Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 4


__ADS_3

Keesokan harinya Reyhand masih belum terlihat keluar dari kamarnya.


“Ini Pa teh nya.” Bu Kirana menyodorkan secangkir teh hangat untuk suaminya yang sedang asyik membaca koran.


“Makasih ya Ma.”


"Sama - sama Pa"


“Pa, Reyhand masih belum keluar dari kamarnya.”


“Udah Mama coba panggil tadi untuk sarapan pagi tapi Reyhand tetap gak mau keluar.”


“Mama takut terjadi apa – apa sama Reyhand Pa.”


“Sudahlah Ma, jangan khawatir yang berlebihan.”


“Reyhand kan sudah besar sebentar lagi lulus SMA, ya mungkin dia hanya terkejut akan tinggal disana.”


“Tapi Reyhand tidak pernah sampai mengurung diri di kamar Pa.”


“Hari ini kan hari Senin, Reyhand mungkin sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah, mungkin sebentar lagi keluar Ma.”


“Reyhand itu kan laki-laki Ma, dia gak mungkin terus-terusan di dalam kamar.” Tegas Pak Daniel pada istrinya yang terus merasa khawatir pada anaknya.


“Apa perlu kita dobrak saja Pa pintunya ?”


“Memangnya di rumah ini gak ada kunci cadangan Ma sampai harus di dobrak?”


Bu Kirani langsung bergegas, ia baru ingat kalau ada kunci cadangan kamar Reyhand. Bu Kirani mengambil kunci tersebut dan ketika hendak membuka pintu kamar Reyhand, Reyhand sudah berdiri hendak keluar kamar. Wajahnya nampak lesu, matanya bengkak karena semalam ia menangis dan akhirnya tertidur. Bu Kirani menghampiri Reyhand dan memeluknya. Bu Kirani merasakan suhu tubuh Reyhand yang panas.


“Reyhand, kamu demam nak?"


“Reyhand gak kenapa – kenapa Ma, Reyhand berangkat sekolah dulu ya Ma.”


“Lebih baik kamu gak usah masuk sekolah dulu, nanti mama telpon ke sekolahmu saja.”


“Gak Ma, Reyhand gak papa.”


“Ya sudah kamu sarapan dulu, biar Pak Joni yang antar kamu ke sekolah kalau ada apa – apa kamu telpon Mama.”


Reyhand mengangguk tanda setuju.


Tak lama kemudian Pak Daniel datang menghampiri Reyhand dan melihat seisi kamar anaknya yang seperti kapal pecah, karena semalam Reyhand melempar semua barang – barang di kamarnya ke lantai.


“Reyhand, apa yang kamu lakukan ?” Dengan nada tinggi.


Reyhand tidak menjawab pertanyaan Papanya ia bergegas pergi dari kamarnya.


“Reyhand berangkat sekolah dulu. Assalamu’alaikum."


“Wa’alaikumusalam”


“Reyhand sarapan dulu Nak.” Bu Kirani memanggil Reyhand memintanya untuk sarapan namun Reyhand mengabaikannya.


“Kenapa dengan anak itu.”


“Sudahlah Pa, nanti biar Bi Surti yang beresin kamarnya.” Bu Kirani mengejar Reyhand yang sudah pergi meninggalkan kamarnya.


"Reyhand, hari ini biar Mama saja yang mengantarmu ke sekolah, kebetulan jam meeting Mama dikantor ditunda."


Reyhand hanya diam tak menjawab.


Bu Kirani memanggil Bi Surti yang sedang menyiram tanaman di halaman depan.


“Bi, tolong sekarang bawakan sarapan untuk Reyhand lalu bersihkan kamar Reyhand seperti semula ya.”


“Baik Nyonya.” Bi Surti segera masuk ke dalam menyiapkan sarapan Reyhand seperti yang diinstruksikan oleh Bu Kirani.”


Tak lama kemudian Reyhand masuk ke dalam mobil Ibunya. Bu Kirani melajukan mobilnya ke sekolah Reyhand.


Rey, ayo sarapan dulu nanti kamu sakit, semalam kamu gak makan malam kan.”


“Reyhand gak berselera makan nanti saja Ma.”


“Ma, kenapa kita harus tinggal di Jerman ?”


