Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 13


__ADS_3

Malam ini Roy merasa kesepian, karena biasanya teman kost sebelahnya suka bermain di kostannya, namun kali ini ia sedang pulang ke rumah orang tuanya. Belum lagi ia memikirkan orang yang dia kira Destya itu sedang sakit dan sampai saat ini belum membalas pesannya.


Ketika Roy yang mendengar handphonenya berbunyi langsung beranjak dari tempat tidurnya.


“Itu pasti Destya.” Gumamnya.


Roy yang melihat ID pemanggilnya Rendi langsung tidak bersemangat.


“Aaahhhh si Rendi ngapain tu anak, nelpon gue malam – malam gini.”


“Biarin aja deh, paling gue disuruh dengerin curhatannya.”


“Aduh ngapain sih si Rendi nelpon gue mulu.”


Akhirnya ketika Roy akan mengangkatnya, Rendi sudah mematikan telponnya.


Beberapa menit kemudian handpone Roy kembali berdering.


“Aduh apaan lagi nih si Rendi.”


Tanpa melihat ID pemangilnya, Roy langsung mengangkat telponnya.


“Apaan sih lo, gue mau tidur nih ngantuk." Rendi langsung menutup telponnya dan memejamkan matanya.


“Kok tumben ya si Rendi gak nyerocos, biasanya tu anak langsung nyerocos aja. Apalagi tadi gue gak ngangkat telponnya berkali – kali.”


“Bodo ah, mending gue tidur dulu.”


Roy berusaha memejamkan matanya namun tetap tidak bisa karena tadi terganggu suara telpon. Akhirnya Roy kembali memikirkan Destya.


“Apa gue coba telpon aja kali ya.”


“Mungkin Destya lagi malas baca pesan gue karena kebanyakan.” Dari kemarin Roy mengirimkan pesan pada orang yang ia kira Destya itu hingga ratusan kali.


Saat Roy melihat history panggilan ia terkejut melihat nama kontak Destya yang barusan menelponnya itu.


“Aaarrrggghhh .... sial.”


“Ternyata yang tadi telpon itu Destya.” Roy merasa menyesal karena langsung mematikan sambungan telponnya tadi.


“Gara – gara si Rendi rese itu.”


“Awas lo ya Ren.” Gumamnya dengan kesal.


“Mudah – mudahan Destya gak marah, karna tadi gue matiin telponnya.”


Roy nencoba menghubungi orang yang ia kira Destya hingga belasan kali, namun tidak diangkat.


“Pasti dia marah. **** banget sih gue.” Roy mengacak – acak rambutnya seperti orang frustasi.


Sarah yang mendengar handphonenya berbunyi terus, enggan untuk mengangkatnya.


“Pokoknya aku gak mau angkat.”


“Belum juga ngomong udah dimatiin.” Batin Sarah kesal.


\=\=\=\=


Keesokan paginya Reyhand dan Rendi belum melihat Roy.


“Ren, lo tadi berangkat gak sama si Roy ?”


“Nggak.”


“Kemana dia jam segini masih belum datang.”


“Pingsan kali.”


“Masa sih. Udah jam segini gak nongol - nongol.”


“Palingan bentar lagi Rey, lo kayak yang gak tau aja dia kan juara kesiangan kalo gak berangkat bareng gue.”


“Dasar tu anak gak ada kapoknya ya. Padahal baru kemarin dia dihukum Bu Sinta udah buat ulah lagi."


Hari ini Reyhand dan juga Rendi hanya belajar setengah hari, karena semua gurunya akan rapat untuk persiapan Ujian Nasional.


“Rey, ke kostan si Roy yuk.” Ajak Rendi pada Reyhand.


Reyhand pun menyetujuinya karena Destya pulang sekitar 3 jam lagi. Mereka pun langsung bergegas menuju kostan Roy.

__ADS_1


Mereka langsung masuk ke kamar Roy dan memanggil namanya. Reyhand dan Rendi sudah biasa keluar masuk kostan ini. Sehingga mereka berdua sudah tidak asing lagi ketika masuk kostan Roy.


“Roy, kenapa lo gak masuk tadi.” Tanya Reyhand yang melihat Roy sekujur tubuhnya masih ditutupi selimut.


“Lo pingsan ya ?” tanya Rendi.


Roy masih belum menjawab. Reyhand dan Rendi merasa keheranan. Mereka pun segera membangunkan Roy dengan menggoyangkan tubuh Roy agar segera bangun namun tidak berhasil. Kemudian mereka berniat untuk membuka selimut Roy.


“Waaarrrggghhh.”


Reyhand dan Rendi langsung terkejut.


“Sialan lo Roy.” Ucap Rendi yang terkejut.


“Apa – apaan sih lo Roy gak lucu. Pake acara gak masuk segala lagi.” Tanya Reyhand dengan ketus karena tingkah laku Roy yang membuatnya sampai terkejut.


“Hahahahahaha ...... lo pada takut ya ?”


“Tau gini ngapain juga kita kesini Rey.”


Roy menahan mereka berdua yang hendak bergegas pergi dari kamar Roy .


“Gue cuman bercanda doang woy.”


“Bercanda lo tu gak lucu tau Roy.”


“Sorry ... sorry bro.”


“Kenapa lo gak masuk ?”


“Gue bangun kesiangan. Pas gue bangun udah jam 7 pagi. Ya udah tidur pagi gue yang bersambung, gue lanjutin dan tamat karna lo berdua datang.


Reyhand dan Rendi hanya geleng – geleng kepala.


Beberapa menit kemudian mereka mencium bau aneh di dalam kamar Roy.


“Bau apaan sih ini. Lo nyium gak Ren ?”


“Iya gue juga dari tadi. Tapi ini makin lama kok makin bau ya ?”


