Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 9


__ADS_3

Roy yang baru bangun tidur teringat akan Destya. Ia pun segera mengambil ponselnya dan mengiriminya sebuah pesan.


“Selamat pagi cantik, semoga harimu baik.”


Sarah yang mendengar ada notifikasi pesan masuk segera membuka ponselnya. Sarah pun tersenyum senang mendapat pesan dari orang yang tidak dikenal yang tidak lain adalah Roy.


“Pagi, Terimakasih.”


Betapa senangnya Roy mendapat balasan pesan dari Sarah yang ia sangka adalah Destya.


“Semangat untuk hari ini dariku penghuni hatimu.”


“Jangan lupa sarapan ya, aku tidak mau bidadariku sakit. Aku takut jika kau tidak dapat menyinari hari – hariku jika kau sakit.”


Sarah yang membaca isi pesannya senyum – senyum sendiri.


Akhirnya mereka pun saling membalas pesan.


\=\=\=


Hari ini Reyhand bangun lebih pagi, karena ada acara di sekolahnya. Tak lupa, setiap bangun benda yang ia cari adalah handphonenya untuk mengirimkan sebuah pesan pada Destya. Meskipun isi pesannya hanya berisi sapaan, namun mereka berdua selalu seperti itu agar dapat mengetahui kabar masing – masing.


“Pagi sayang. Bagaimana kabarmu?”


“Semoga harimu baik. I love you.”


Reyhand yang belum melihat tanda – tanda Destya membalas pesannya segera bergegas ke kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.


Sebelum keluar kamar Reyhand melihat kembali handphonenya, namun Destya masih belum membalas pesannya.


“Mungkin dia sedang bersiap pergi ke sekolah.” Gumam Reyhand dalam hati.


Reyhand segera bergegas ke dapur untuk mengambil roti dan selai kacang kesukaanya. Bu Kirani yang baru keluar dari kamar melihat Reyhand yang sudah tampil rapi dan siap untuk berangkat sekolah.


“Rey, tumben pagi – pagi begini sudah rapi.”


“Ada acara di sekolah Ma. Jadi aku harus membantu mempersiapkannya.”


“Oh, kamu boleh saja sibuk dengan kegiatan di luar jam sekolah namun ingat Rey, kamu harus belajar yang lebih rajin lagi. Sebentar lagi kamu akan ujian.”


“Siap Ma.”


“Oh, ya Rey siang ini Mama akan ke rumah kita yang dulu menyusul Papamu dan Grandma.”


“Ada apa Ma ?”


“Kemarin Grandma ingin melihat klinik yang dulu dikelola Papamu. Dan Papamu meminta Mama untuk memperbaiki tata kelolanya.”


“Kemungkinan Mama pulangnya besok Rey. Kamu gak Papa kan dirumah sendiri?”


“Reyhand kan bukan anak kecil Ma.”


“Kalau ada apa – apa kamu hubungi Mama saja Rey.”


“Okey Ma.”


“Oh ya udah Ma Reyhand berangkat sekolah dulu ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumusalam.”


Setibanya di sekolah Reyhand melihat handphonenya, dia melihat Destya masih belum membalas pesannya. Karena sudah pukul 06.00 ia segera pergi ke ruang OSIS membantu rekannya yang lain.


Reyhand di tahun kemarin menjabat sebagai Ketua OSIS di sekolahnya. Sehingga ia selalu ada di setiap acara kegiatan sekolah. Meskipun saat ini ia sudah menjadi Mantan Ketua OSIS, Reyhand selalu memberikan pengarahan pada para juniornya.

__ADS_1


Setelah selesai memberi arahan pada juniornya, Reyhand segera bergegas untuk ke kelas. Reyhand melihat kembali ponselnya, dan Destya masih belum menjawab pesannya.


“Kemana kamu Sayang. Apa sesibuk itu hingga tidak membalas pesanku.”


Reyhand masuk ke kelas dan di depan pintu kelas ada Rendi dan Roy yang baru datang.


“Rey, kenapa lo gak bersemangat seperti biasanya ?” tanya Rendi.


“Destya belum menjawab pesanku Ren.”


Roy yang mendengar perkataan dari Reyhand tersenyum senang. Karena tadi pagi orang yang dikiranya Destya membalas pesannya.


