Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 20


__ADS_3

Keesokan paginya Reyhand membuka matanya, ia meraba keningnya yang dikompres semalam oleh Mamanya. Kepalanya masih terasa pusing saat hendak bangun.


Tak lama kemudian Bu Kirani masuk untuk mengecek keadaan Reyhand.


“Pagi Sayang, Kamu sudah bangun Rey, hari ini kamu gak usah masuk sekolah biar nanti Mama memberitahu pihak sekolah kalau kamu sakit.” Sambil tersenyum dan memegang kening Reyhand.


“Reyhand mau sekolah Ma.”


“Tidak Rey, sebaiknya kamu istirahat saja di rumah.”


“Hari ini Reyhand ulangan Ma. Pokoknya Reyhand mau sekolah Ma, Reyhand baik – baik saja Ma.”


“Kamu kan bisa ulangan susulan, nanti biar Mama yang telpon gurumu agar ulanganmu bisa menyusul.”


“Tapi Ma....”


“Sudah jangan membantah.”


“Mama ke kantor dulu ya Rey, kalau ada apa – apa kamu segera hubungi Mama. Banyak pekerjaan yang harus Mama kerjakan maaf Mama gak bisa menemani kamu."


"Ingat kabari Mama ya kalau ada apa - apa." sambil berjalan keluar dari kamar Reyhand.


“Bagaimana aku bisa bertemu Destya kalau aku harus diam di rumah.” Gumam Reyhand dengan kesal.


Tak lama kemudian Bi Surti masuk ke kamar Reyhand dengan membawa semangkuk bubur.


“Den Reyhand, biar Bibi suapi ya ?”


“Biar saya saja Bi.”


“Adinda ? Kenapa kau kesini ?”


“Aku hanya ingin merawatmu, tadi aku ketemu Tante Kirani di depan katanya kamu sedang sakit.”


“Aku tidak ingin melihatmu disini. Pergilah !!!” ketus Reyhand.


“Lagi – lagi kau mengusirku Rey ? Aku mencintaimu Reyhand.”


“Keluar ! Keluar dari kamarku sekarang Adinda !”


“Tidak Reyhand, aku akan tetap disini menunggumu.”


“Aku tidak butuh dirimu Adinda. Cepat pergi tunggu apa lagi ?” bentak Reyhand yang kesal karena Adinda tidak kunjung pergi dari kamarnya.


“Apa kau memintaku untuk memanggilkan security dan menyeretmu untuk keluar dari sini ?”


“Okey, Aku akan pergi tapi aku akan datang lagi dan kau tidak akan bisa menolaknya Reyhand.” Adinda menatap Reyhand sambil tersenyum sinis.


Adinda pun keluar dari kamar Reyhand dengan wajah kesal.


“Tunggu saja Reyhand, kamu harus jatuh di pelukanku.” gumam Adinda dan berlaju pergi meninggalkan Reyhand.


“Bi, tolong panggil Pak Jon kemari.”


“Baik Den.”


Beberapa menit kemudian, Pak Joni pun datang.


“Permisi Den Reyhand, Apa Den Reyhand memanggil saya ?”


“Iya Pak Jon.”

__ADS_1


“Pak Jon masih ingat kan rumah Destya yang kemarin sore aku antar pulang ke rumahnya ?”


“Iya Den Reyhand, saya masih ingat. Memangnya ada apa ya Den Reyhand ?”


“Tolong jemput dia sekarang di rumahnya ya Pak Jon.”


“Baik Den, tapi apakah Den Reyhand sudah mengabarinya kalau saya yang akan menjemputnya ?”


“Iya Pak Jon, nanti saya akan menghubunginya.”


“Baik Den Reyhand kalau begitu saya akan kesana sekarang. Permisi Den.”


Reyhand pun mengirimkan sebuah pesan pada Destya agar dia mau ke rumahnya.


Destya yang baru selesai mencuci pakaiannya mendengar handphonenya berbunyi langsung mengecek ponselnya.