“Roy lo nyium gak ? Baunya kok kayak bau pesing gitu. Masa lo gak nyium sih Roy ?”


“Ooohhhh itu, kayaknya itu bauuu.....”


“Semalem gue pipis di celana Ren, kemarin gue takut ke kamar mandi sendiri.” Sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Apa ????”


Rendi dan Reyhand pun segera keluar dari dalam kamar Roy, karena sudah tidak kuat mencium bau tersebut.


\=\=\=\=


Kali ini Reyhand tidak langsung meminta Destya untuk segera pulang ke rumahnya, ia mengajak Destya pergi ke cafe langganan mereka.


“Udah lama ya kita gak kesini.”


“Baru 2 hari kok Rey.” Jawab Destya sambil tersenyum.


“Masa sih ? Kok aku ngerasa kayak yang udah lama banget ya.”


“Itu hanya perasaanmu saja Rey.”


Tak lama kemudian datanglah seorang wanita yang tak lain adalah Adinda. Adinda yang melihat Reyhand sedang makan disana langsung menghampirinya.


“Reyhand, kamu disini juga ?”


“Adinda ?”


“Akhirnya kita ketemu lagi ya Rey, kalau jodoh memang gak kemana ?”


Destya yang mendengar perkataan Adinda langsung tersedak. Dengan spontan Reyhand langsung memberikan air minum untuk Destya. Adinda yang melihat Reyhand begitu memperhatikannya, menatapnya dengan tajam.


Adinda pun berniat untuk mencari – cari perhatian Reyhand. Tanpa basa – basi Adinda langsung duduk di samping Reyhand, dan memegang tangan Reyhand. Destya yang melihatnya Adinda menjadi tidak berselera makan.”


“Aku pulang duluan ya Rey, ada banyak tugas yang harus aku kerjakan.” Destya pun bergegas meninggalkan Reyhand dan Reyhand pun mengejarnya.


“Reyhand, tunggu !”


Reyhand mengabaikan Adinda dan melepaskan tangan Adinda yang mencoba menahannya dan bergegas mengejar Destya yang sudah keluar dari cafe lebih dulu. Adinda merasa kesal karena lagi – lagi Reyhand mengabaikannya.

__ADS_1


“Siapa wanita itu ? Kenapa Reyhand begitu peduli padanya.”


“Aku harus mencari tahunya nanti.”


“Tunggu Reyhand, suatu saat nanti kamu akan menjadi milikku seutuhnya.” Sambil tersenyum sinis.


Reyhand berusaha mengejar Destya yang sudah menaiki angkutan umum. Ia merasa bersalah karena sudah mengajak Destya ke cafe dan akhirnya bertemu Adinda.


Di dalam angkutan umum Destya meneteskan air matanya, ia tidak sanggup lagi membendung air mata itu. Hatinya seakan sakit ketika ada wanita lain yang mendekati Reyhand. Tak lama kemudian Destya turun dari angkutan umum dan berlari agar Reyhand tidak mengejarnya.


Reyhand yang melihat Destya berlari langsung saja mengejarnya, hingga akhirnya kaki Reyhand pun terkilir karena tersandung batu besar. Destya yang melihatnya segera berlari menghampirinya.


“Reyhaannnd ?”


“Kamu tidak papa ?


“Aku baik – baik saja, tidak usah khawatir.”


Reyhand menghapus air mata Destya.


“Sayang, jangan salah sangka pada .....”


Destya menghentikan perkataan Reyhand dan membersihkan lukanya. Destya adalah siswi jurusan perawat sehingga ia selalu membawa kotak obat seperti P3K di dalam tasnya.


“Rey, kakimu terluka biar aku bersihkan dulu.”


Destya membopong Reyhand ke tempat yang teduh lalu membersihkan luka di kaku Reyhand.


“Aaawww sakit.”


“Kalau tidak dibersihkan nanti infeksi.”


“Pelan – pelan.”


“Ini sudah yang paling pelan.”


Reyhand tersenyum sambil memandangi wajah Destya yang sangat telaten membersihkan lukanya.


Setelah selesai Reyhand berusaha menjelaskan pada Destya mengenai sikap Adinda yang begitu sok akrab padanya.


“Sayang, tadi itu Adinda .....”


Lagi – lagi Destya menghentikan pembicaraan Reyhand dengan menutup mulutnya.


“Sudah Rey, aku percaya padamu.”


“Apa kamu kuat pulang sendiri ? Sepertinya kakimu terkilir Rey.”


“Iya aku bisa kok, aku antar kamu pulang ya.”


“Tidak Rey.”


“Sebaiknya kamu pulang, kakimu sakit kan. Aku bisa pulang sendiri.”


“Tapi ....”


“Tidak ada tapi – tapian.”


“Ya sudah.”


Ketika Reyhand akan melangkahkan kakinya, ia nerasakan nyeri di kakinya.


“Apa sebaiknya kita ke Klinik terdekat disini Rey?” tawar Destya.


“Tidak apa – apa sepertinya aku tidak bisa pulang sendiri.”


Reyhand pun menghubungi Rendi agar segera menemuinya. Destya pun menunggu Reyhand sampai temannya datang.


Beberapa menit kemudian Rendi pun datang.


“Rey, lo kenapa ?”


“Kakinya terkilir.” Terang Destya.


“Ada – ada saja bro. Ya udah ayok gue antar pulang.”


“Sayang, kamu pulangnya pakai taxi online. Maaf tidak bisa mengantarmu sampai ke rumah.”


“Tidak papa Rey.” Sambil tersenyum.

__ADS_1


“Kabari aku kalau sudah sampai.”


Destya mengangguk dan mengangkat tangannya membentuk huruf O.


__ADS_2