“Akhirnya sebentar lagi gue bisa dapetin Destya. Maaf ya Rey kita emang sahabat tapi kalo urusan cewek kita saingan.”


“Ngapain lagi lo senyam – senyum Roy ?”


“Kesambet lagi lo ya kayak kemarin ?”


“Udah lah ayo masuk kelas.” ajak Rendi pada kedua sahabatnya.


Mereka bertiga pun segera masuk ke kelas.


“Udahlah Rey, cewek lu pasti lagi sibuk.” Ucap Rendi menenangkan sahabatnya yang masih murung.


“Iya mungkin bisa jadi Ren, kemarin dia bilang kalau minggu – minggu ini dia sibuk, karena minggu depan sudah mulai praktek kerja di rumah sakit.”


“Nah gitu dong Rey, lo sebagai cowok harus bisa ngertiin cewek.”


“Okey thanks ya Ren.”


Rendi membalasnya dengan anggukan.


\=\=\=


“Sarah, Destya mana ?”


"Kenapa dia belum datang ?"


“Gak tau ka, aku udah chat tapi gak dibales.”


“Kamu tau gak ka, kira – kira Destya kemana ?”


“Kalau aku tau gak mungkin aku nanya sama kamu Sarah.”


“Iya juga ya. Mudah – mudahan Destya gak kenapa – kenapa.”


\=\=\=\=


Sepulang sekolah seperti biasa Reyhand kembali menjemput Destya. Reyhand menunggunya di gerbang sekolah. Namun Destya masih belum menampakan dirinya. Reyhand yang melihat Sarah segera menghampirinya.


“Sarah, dimana Destya ?”


“Destya gak masuk Rey hari ini .”


“Kenapa ?”


“Aku juga gak tau Rey, soalnya aku chat tadi pagi gak dibalas.”


Sarah menghentikan Reyhand yang akan pergi meninggalkannya.


“Tunggu Rey, kamu mau ke rumah Destya gak?”


“Ya iyalah aku khawatir padanya.”

__ADS_1


“Aku ikut motor kamu ya?”


“Ya udah cepat naik, jangan pegang – pegang ya.”


“Emangnya aku kuman Rey.”


“Pegangnya ke jok belakang aja.”


“Ayok cepet !”


“Gak Raka gak Reyhand sama aja. Nasib – nasib.” Gumam Sarah.


Sesampainya di rumah Destya.


“Bu Destya nya ada?” tanya Sarah pada Ibunya Destya.


“Ada dikamar Sarah sedang sakit.”


“Apa ??? Sakit bu ?” Tanya Reyhand terkejut mendengar kabar kekasihnya sakit.


“Apa boleh kami melihatnya ?”


“Iya silahkan masuk.”


Di kamar Destya.


“Sarah Reyhand, kalian kesini ?”


“Iya aku khawatir padamu Des. Tadi pagi kau tidak membalas pesanku.”


“Iya hari ini aku tidak enak badan kepalaku pusing.”


“Kamu sudah minum obat ?”


“Sudah Rey.”


“Terimakasih kalian sudah menjengukku.”


“Tidak perlu berkata seperti itu Des, aku kan sahabatmu.”


Tak lama kemudian Raka juga datang ke rumah Destya.


“Ngapain kamu kesini ?” tanya Reyhand pada Raka dengan ketus.


“Aku hanya khawatir pada Destya.”


“Bukan tugasmu untuk khawatir pada kekasihku.”


“Sudah dari pada kalian bertengkar disini lebih baik kalian pulang saja.” ucap Destya yang tidak mau ada pertengkaran di rumahnya.


“Iya kenapa kalian berdua ini, udah tau Destya lagi sakit malah berantem.”


“Maaf Des, dia yang memulai.” Ucap Raka.


“Maafkan aku Des, lebih baik kita biarkan Destya istirahat. Kamu juga jangan mengganggu istirahat Destya.”


“Semoga cepat sembuh ya, kabari aku kalau ada apa – apa.”


"Iya terimakasih."


“Ayo kita pergi agar Destya bisa beristirahat.”


Mereka bertiga segera pamit untuk pulang agar Destya bisa beristirahat dan cepat sembuh.

__ADS_1


__ADS_2