Bu Kirani menarik nafas panjang, sesungguhnya ia setuju dengan Reyhand agar tetap tinggal di Indonesia. Namun apa dayanya sebagai seorang istri Bu Kirani hanya bisa mematuhi permintaan suaminya itu.


“Ya kita akan tinggal disana, kamu lihat kan Grandma semakin tua, kita harus merawatnya.”

__ADS_1


“Kenapa Grandma tidak tinggal disini saja Ma bersama kita ?”


“Kamu tau kan bagaimana Papamu.”


“Lagian kalo menurut Mama kalau kamu kuliah disana itu lebih bagus untuk masa depanmu. Pendidikan disana jauh lebih baik Rey."


“Sudah sampai Rey, jangan lupa sarapannya dimakan ya.” Bu Kirani pun melajukan mobilnya menuju ke perusahaan.


Reyhand tiba di kelas dengan tidak bersemangat, ia masih memikirkan permintaan Papanya untuk pindah ke Jerman. Seketika ia teringat dengan kekasihnya Destya. Reyhand mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Iya melihat ada 21 panggilan tak terjawab, dan 7 pesan belum terbaca. Sejak malam hingga pagi tadi Reyhand memang belum mengecek ponselnya. Ia pun segera membalas isi pesan Destya, namun tiba – tiba handphonenya mati.


“Aarrrggghhh siaaallll”


“Bagaimana aku bisa mengabari Destya." Ia mencari - cari chargernya di dalam tas namun tidak ditemukan.


“Aduhhhhh aku lupa, kemarin kan chargernya disimpan di bagasi motor.” Reyhand bingung bagaimana cara mengabari Destya karena handphonenya mati.


“Nyari apaan sih, heboh bener.” Tanya Rendi yang melihat Reyhand mengeluarkan semua isi tasnya.


“Gue nyari charger gue, tapi gue lupa malah naro di bagasi motor.”


“Di rumah lo gak ada listrik ya sampe harus charger di kelas.” Ucap Roy yang sedang melahap roti di dalam kotak sarapan Reyhand.


Rendi dan Roy adalah sahabat baik Reyhand. Mereka sudah bersahabat semenjak SD.


“Diem lho.” Ketus Reyhand pada Roy.


Tak lama kemudian, bel pun berbunyi tanda masuk kelas. Seorang guru masuk ke kelas. Seperti biasa sebelum belajar dimulai semua siswa berdo’a terlebih dahulu.


“Kumpulkan PR kalian.”


“PR ........”


Reyhand menepuk jidatnya ia melupakan tugasnya itu.


Siswa yang lain mengumpulkan tugasnya.


“Apa ada yang tidak mengumpulkan PR?” tanya Bu Sinta.


“Buku tugasnya kurang satu.”


Reyhand pun berdiri.


“Kamu tahu kan peraturan di kelas saya Reyhand.”


“I ... iiya Bu.”


“Lalu kenapa kamu masih berdiri disitu.”


“I ... iiya Bu.”


Semua siswa melihat ke arah Reyhand. Mereka merasa heran seorang Reyhand siswa terpandai di kelasnya dan selalu menjadi juara umum bisa melupakan PRnya. Begitu juga dengan Roy dan Rendi.


Bu Sinta adalah Guru Matematika. Dia terkenal sangat galak, siapapun yang tidak mengikuti peraturan di kelasnya tidak ada ampun baginya.


“Sial sial.”


“Kenapa aku melupakan tugas itu.”


“Ini semua gara – gara Papa.”


Reyhand merasa sangat kesal tadinya kemarin malam ia akan mengerjakan tugasnya karena di hari Sabtu sepulang les ia langsung pergi bersama Destya. Dan di Minggu pagi Reyhand juga pergi bertemu Destya. Rencananya di minggu malam kemarin Reyhand akan menyelesaikan tugasnya itu. Namun tidak disangka kemarin permintaan dari Papanya itu yang membuat Reyhand melupakan tugasnya.


Di kelas Destya tidak fokus dengan pelajarannya. Destya memikirkan keadaan Reyhand yang belum memberi kabar padanya. Ia melihat pesan di WhatsAppnya hanya centang biru tanpa ada balasan. Dan sekarang nomornya Reyhand tidak aktif.


Sarah teman sebangku Destya menyenggol tangan dan kaki Destya, karena sedari tadi Destya melamun terus.