“Kenapa Reyhand memintaku untuk ke rumahnya ?” Gumamnya dalam hati.


Beberapa menit kemudian, Pak Joni pun datang untuk menjemput Destya.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumusalam.”


“Pak Jon ? Silahkan duduk.”


“Iya Non.”


“Saya diminta menjemput Non Destya sama Den Reyhand.”


“Iya Pak Jon, saya siap – siap dulu ya.”


“Oh iya Pak Jon, mau minum kopi atau teh ?”


“Tidak usah Non. Terimakasih.”


Setelah bersiap Destya langsung pamitan pada Ibunya, untuk pergi ke rumah Reyhand.


“Bu Destya pergi dulu ya, mau ke rumah teman.”


“Iya Des, jangan terlalu sore ya pulangnya.”


“Iya Bu.” Sambil mencium tangan Ibunya.


“Ayok Pak Jon.”


Pak Joni pun melajukan mobilnya menuju rumah Reyhand.


“Pak Jon, kenapa Reyhand memintaku ke rumahnya?” tanya Destya yang penasaran karena tidak biasanya Reyhand memintanya untuk datang ke rumahnya.


“Den Reyhand sedang sakit Non.”


“Apa ??? Sakit ???”


“Iya Non.”


“Sakit apa Pak Jon ?”


“Saya kurang tau Non, kemarin malam soalnya ada Dokter yang memeriksa Den Reyhand.”


“Kenapa Reyhand ? Padahal kemarin dia baik – baik saja.” Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Reyhand, Destya merasa ragu untuk masuk ke rumahnya.


“Rumahnya besar dan mewah sekali.” Gumamnya dalam hati.


“Mari Non.” Ajak Pak Joni pada Destya yang masih mematung di depan rumah Reyhand.


Destya pun masuk ke rumah Reyhand dengan langkah ragu. Bi Surti lalu menghampiri Destya.


“Non, temannya Den Reyhand ya ?”


“Iya.”


“Den Reyhandnya sedang di kamar Non, menunggu ......”


Belum selesai Bi Surti bicara , Reyhand langsung memotong pembicaraan Bi Surti.


“Destya.” Sambil tersenyum dan menghampiri Destya dengan langkah gontai karena kepalanya masih terasa pusing.


“Reyhand kamu sakit ?”


“Aku sudah lebih baik. Tidak perlu khawatir."


“Maaf Den, buburnya dimakan dulu keburu dingin.”


“Kamu belum makan Rey?”


Reyhand hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


“Sini Bi, biar saya yang menyuapinya.”


Reyhand yang mendengar Destya akan menyuapinya tersenyum senang. Reyhand makan dengan sangat lahap.


“Rey, kamu harus banyak makan ya supaya cepat sembuh.”


Reyhand hanya mengangguk.


“Ini minum dulu.” Sambil menyodorkan segelas air putih pada Reyhand.


Destya membuka plastik obat itu, dan membuka obatnya agar Reyhand segera meminumnya.


“Makasih ya Sayang, sudah merawatku dengan baik.”


Destya pun mengangguk dan tersenyum.


“Rey, sebaiknya kamu istirahat di kamar ya.”


“Tidak. Aku ingin disini bersamamu.”


“Tapi kau sedang sakit Rey, harus banyak istirahat.”


“Aku ingin kau yang merawatku Sayang. Kau lihat kan di rumahku tidak ada siapa – siapa. Apa kau tidak mau merawatku ? Aku akan cepat sembuh jika kau yang merawatku.”


“Okey aku akan merawatmu, tapi sebaiknya kamu baringkan tubuhmu di sofa ya.” Sambil membaringkan tubuh Reyhand di sofa.


“Terimakasih Sayang.” Sambil tersenyum bahagia.


“Kalau kamu perlu sesuatu panggil aku. Aku akan menunggumu disini. Istirahatlah !”


“Siap suster cantik.”


Reyhand membaringkan tubuhnya dan beristirahat, sedangkan Destya menunggunya sambil membaca buku tentang kesehatan.

__ADS_1


__ADS_2