
Setelah mengantar Destya, Reyhand segera pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Reyhand melihat ada mobil Mamanya yang sudah terparkir.
"Mama sudah pulang ternyata." Gumam Reyhand dalam hati.
“Reyhand, darimana saja kamu ? Jam segini baru pulang.”
“Reyhand abis jalan sama teman Ma.”
Reyhand melirik ke arah Papanya, sesungguhnya ia masih kecewa dengan keputusan Papanya yang memintanya untuk pindah ke Jerman.
“Rey, malam ini Papa sama Grandma akan kembali ke Jerman. Dan Papa akan mengurus semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk kuliahmu disana, karena bulan depan kamu sudah ikut ujian. Menurut Papa setelah selesai Ujian kamu bisa langsung berangkat kesana.”
“Iya Rey, betul kata Papamu.” Jawab Grandma membenarkan kata anaknya.
“Tapi aku ingin ikut wisuda dulu, sebelum berangkat kesana.”
“Kamu bisa pulang lagi kan ketika akan wisuda.”
Reyhand tidak mengiyakan perkataan Papanya. Ia langsung bergegas ke kamar.
“Aku ke kamar dulu Ma, Pa, Grandma.”
Di dalam kamar Reyhand merasa sedih, bagaimana jika Destya tahu kalau dia akan tinggal disana, itu artinya sangat sulit untuk bisa bertemu dengan Destya.
“Kenapa Papa selalu mengambil keputusan sepihak.” Gumamnya dan air matanya kembali menetes.
Setelah 2 jam kemudian, Reyhand masih belum keluar dari kamarnya, akhirnya Bu Kirani memanggilnya namun tidak ada jawaban.
“Reyhand, apa kamu di dalam nak ?” tanya Bu Kirani sambil mengetuk pintu toilet kamar Reyhand.
“Iya Ma.”
“Cepatlah keluar ! Sebentar lagi kita ke bandara untuk mengantar Papamu.”
“Aku gak enak perut Ma, makan pedas di kantin sekolah.”
“Ya sudah istirahat saja.”
Bu Kirani langsung keluar dari kamar Reyhand, dan bersiap segera berangkat ke bandara.
__ADS_1
“Mana Reyhand Ma ?”
“Dia gak enak perut Pa, katanya makan pedas di kantin sekolahnya.”
“Ada – ada saja. Ya sudah kita berangkat sekarang.”
Mereka pun berangkat menuju bandara diantar Pak Joni.
Di toilet Reyhand kembali menangis. Sesungguhnya hatinya tidak sanggup harus tinggal ke Jerman.
"Ini gak adil sungguh tidak adil." tangisnya kembali pecah dibawah guyuran shower, ia tidak sanggup kalau harus kehilangan Destya."
"Aku sangat mencintaimu Destya."
Bi Surti yang sedang membersihkan kamar Reyhand mendengar suara tangisan di dalam toilet.
“Den Reyhand, ini Bi Surti. Apa Den Reyhand baik – baik saja ?”
“Aku baik – baik saja Bi. Ini kakiku hanya terpeleset jadi sakit. Sebentar lagi aku akan keluar Bi. Tolong minta Pak Juned untuk mengantarku ke suatu tempat.”
“Baik Den, Bibi panggil dulu.”
Reyhand segera keluar dari kamar dan bersiap untuk pergi, dan menuju ke sebuah taman kota.
“Banyak sekali, kenangan kita disini. Apa kau akan memaafkanku Destya. Aku sangat mencintaimu Destya kamu cinta pertama dan terakhirku.”
Reyhand meneteskan air matanya, sehingga pipinya dibanjiri oleh air mata. Langit yang gelap menjadi saksi kesedihannya saat ini. Air hujan mulai membasahi seluruh tubuh Reyhand. Hujannya semakin deras, Pak Juned berusaha meminta Reyhand untuk pulang karena hujannya semakin lebat.
“Den Reyhand mari kita pulang.”
“Aku ingin disini Pak Juned, pergilah !”
“Nanti Den Reyhand sakit, hujan – hujanan seperti ini.”
“Pergilah Pak Juned. Aku baik – baik saja.”
“Saya bisa dipecat jika saya membiarkan Den Reyhand disini.”
Akhirnya Reyhand pun menyetujuinya dan segera pulang.
__ADS_1
Di dalam mobil Reyhand masih meneteskan air matanya. Pak Juned yang melihatnya di kaca spion mobil merasa khawatir.
“Kenapa dengan Den Reyhand, sepertinya masalahnya berat sekali. Semoga permasalahannya cepat selesai” Gumam Pak Juned dalam hati.
Pak Juned tidak berani bertanya pada anak majikannya, ia tidak mau mencampuri urusan anak majikannya itu.
Sesampainya di rumah, Bi Surti yang melihat Reyhand basah kuyup segera mengambilkan handuk dan menyiapkan air hangat untuk mandi.
“Den Reyhand, kenapa basah kuyup begini ? Bibi siapkan air hangat untuk Den Reyhand mandi ya.”
“Terima kasih Bi.”
Setelah mengeringkan tubuhnya Reyhand membaringkan tubuhnya di ranjang, melihat atap kamarnya dan membayangkan kembali Destya. Hanya ada Destya yang ada di pikirannya saat ini, sampai akhirnya tertidur lelap.
Bu Kirani yang baru saja pulang dari Bandara masuk ke kamar Reyhand, dan melihat Reyhand sudah tertidur dan hendak menyelimutinya. Bu Kirani merasakan suhu panas dari tubuh Reyhand, dan benar Reyhand demam.
Bu Kirani langsung menghubungi Dokter Ana yang merupakan dokter keluarga mereka untuk memeriksa keadaan Reyhand.
Setengah jam kemudian Dokter Ana tiba dan memeriksa keadaan Reyhand.
“Gimana keadaan Reyhand Dok ? Apa dia baik – baik saja ?” tanya Bu Kirani yang merasa khawatir akan keadaan Reyhand.
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Bu Kirani, Reyhand hanya butuh istirahat saja dan jangan terlalu stress. Ini saya berikan obat untuk menurunkan demamnya.”
“Terimakasih Dok.”
“Sama – sama. Kalau begitu saya permisi untuk pulang dulu.”
“Biar saya antar.”
Setelah kepergian Dokter Ana, Bu Kirani masuk ke kamar Reyhand. Reyhand terus mengigau dan menyebut nama Destya.
“Destya ? Siapa Destya itu ? Kenapa Reyhand memanggil namanya berulang – ulang.”
Sebelumnya Reyhand tidak pernah mempunyai kekasih. Bu Kirani juga tidak mengetahui kalau saat ini anaknya sudah mempunyai kekasih yang bernama Destya. Reyhand biasanya terbuka pada Mamanya mengenai hal apapun, namun mengenai hubungannya dengan Destya Reyhand merahasiakannya, karena itu merupakan permintaan Destya agar orang - orang tidak megetahui tentang hubungan mereka.
“Reyhand, ini Mama Nak.” Sambil menepuk pelan pipi Reyhand agar bangun.
Reyhand pun membuka matanya.
__ADS_1
“Rey, ini kamu makan bubur dulu ya biar mama suapin, setelah itu kamu minum obat.”
Reyhand hanya mengangguk, dan menerima suapan dari Mamanya. Setelah itu ia langsung beristirahat sesuai perintah Mamanya.