapain lagi kamu kesini ?” tanya Reyhand dengan ketus karena melihat Adinda yang akan naik di tangga rumahnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Reyhand, Adinda langsung memeluk Reyhand.
Adinda tetap memeluk Reyhand semakin erat.
Reyhand pun mendorong Adinda yang tidak mau melepaskan pelukannya. Adinda pun tersungkur ke lantai karena Reyhand mendorongnya dengan sangat kuat.
“Aaaww sakit.”
“Reyhand, kenapa kau mendorongku ?”
Reyhand tidak menjawab pertanyaan Adinda. Dia langsung memanggil Pak Joni untuk membawa Adinda keluar dari rumahnya. Pak Joni pun membawa Adinda untuk segera keluar dari rumah Reyhand.
Adinda mendengus dengan kesal karena Reyhand mengusirnya lagi.
"Reyhand kamu harus menjadi milikku, aku harus segera mencari tau wanita itu secepatnya dan segera menyingkirkannya dari hidup Reyhand." gumamnya dalam hati dan melajukan mobilnya menjauhi rumah Reyhand.
“Rey, lo kok kasar gitu ?”
“Gue gak akan kasar kalau dia bertingkah sopan. Lo liat kan dia langsung meluk gue tadi dan dia malah mau naik tangga rumah gue.”
“Kenapa lo gak larang dia Ren ?”
“Udah gue larang tapi dia malah lanjut terus.”
“Kayaknya si Adinda itu suka banget sama lo Rey ? Liat lo dia langsung nemplok gitu. Btw dia cantik Rey.” Goda Rendi pada Reyhand.
__ADS_1
“Ngomong apa lo barusan ? Heh asal lo tau aja ya Ren, hati gue cuman buat Destya seorang gak akan ada wanita lain selain Destya di hati gue.”
Rendi tidak berkata apa – apa lagi. Rendi tidak mau jadi amukan Reyhand yang sedang marah. Dia pun kembali menonton TV lagi.
\=\=\=\=
Destya yang melihat ada panggilan dari Reyhand langsung menghubunginya lagi.
“Hallo Rey, maaf tadi handphonenya langsung aku charge.”
“Iya sayang gak papa. Aku hanya khawatir padamu belum mengabariku.”
“Maaf sudah membuatmu khawatir. Bagaimana dengan kakimu ?”
“Sekarang kakiku sudah tidak terlalu sakit. Hanya sedikit linu saja karena tadi terkilir.”
“Kalau ada apa – apa kamu kabari aku Rey .”
“Iya sayang.”
“Sudah dulu ya, aku harus membantu Ibuku dulu.”
Destya pun menutup teleponnya. Reyhand yang mendengar suara Destya merasa bahagia.
“Tadi marah – marah. Giliran Princesnya yang telpon senyum – senyum sendiri.”
“Makannya lo cepet – cepet cari lagi yang baru, biar lo bisa bahagia.”
“Apaan sih lo ?”
“Lo belum move on ya dari si Sisil ?” Tanya Reyhand yang penasaran karena sahabatnya belum memiliki kekasih lagi padahal dia sudah menjomblo hampir 2 tahun.
“Gue gak mau aja patah hati untuk yang kesekian kalinya. Rey.”
“Makannya lo itu kalo nyari cewek jangan yang asal cantik aja. Tapi cari cewek itu yang baik Ren.”
“Iya iya.”
“Apa perlu gue cariin biar lo gak jones terus ?” goda Reyhand.
“Gak perlu Rey, cewek – cewek udah pada antri. Lo gak usah ngerepotin diri lo sendiri.” Jawab Rendi dengan ketus karena tidak terima dengan ucapan Reyhand.
“Rey, lo nginep di rumah gue ya hari ini. Nyokap ama bokap lo lagi keluar kota kan ?”
“Oke tapi ada syaratnya ?”
“Apa ?”
“Lo mesti nyediain makanan dan cemilan yang banyak.”
“Dasar rakus.”
“Hahahahha mau gak lo ?”
__ADS_1
“Iya iya Ren, gue beliin apapun makanan yang lo mau hari ini.”
“Gitu dong itu namanya simbiosis mutualisme.”