
“Rey, saatnya makan obat udah jam 12 lebih.”
“Gak mau pahit.” Rengek Reyhand yang seperti anak kecil.
“Rey, kamu kan mau jadi Dokter nantinya masa minum obat aja takut pahit. Aku ambil obatnya dulu ya.”
“Tidak mau.”
“Mau sembuh gak ?”
“Mau.”
“Ya udah makan obat ya.”
“Aku gak mau obat.” Jawab Reyhand dengan manja.
“Mau kamu apa sih Rey ?”
“Mau kamu.”
“Reyhaaannnddd, aku serius. Sudah aku mau ambil obatmu dulu.” Destya beranjak pergi meninggalkan Reyhand yang memanggil namanya untuk tidak pergi.
Destya berjalan menuju lorong yang tadi ketika pergi menuju taman belakang.
“Yang mendesign rumah ini siapa sih, lorongnya banyak sekali bikin pusing mana gelap dan sepi lagi.” Gumam Destya.
“Kenapa gak nyampe – nyampe sih. Masa sih aku tersesat di rumah kekasihku sendiri” Gumam Destya sedikit kesal.
Di taman Reyhand masih duduk menunggu Destya yang sedang mengambilkan obat untuknya.
“Kenapa Destya lama sekali. Apa dia tersesat di rumahku ?”
“Tadi aku kan sengaja jalannya muter – muter biar dia memegang tanganku karena takut. Aaarrrggghhh Reyhand bodoh sekali, Destya kan penakut apalagi sendirian.”
Reyhand pun menyusul Destya ke tempat yang tadi, sambil memanggil – manggil namanya berulang kali.
“Apa dia ke arah sana ?”
Reyhand pun berjalan menuju ke lorong yang sebelahnya, dan benar Destya ada disana. Destya yang mendengar suara langkah kaki Reyhand menjadi semakin ketakutan.
“Tolong jangan ganggu aku.” Sambil menangis.
“Destya ini aku Reyhand.”
“Reyhand, aku takut.” Sambil memeluk Reyhand.
“Kenapa kau ke arah sini Des ? Ini kan menuju gudang bawah tanah.”
“Lampunya tiba – tiba mati saat aku sedang berjalan. Aku takut Rey, untung kau menemukanku disini.”
Reyhand bisa merasakan ketakutan Destya dari detak jantungnya yang berdetak sangat kencang.
“Maafkan aku Sayang. Ayo kita pergi dari sini.”
“Sudah Sayang jangan menangis lagi. Aku ada disini.” Sambil menghapus air mata Destya yang membasahi pipinya.
“Kenapa belakang rumahmu begitu sepi dan menakutkan.” Sambil sesenggukan.
“Sebenarnya i..iituuu........”
“Itu apa Rey ?”
__ADS_1
“Itu jalan bawah tanah yang menghubungkan ke taman, dan jalan asli yang langsung ke taman belakang rumah itu lewat dapur.” Sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Lalu kenapa kau membawaku ke jalan bawah tanah ?” tanya Destya kesal.
“Maafkan aku Des, a....aku.”
“Kau sengaja membuatku takut setengah mati ?”
“Maaf Sayang, aku hanya bercanda.”
“Bercanda ? Bercandamu itu tidak lucu Rey.”
“Maafkan aku.”
Destya tidak menjawabnya dan membuang muka.
“Aku mau pulang !”
“Sayang, jangan marah dong ya. Maafkan atas kejailanku membawamu ke ruang bawah tanah tadi. Aku janji ini yang pertama dan terakhir. Maafkan aku sudah membuatmu takut.” Sambil berlutut agar Destya mau memaafkannya.
“Ayo Rey berdiri.”
“Aku akan terus berlutut sampai kau memaafkanku.”
“Okey aku memaafkanmu tapi ini yang terakhir ya.”
“Janji.” Sambil mengangkat kelingkingnya.
“Aku berjanji tidak akan membuatmu takut lagi.”
“Non kenapa ?” tanya Bi Surti yang melihat matanya sembab.
