
Destya yang baru pulang praktek melihat ada notifikasi panggilan tak terjawab di ponselnya.
“Ini nomor siapa ?” gumamnya dalam hati.
“Kenapa Des ?” tanya Sarah yang merasa penasaran karena Destya menatap handphonenya terus.
“Ini ada beberapa notifikasi panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.”
“Oohhh mungkin itu orang iseng, kalo penting dia pasti mengirimu pesan. Ya udah ayo kita ke cafe sana, Raka pasti udah nungguin.”
Destya dan Sarah segera menuju cafe tersebut yang lokasinya tak jauh dari rumah sakit tempat mereka praktek.
“Kemana sih Raka lama banget.” Gumam Sarah yang kesal karena Raka belum sampai di cafe juga ditambah lagi perutnya yang sudah merasa lapar sejak tadi.
“Des, coba kamu telpon Raka, handphone ku mati nih.”
“Tuh orangnya !” seru Destya.
“Raka kenapa lama banget sih ? Pasti karena si rese ini.” Ketus Sarah yang melirik ke arah Clara yang sedang menatapnya dengan tajam.
“Maaf jalanannya macet Sarah.”
“Apa lo bilang ?” jawab Clara dengan nada tinggi.
“Kayaknya cewek yang di sebelah Raka ini budeg kali ya.”
Clara tidak menjawabnya ia hanya menatap Sarah dengan tatapan sinis.
“Sarah udah ! kita kan kesini mau makan, bukan mau cari ribut.”
“Sialan ni si Sarah, kali ini gue diemin tapi suatu saat nanti gue bakal bales lo.” Gumam Clara dalam hati yang berusaha untuk meredam emosinya di hadapan Raka.
“Oh ya kalian belum pesan makanan ?”
__ADS_1
“Kamu liat aja Raka meja kita kan kosong nunggu kamu dari tadi.”
“Ya udah sebagai permintaan maaf aku bayarin makan kalian.”
Raka segera memanggil pelayan cafe tersebut dan memesan beberapa jenis makanan.
“Destya, wajahmu pucat sekali. Kamu sakit ?”
“Aku baik – baik saja Raka. Ini hanya kelelahan biasa karena tadi banyak sekali pasien.”
“Apa kau yakin ?”
Destya hanya mengangguk.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Destya makan dengan tidak berselera karena memikirkan Reyhand yang belum memberinya kabar. Raka yang melihat Destya hanya memutar - mutar sendoknya menjadi bertanya – tanya, karena tidak biasanya Destya murung seperti ini. Clara yang melihat Raka melirik Destya terus – terusan merasa cemburu.
“Apa sih lebihnya cewek ini.” Gumamnya dalam hati.
“Raka, kita pulang duluan ya.”
“Makanannya kan belum abis Des.” Jawab Sarah yang berniat menambah lagi isi piringnya.
“Aku kurang enak badan.”
“Biar aku antar kamu pulang Des.”
“Tidak perlu Raka. Terimakasih tawarannya.”
Destya hendak beranjak dari kursinya diikuti oleh Sarah. Seketika kepala Destya terasa pusing dan berputar – putar, akhirnya Destya pun pingsan. Raka yang melihatnya segera menahannya agar tidak jatuh ke lantai.
“Des, Des, Destyaa !” Sambil menepuk – nepuk pipi Destya yang tengah pingsan di pangkuannya itu.
“Sarah, kamu bawa minyak angin ?”
__ADS_1
Sarah menggelengkan kepalanya.
“Bisa – bisanya dia mencari kesempatan untuk menarik perhatian Raka.” Gumam Clara kesal.
Tak lama kemudian pelayan cafe tersebut membawa minyak angin, karena melihat ada pelanggannya yang pingsan. Raka langsung mengoleskan minyak angin ke pelipis Destya dan mengoleskannya sedikit pada bagian hidung Destya agar segera sadar.
“Rey....haaand, Reyhaaand.” Seru Destya dengan suara lirih.
Destya membuka matanya perlahan, ia berniat beranjak dari pangkuan Raka namun kepalanya masih terasa sangat pusing.
Seorang pelayan cafe tersebut memberi air teh manis hangat pada Destya.
“Aku mau pulang sekarang.”
“Aku akan mengantarmu pulang Destya.” Jawab Raka.
“Aku baik – baik saja Raka.”
“Aku tidak bisa membiarkanmu pulang bersama Sarah dengan kondisimu seperti ini.”
Akhirnya Destya pun menyetujuinya.
“Clara, kamu naik angkutan umum saja ya. Aku akan mengantar Destya dulu.”
“Apa ? Angkutan umum ?”
“Iya.” Jawab Raka singkat dan beranjak mengantar Destya untuk pulang.
Clara mendengus dengan kesal, karena harus pulang naik angkutan umum.
“Si Destya pake caper banget sih sama Raka.” Gumam Clara dengan kesal.
“Kita naik motor bertiga Raka?”
__ADS_1
“Iya, kamu di belakang takutnya Destya pingsan lagi.”
“Hhhmmm.”