Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 21


__ADS_3

Reyhand masih tertidur lelap di sofa, sedangkan Destya mulai merasa bosan karena tidak ada kegiatan. Destya memandangi wajah Reyhand yang tertidur pulas.


“Reyhand, akankah kita selalu bersama seperti ini ?” Gumamnya dalam hati.


Entah kenapa Destya bertanya begitu pada hatinya sendiri, Destya sendiri pun tidak tahu.


Bi Surti datang menghampiri Destya yang sedari tadi menatap wajah Reyhand dan membawa minuman untuk Destya.


“Non, ini minumnya.”


“Terimakasih Bi.”


“Oh ya Bi, apa saya boleh bertanya sesuatu ?”


“Tentu Non.”


“Di rumah ini memang selalu sepi seperti ini ya Bi ?”


“Iya Non, memang selalu seperti ini. Kedua orang tuanya sibuk bekerja dan selalu tidak di rumah, sedangkan Kakaknya Den Reyhand setelah lulus SMA tinggal di Jerman bersama Papanya.”


“Saya permisi dulu ya Non, kalau perlu sesuatu panggil saya saja Non.”


“Iya Bi.”


Reyhand masih tertidur dengan pulasnya. Tak lama kemudian datang seorang wanita dewasa dan menghampiri Destya yang tengah duduk menunggu Reyhand di sofa.


“Siapa Dia, Apa itu Mamanya Reyhand ?” Gumamnya dalam hati.


“Saya Anita, sekretarisnya Bu Kirani.” Ucap wanita itu memperkenalkan dirinya pada Destya.


“Ada beberapa dokumen yang tertinggal, saya diminta untuk mengambilnya. Bisa antar saya ke ruang kerjanya Bu Kirani ?"


“Sebentar Mbak saya panggil dulu Bi Surti.”


Destya pun memanggil Bi Surti, dan meminta Bi Surti untuk mengantarkannya ke ruang kerja Bu Kirani.


Setelah kepergian Sekretaris Bu Kirani, Reyhand pun terbangun.


“Rey, jangan dulu bangun.”


“Aku baik – baik saja. Sekarang aku menjadi lebih baik karena ada kamu disampingku.”


“Cukup Rey, jangan menggodaku terus.” Ketus Destya.


“Aku bosan sayang, kita ke taman yuk !”


“Kau sedang sakit Rey, jangan pergi kemana – mana dulu.”


“I’m fine my honey.” Sambil beranjak dari sofa dan beranjak ke belakang rumahnya.


“Reyhand, lepaskan sakit. Kau menarikku begitu keras.”


“Maafkan aku."

__ADS_1


“Kita mau kemana Rey ?”


Reyhand hanya menjawabnya dengan tersenyum.


Banyak lorong di rumah Reyhand yang luas itu untuk menuju ke taman belakang rumahnya, sehingga membuat Destya sedikit ketakutan.


“Ayok kita duduk disini !”


Destya pun menurut, dan melihat ke sekelilingnya suasana taman belakang rumah Reyhand sangat indah. Ada air mancur, taman bunga, kolam ikan dan banyak pepohonan yang membuat udara taman menjadi sejuk. Destya yang tadi terengah – engah merasa takjub akan suasana di taman rumah Reyhand, tanpa mengedipkan matanya.


Reyhand yang melihat kening Destya berkeringat lalu mengusap dengan tangannya.


“Sayang, kau berkeringat sekali, kenapa ?”


“Aku gak papa.” tanpa menoleh ke arah Reyhand.


“Apa kau takut ? Tenang aku tidak akan menyakitimu.”


“Apa maksudmu ?”


Reyhand hanya terdiam dan tertawa kecil.


“Reyyy jangan membuatku penasaran.”


“Sudahlah lupakan saja, kau lihat kan disini tamannya indah. Apa kau senang ?”


Destya pun mengangguk dan tersenyum.


“Rey, apa boleh aku kesana ?” Sambil menunjuk ke sebuah jembatan.


“Tapi kau jangan kemana – mana ya Rey. Tunggu aku disini."


“Iya Sayang.”


Destya menuju jembatan yang dihias dengan bunga – bunga yang menjalar pada jembatan tersebut. Disana nampak ada bunga – bunga yang membentuk love.


“Indah sekali disini.” Gumamnya.


Destya hendak menuju ayunan namun ia teringat Reyhand, Destya melirik ke arah tempat yang tadi dia duduki bersama Reyhand, namun tidak melihat Reyhand disana.”


“Reyhand.... Reyhand.... Reyhand....”


Destya hendak menuju ke tempat yang tadi ia duduki untuk mencari keberadaan Reyhand. Namun dari belakang ada seseorang yang memeluknya dan menutup matanya.


Destya mencoba melepaskan orang yang memeluk dan menutup matanya itu.


“Reyhand, apa yang kau lakukan. Kau membuatku khawatir.”


Destya terus mengoceh pada Reyhand yang tidak mendengarkannya untuk tetap diam di kursi tadi.


“Kamu manis juga kalau sedang marah.”


“Reyhand, aku sedang marah padamu. Tapi kau malah menggodaku. Aku akan pulang sekarang.”

__ADS_1


Destya berbalik dan hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Reyhand. Reyhand pun menarik tangan Destya untuk tetap disini.


“Will you marry me ?” sambil menyerahkan setangkai bunga mawar pada Destya.


“Reyhand, apa maksudmu ini ? Kita masih sekolah Rey.”


“Jadilah partner hidupku sampai maut yang memisahkan kita. I Love You Destyani Maharani.”


Destya mengambil bunga mawarnya dan memeluk Reyhand.


“I Love You too Reyhandra Ferdian Darelano.”


“Kenapa kau menangis ?” Sambil menghapus air mata di pipi Destya.


“Aku bahagia Reyhand bisa memilikimu, jangan pernah meninggalkanku Reyhand.” Sambil menangis sesenggukan.


“Destya aku hanya akan mencintai satu wanita dan itu kau. Percayalah.”


Destya mengangguk.


“Maafkan aku Destya, jika suatu saat nanti kita harus jauh terpisah karena jarak. Aku akan selalu menjaga hatiku hanya untukmu.” Gumam Reyhand dalam hati.


Reyhand berusaha menahan air matanya yang terbendung, agar tidak jatuh. Namun Destya sudah melihatnya.


“Kenapa Rey ?” tanya Destya yang melihat air mata Reyhand berlinang.


“Aku bahagia bisa memilikimu Destya. Jagalah hatimu hanya untukku.”


“Tentu Rey. Aku hanya akan menjaga hatiku hanya untukmu.”


“Sudah jangan menangis lagi Sayang. Apa kamu lapar ?”


Destya pun mengangguk, perutnya memang sudah lapar sejak tadi.


“Maafkan aku sudah membuatmu lapar. Mau makan di dalam ?”


“Aku mau makan disini saja Rey, udaranya sejuk.”


“Ya sudah kita tunggu disana saja.”


Tak lama kemudian Bi Surti mengantarkan pesanan Reyhand yang sudah dipesan online


“Den Reyhand, ini pesanannya sudah datang.”


“Terimakasih Bi”


“Kenapa banyak sekali Rey ?”


“Kamu habis menangis energimu pasti terkuras kan, jadi kau harus habiskan semua makanan in.”


“Siapa takut.”


“Rey, aku suapin ya.”

__ADS_1


Reyhand pun mengangguk, dan akhirnya mereka saling suap – suapan.


__ADS_2