“Cuma kelilipan Bi.” Jawab Reyhand dengan cepat.
Destya melirik Reyhand, dan Reyhand mengedipkan matanya.
“Oh, sebentar Bibi ambilkan air minum dulu ya Non.”
“Jangan cemberut gitu dong Sayang. Senyum dong.”
Destya pun tersenyum terpaksa.
“Yang manis dong senyumnya, biar obat ini jadi ikutan manis.”
Destya menarik nafas panjang, sebenarnya ia kesal dengan kelakuan Reyhand. Namun bagaimanapun juga Reyhand adalah laki – laki yang sangat dicintainya.
“Nah gitu dong.”
“Ayo diminum obatnya Rey, biar cepat sembuh.”
“Senyumnya jangan berhenti sampai aku selesai minum obat ya.”
“Reyhaaaannnd....”
“Please.” Dengan nada manja seperti anak kecil.
Destya pun mengikuti keingininan Reyhand yang menurutnya itu sangat konyol.
“Terimakasih suster cantik, obatnya jadi terasa manis.”
“Hm. Sebaiknya kamu istirahat Rey.”
__ADS_1
“Tadi pagi kan aku udah tidur, masa harus tidur lagi. Lagi pula aku sudah lebih baik. Cuman kepalaku yang sepertinya minta dipijit.”
“Ya sudah, sini aku pijitin kepalamu.”
“Kamu obat paling mujarab yang Tuhan berikan untukku.” Gumamnya dalam hati sambil tersenyum.
“Kenapa senyum – senyum.” Tanya Destya ketus.
“Pijitanmu enak Sayang, kamu kalau jadi suster jangan mijit pasien laki – laki ya.”
Destya pun menghentikan memijit kepala Reyhand.
“Kenapa berhenti Sayang ?”
“Katamu aku gak boleh mijit pasien laki – laki.”
“Kalo aku boleh lah laki – laki lain baru gak boleh, lanjutin lagi dong Sayang enak banget tau kepala aku jadinya gak sakit lagi.”
Destya pun kembali memijat kepala Reyhand.
“Rey, kenapa kamu bisa sakit gini sih ? Perasaan kemarin kamu baik – baik saja.”
“Ini sakit biasa kok, mungkin kecapean.”
Reyhand tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Destya, kalau Papanya meminta setelah selesai ujian Reyhand harus pindah ke Jerman.
“Jaga kesehatanmu Rey. Oh iya hari Senin depan aku mulai praktek di Rumah Sakit. Kemungkinan kita hanya bisa bertemu 1 bulan sekali.”
“Kenapa 1 bulan sekali ?”
“Aku kan berangkat pagi Rey, dan disana aku juga kost kan kamu tahu itu.”
“Aku akan mengunjungimu sesering mungkin Sayang, aku gak sanggup kalau harus 1 bulan sekali kita bertemu.”
“Tapi jaraknya kan jauh sekali Rey, perlu berjam – jam untuk kesana.”
“Untukmu, aku rela melakukan apapun Sayang bahkan kalau harus mendaki gunung dan menyebrangi lautan aku akan melakukannya.”
“Mulai deeehhhh gombal. Siapa sih yang ngajarin kamu jadi gombal gini perasaan dulu awal kita pacaran kamu gak pernah gombalin aku. Hahahhaha.”
“Itu tulus Sayang dari lubuk hatiku yang paliiiing dalam.”
“Aku pulang dulu ya Rey, sudah mau sore takut Ibuku mencariku.”
“Aku masih merindukanmu.”
"Kapan - kapan lagi ya."
“Aku pulang ya, jangan lupa makan dan obatnya diminum ya Rey.”
“Iya. Aku antar sampai depan ya.”
Destya pun mengangguk.
“Terimakasih sudah bersedia merawat pasienmu dengan baik suster cantik.”
“Sama – sama Rey.”
“Hati – hati ya Sayang, kalau sudah sampai rumah segera kabari aku.”
Destya pun melambaikan tangan dan menaiki mobil Reyhand yang di antar oleh Pak Joni.
__ADS_1