“Des, Des, Destyaaa”


Destya hanya melirik ke arah sahabatnya saja tanpa bersuara.


Akhirnya bel istirahat pun berbunyi tanda jam istirahat.


Semua siswa keluar dari kelas. Tidak dengan Destya dan Sarah yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.


“Des, kamu kenapa sih dari tadi melamun terus.”


“Untung gak ketauan Bu Rika lho.”

__ADS_1


“Reyhand Sarah, dia belum mengabariku dari kemarin malam.” Mata Destya berkaca – kaca.


”Yaelah kirain ada apa.”


“Ke kantin yuk laper nih.”


“Aku gak laper Sarah, kamu saja yang ke kantin.”


Sarah mengurungkan niatnya untuk pergi ke kantin sendiri, karena tidak mau meninggalkan Destya sendiri di kelas dalam keadaan melamun terus.


“Mungkin pacarmu sibuk kali Des.”


“Ini tidak biasanya Sarah, dia selalu mengabariku setiap saat, aku takut terjadi sesuatu padanya.”


"Yang setia setiap saat hanya Rexona Des." ucap Sambil menahan tawa.


Destya yang melihat Sarah menertawakannya, menatapnya dengan tajam.


"Just kidding." Sarah mengangkat dua tangannya membentuk huruf V.


“Kenapa kamu tidak telepon temannya yang dulu pernah mengejar kamu siapa sih namanya aku lupa.”


“Maksud kamu Roy?”


“Iya dia kan satu sekolah dengan Reyhand, pasti dia tau keadaannya Reyhand.”


“Tapi, Reyhand pernah bilang padaku untuk tidak pernah berhubungan lagi dengannya.”


“Lagi pula aku sudah mengganti nomor ponselku agar Roy tidak menghubungiku lagi.”


“Pakai saja handphoneku.” Tawar Sarah pada Destya.


Destya pun menyetujuinya dan menghubungi Roy dengan handphone milik Sarah.


“Hallo Roy, ini aku Destya.”


"Hallo Destya tumben telepon aku kangen ya." Roy yang mendapat telpon dari Destya merasa berbunga - bunga karena dia memang pernah mengejar Destya sebelum Destya berpacaran dengan Reyhand.


“Apa Reyhand, masuk sekolah ?”


“Dia baik – baik saja kan ?”


“Aku ingin berbicara dengannya Roy, tolong berikan ponselmu padanya.”


“Iya dia masuk sekolah.”


“Tapi Reyhand sedang tidak baik – baik saja.” ucap Roy dengan ketus karena Destya menelpon dirinya hanya untuk menanyakan kabar Reyhand.


“Maksudmu ?”


“Iya dia dihukum karena tidak mengerjakan tugas.”


“Apa ?”


“Lalu dimana Reyhand sekarang ?”


“Dia sedang membersihkan toilet.”


“Ya ampun.”


“Ya sudah tolong sampaikan pada Reyhand kalau aku menghubunginya. Terimakasih."


Destya langsung menutup sambungan teleponnya.


“Gimana Des ?” tanya Sarah yang ikut penasaran.


“Reyhand baik – baik saja tapi dia dihukum karena tidak mengerjakan tugas.”


“Kok bisa?”


“Aku juga gak tau Sarah. Ayok kita ke kantin aku lapar!”


Destya yang sudah mengetahui keadaan Reyhand baik - baik saja membuat selera makannya datang lagi, meskipun ia tau Reyhand sedang dihukum karena tidak mengerjakan tugasnya, namun setidaknya hatinya sedikit lega kalau Reyhand baik – baik saja.”


“Katanya tadi gak selera makan.”


“Ya udah kalau kamu gak mau ikut.” Destya berjalan meninggalkan Sarah.


“Iikyutttt.” Sarah menyusul Destya yang sudah beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Setelah mendapat telepon dari Destya, Roy senyam – senyum sendiri ia akhirnya mempunyai nomor ponsel Destya. Sesungguhnya Roy sudah sejak lama menaruh hati pada Destya, namun Destya tak sedikit pun menoleh dirinya. Meskipun Roy dan Reyhand adalah sahabat namun perasaan tetap tidak bisa dibohongi. Di dalam hatinya Roy masih berharap Destya bisa mencintainya.


"Destya Destya kamu selalu ada dihatiku." gumam Roy dalam hati.


__ADS_2