Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 6


__ADS_3

Pagi hari Reyhand, terbangun karena mendengar alarmnya berbunyi. Ia lupa mengatur jam alarmnya.


Reyhand yang melihat jam dindingnya pada pukul 06.00 segera bergegas ke kamar mandi dan segera bersiap pergi ke sekolah.


Setelah siap Reyhand langsung berangkat ke sekolah, untungnya semalam ia sudah menyiapkan semua buku untuk pelajaran hari ini.


Bu Kirani yang melihat Reyhand keluar kamarnya memanggilnya untuk sarapan.


“Rey, ayo cepat sarapan dulu.”


“Reyhand buru – buru Ma, udah telat nih.”


“Sarapannya nanti di sekolah aja Ma.”


Reyhand mencium tangan ibunya dan berpamitan dan bergegas ke sekolah.


“Aduh kenapa jalanannya macet sekali.”


“Sial ... sial..”


“Mana hari ini mata pelajaran Bu Sinta”


“Masa iya aku harus kena hukuman lagi.”


Reyhand melihat jam tangannya dan waktu sudah menunjukan pukul 6.45.


“Kalau seperti ini, aku bisa telat.” Reyhand mendengus kesal.


Tak lama kemudian ada yang menepuk pundak Reyhand. Reyhand pun menoleh.


“Woyyy.” Sapa Rendi.


“Lo belum sampe sekolah ?” tanya Rendi karena biasanya Reyhand selalu datang tepat waktu.


“Gue bangun kesiangan, semalam gue belajar dan ngerjain beberapa tugas.”


“Kayaknya kita bertiga bakalan dihukum berjamaah .” Ucap Roy pada Reyhand dan Rendi.


Reyhand yang mendengar perkataan Roy tidak bisa membayangkan kalau ia harus dihukum untuk yang kedua kalinya oleh Bu Sinta. Hukuman yang kemarin diberikan oleh Bu Sinta sudah membuat Reyhand sakit seluruh badannya, apalagi kalau ditambah dia harus menerima hukuman lagi.


“Ayo jalan sini, kalo gak salah ini bisa langsung ke arah sekolah.” Ajak Rendi pada Reyhand.


Tanpa pikir panjang Reyhand segera mengikuti Rendi dari belakang, ia tidak mau kalau harus mendapat hukuman lagi dari Bu Sinta.


“Ren, beneran nih jalannya ?”


“Tinggal 5 menit lagi nih. Gue gak mau sampe telat dan kena hukuman Bu Sinta.”


“Yakin 1000 %.”


“Kalo kita kesiangan mending bolos aja, daripada harus kena hukuman.” Ajak Roy pada kedua temannya itu.


Diantara Reyhand, Rendi dan Roy, Roy lah yang sedikit nakal. Terkadang Roy suka bikin ulah di sekolah. Roy pun pernah ikut tawuran bergabung dengan sekolah lain. Meski Roy terkenal nakal di sekolah namun ia juga termasuk anak yang selalu menjadi juara pada pertandingan Badminton antar sekolah, bahkan pernah mengikuti antar provinsi.


“Plisss Roy, nyari saran yang bener dikit napa.” Ucap Reyhand yang kesal karena Roy mengajaknya untuk bolos sekolah.


Reyhand bukan typikal anak yang nakal. Ia selalu disiplin dan taat pada aturan.


“Gimana nih Ren, 3 menit lagi.”


“Sabar bro, bentar lagi sampe nih.”


Rendi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi diikuti Reyhand. Akhirnya mereka tiba di sekolah dengan tepat waktu.


“Gila lo Ren, jantung gue mau copot nih.”


Reyhand dan Rendi yang mendengarnya hanya bisa tertawa. Mereka tau, meskipun Roy anak yang nakal dan bandel namun dia adalah seorang penakut.


“Gue kan belum nikah, kalo gue mati dan jodoh gue sedih karna gue mati kan kasian.” Ucap Roy yang berjalan sambil ngos – ngosan karena tadi Rendi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


“Emang lo mau kena hukuman Bu Sinta. Si Rey aja kapok kemarin kena.” Ucap Rendi pada Roy yang masih ngoceh terus – terusan.


Roy menarik tangan Rendi dan Reyhand.


“Apaan sih lo, kan kelasnya disini.” Ucap Reyhand pada Roy.


“Ke toilet yuk, gue kebelet niiihh.”


“Lo aja sendiri ogah gue.” Ucap Rendi pada Roy dan mengibaskan pegangan tangan Roy.


“Ayoklah bel kan baru bunyi sebentar doang.”


“Ya udah ayok cepet.”


“Gitu dong jadi sahabat harus solid.” Menarik tangan Reyhand dan Rendi.


