Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 43


__ADS_3

Mohon maaf sekali baru sempat update lagi karena dikarenakan banyak pekerjaan kantor dan tugas kuliah yang sama – sama numpuk dikejar deadline. InsyaAllah cerita Aku Kamu Satu ini akan tetap berlanjut sampai tamat. Jadi jangan bosen untuk mampir ya 😉😊.


Waktu berlalu begitu cepat, waktu ujian nasional Reyhand hanya tinggal menghitung hari lagi. Ada perasaan yang sering mengganggu hati dan pikirannya.


“Waktuku disini tidak lama lagi,” gumam Reyhand sedih.


Pikirannya kali ini begitu sangat kacau, ketika mengingat permintaan Papanya yang memintanya untuk tinggal di Jerman.


“Aaarrrggghhh..........”


Reyhand mengacak – ngacak rambutnya frustasi.


Bu Kirani yang baru tiba di rumah setelah pulang dari Amerika langsung bergegas menuju kamar Reyhand ketika mendengar suara teriakan Reyhand.


“Rey, Reyhand !” panggil Bu Kirani yang mengetuk pintu kamar Reyhand.


Reyhand yang mendengar suara Mamanya bergegas merapihkan ranjangnya yang berantakan dan segera membuka pintu kamarnya.


“Mama udah pulang ?” tanya Reyhand dengan suara parau.


“Kamu kenapa sayang ? Ada masalah ? Cerita sama Mama Rey,” tanya Bu Kirani yang melihat kesedihan di wajah anaknya Reyhand.


Bu Kirani lalu memeluk Reyhand seakan mengerti kssedihan anaknya.


“Ada apa Rey ? Kamu cerita sama Mama ? Kamu ada masalah di sekolah ?”


Reyhand tidak menjawab pertanyaan Mamanya, ia hanya menggelengkan kepalanya saja.

__ADS_1


“Apa kamu yakin Rey ?”


Lagi – lagi Reyhand tidak menjawab perkataan Mamanya, ia hanya mengangguk dan tertunduk.


“Sebaiknya kamu istirahat Rey,” seru Bu Kirani pada Reyhand dan mencoba menidurkan dan menyelimuti Reyhand agar segera tidur.


Keesokan paginya, Reyhand berangkat ke sekolah seperti biasa. Reyhand datang ke sekolah dengan penampilan berbeda. Rendi dan juga Roy yang melihat Reyhand tidak seperti biasanya menjadi bertanya – tanya.


“Rey, kenapa lho ?” tanya Roy yang menepuk pundak Reyhand dan mengejutkannya.


Reyhand tidak menjawab dan langsung duduk di kursinya. Rendi dan Roy saling berpandangan dengan tingkah Reyhand, dan akhirnya mereka lalu menghampiri Reyhand yang sedang duduk di mejanya.


“Kenapa lho Rey ? Cerita dong sama kita – kita,”


Lagi – lagi Reyhand hanya diam dan menggelengkan kepalanya.


“Iya Rey, gue punya cita – cita pingin sekampus sama lho syukur – syukur kita bisa sekelas lagi,” celetuk Roy.


“Kalian saja dulu,” gumam Reyhand lalu beranjak meninggalkan mereka.


“Rey, lho mau kemana ?” panggil Rendi yang melihat kepergian Roy.


“Gue mau ke UKS, bilangin gue gak enak badan.”


“Dan tolong kumpulin buku tugas gue,”


“Rey Rey Reyhand?”

__ADS_1


“Si Rey ternyata bisa sakit juga ya Ren,” celetuk Roy.


“Apaan si lo Roy, Reyhand juga manusia. Btw dia sakit apa ya ?”


“Sakit hati kali,”


“Masa sih Roy ?” tanya Rendi tidak percaya.


“Ren, kita tuh udah dari SD sama dia. Sesakit apapun dia gak akan mungkin sampe meninggalkan kelas,”


“Iya juga ya, tapi sakit apa ya ?”


“Mana gue tau,”


“Susul yuk !” Ajak Rendi pada Roy.


“Ya udah ayok,”


Rendi dan Roy, akhirnya bergegas hendak mengikuti Reyhand. Langkah mereka berdua terhenti ketika Bu Sinta memanggil nama mereka.


“Rendi Royan ? Mau kemana kalian ?”


“Eemmm ii..ini Bu kita ma... mau......”


“Cepat masuk kelas ! Kalau tidak saya alfakan kalian berdua,”


“Baik Bu,”

__ADS_1


Rendi dan Roy pun langsung bergegas menuju kelas mengikuti Bu Sinta di belakangnya


__ADS_2