
“Destya, udah jangan menangis,” sambil meyeka pipi Destya yang dibanjiri air mata.
“Reyhand Sarah dia pasti salah paham padaku karena aku pulang bersama Raka tadi,” sambil menangis sesenggukan.
“Tidak Des, dia pasti hanya merasa lelah saja, bukankah kalian saling mencintai satu sama lain. Jadi menurutku dia tidak akan salah paham apalagi sampai marah padamu,”
“Menurutku cinta kalian berdua itu sangat kuat Des,” kata Sarah mencoba menenangkan sahabatnya.
“Tapi .....”
Sarah menutup mulut Destya dengan telunjuknya memintanya agar diam dan beristirahat menenangkan hatinya.
“Sudah Des, sebaiknya kamu cuci muka terus langsung tidur.”
Destya pun menuruti perkataan Sarah, lalu beranjak menuju ke toilet.
Keesokan paginya, karena hari ini adalah tanggal merah Sarah mengajak Destya berjalan – jalan di daerah sekitar sini.
“Des, keluar yuk jalan - jalan ! Bosen tau disini mulu.”
“Kamu aja Sarah, aku sedang tidak ingin kemana – mana,”
Sarah menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Ayolah Des, sebentar aja. Apa kamu tidak mau mengetahui daerah sini, waktu kita kan disini cuman 2 bulanan Des,”
“Tidak Sarah, aku tidak mau. Jangan memaksaku !” ketus Destya.
Akhirnya Sarah pun menyerah tidak memaksakan kehendaknya. Sarah pun kembali berbaring di ranjang ingin bermalas – malasan.
__ADS_1
“Kamu mau tidur lagi Sarah ?”
“Abis ngapain lagi,” jawab Sarah dengan ketus.
Destya mengabaikan Sarah yang tengah bermalas – malasan di ranjang, ia beranjak menuju dapur dan memasak mie instan untuk sarapan.
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kostan Destya.
“Sarah, tolong bukain pintu dong,” teriak Destya dari dapur.
“Iya Nyonya Destya,” ledek Sarah.
Akhirnya Sarah pun membukakan pintu.
“Reyhand ?”
“Mana Destya ?” tanya Reyhand yang hendak masuk namun dihalang oleh Sarah.
Destya yang mendengar ada keributan di depan keluar dari dapurnya.
“Reyhand ?”
Kali ini Destya tidak memeluk Reyhand meskipun ia merasakan sangat rindu. Mata mereka berdua saling bertatapan satu sama lain.
“Bau apa ini ? Seperti bau gosong,” gumam Sarah dengan hidung mengendus – ngendus.
Destya yang baru sadar dia sedang mie instan langsung beranjak ke dapur, diikuti Sarah dan juga Reyhand.
“Yah mie nya gosong,” gumam Destya.
__ADS_1
“Gara – gara kamu datang Reyhand mie nya jadi gosong,” ketus Sarah.
“Kok aku sih,aku datang kesini hanya untuk bertemu Destya,” gumam Reyhand kesal.
“Ayo Des, kita cari sarapan yang lain di luar !” Ajak Reyhand yang menarik tangan Destya untuk segera mengikutinya.
“Reyhand, aku juga belum sarapan,” seru Sarah yang akhirnya mengikuti mereka berdua.
Diperjalanan mereka singgah dulu di sebuah pasar untuk membeli bahan makanan. Sarah yang mengira kalau Reyhand akan mendatangi sebuah tempat makan untuk sarapan mengikuti mereka dari belakang.
“Ini villa siapa ?” Tanya Destya yang penasaran ketika sampai di sebuah villa yang begitu mewah.
Reyhand tidak menjawab dan menuju masuk ke dalam villanya diikuti Destya dan juga Sarah.
Destya dan Sarah melihat kesekeliling ruangan villa tersebut yang menggunakan design tradisional dan modern. Mata Destya melotot ketika melihat sebuah foto keluarga sepasang suami istri yang tengah menggendong anak.
“Ini foto kecilmu Rey ?”
Reyhand hanya terdiam dan tersenyum malu.
“Ayo memasak, aku rindu masakanmu !” Seru Reyhand yang mengalihkan pandangan Destya dari foto tersebut.
Destya pun menurut dan segera mengiris bahan masakan dibantu oleh Sarah. Reyhand yang melihat Destya begitu pandai memasak tersenyum.
“Aku mencintaimu Destya,” gumamnya dalam hati.
Ketika makanan sudah siap, Destya menghidangkan masakannya di meja makan. Reyhand langsung menyantap makanannya.
“It’s very delicious,”
__ADS_1
Destya pun tersenyum ketika Reyhand memuji hasil masakannya.