“Gak usah pegang – pegang Roy. Gue bisa jalan sendiri.” Ucap Rendi ketus.


“2 menit yaa, lebih dari itu kita tinggal.” ucap Reyhand pada Roy.


“Ayok Ren hitung.”

__ADS_1


Rendi pun menghitung sampai 120 detik.


“Gila lo yaa, kebelet aja pake dihitung segala.”


“Makannya jadi orang jangan penakut.”


“Ayok cepet sebelum Bu Sinta masuk.” Ajak Reyhand pada kedua sahabatnya.


“Tidak seperti biasanya Bu Sinta belum masuk ke kelas, kenapa yaa ?”


“Mana gue tau. Emangnya gue lakinya Bu Sinta.” Ucap Roy yang sedang asyik memainkan game di handphonenya.


Tak lama kemudian Guru Piket datang mengabari kalau hari ini Bu Sinta tidak bisa masuk, karena anaknya sedang sakit.


“Coba aja kita bolos hari ini, kita bisa santai – santai nongkrong di cafe.”


“Diem lo Rey, dari tadi goda orang mulu.”


“Mending lo kerjain tuh tugas dari Bu Sinta.”


“Gue males ngerjain pelajaran itu. Lo aja yang kerjain, gue lagi nanggung nih belum kelar ngasih makan ni cacing. Bukankah kata Pak Hendro guru agama kita harus menyayangi semua makhluk ciptaan Tuhan.”


“Bukan gitu maksudnya Reyyyyy.”


“Cacing aja lo urusin. Awas aja kalo lo minta contekan ke gue.” Jawab Reyhand dengan ketus.


“Gimana sih lo Rey, sesama teman kan harus saling berbagi, mengasihi dan menyayangi.”


“Au ahhhh.”


“Udahlah Rey, mending kerjain aja dari pada ngurusin si Rey yang ada kita ketularan sengkleknya ama tu anak.”


Reyhand dan Rendi pun segera mengerjakan tugas dari Bu Sinta. Dengan cepat Reyhand mampu menyelesaikan tugas tersebut.


Roy yang melihat Reyhand yang sudah santai, karena telah menyelesaikan tugasnya lalu menghampirinya.


“Rey, liat dong jangan pelit ma temen sendiri.”


“Kan gue dah bilang, gue gak mau ngasih contekan.”


“Pelit bener entar kuburannya sempit.”


“Biarin.” Ketus Reyhand.


“Emang lo mau liang lahat lo gedenya segede kardus indomie.”


Reyhand yang mendengar Roy, hanya bisa geleng – geleng kepala.


“Ren, gue boleh liat yaa?”


“Nggak boleh.”


“Kan gue nanyanya boleh jadi harus dijawabnya boleh.”


“Ya boleh yaa?”


“Terserah lo deh, tapi ini gak gratis.”


“Tenang ntar gue traktir lo.” Sambil membawa lembar jawaban Rendi.


“Serius lo?”


“Duarius.”


“Suer yaa duarius.”


“Iyaa ntar gue traktir lo cimol yang di depan SD 2000”


“Haaahhhhh cimooollll .....”


“2000 lagi.”


“Otak gue lo hargain dengan cimol 2000 dasarrr lo yaa.”


“Sini ah lembar jawaban gue, gue gak mau otak gue yang pinter ini jadi tercemar oleh limbah pikiran lo yang sengklek itu.”


“Ren, kok lo malah ikutan pelit kayak si Reyhand sih.”


“Emang lo mau liang lahat lo segede kardus indomie.”


Reyhand yang melihat kedua sahabatnya beradu mulut hanya geleng – geleng kepala. Tak lama kemudian dia berniat untuk mengirim pesan pada Destya.


“Sayang, semangat yaa semoga lancar ulangannya.”


“Ooh yaa, nanti pulangnya makan siang sebentar yaa, aku tunggu di tempat biasa yaaa.”


“Miss you.”


Setelah mengirim pesan pada kekasihnya, Reyhand yang masih melihat Rendi dan Roy beradu mulut, lalu mengajaknya untuk ke kantin.


“Bro gak laper emang, kantin yuk.”

__ADS_1


“Udah aaahhh gue mau ke kantin.”


“Yuk Rey.”


“Gue ikuttt .”


“Gue takut kalo di kelas sendiri tapi ......”


“Tapi apa ?” Tanya Rendi dengan ketus.


“Gue gak bawa duit hehe.”


“Gue pinjem duit lo yaa, atm gue saking gede saldonya ditelen sama tuh mesin atm.”


“Boleh yaa ?”


Rendi berlaju meninggalkan Roy menuju kantin tanpa memperdulikannya.


“Gue minjem ke lo aja ya Rey, jangan pelit kayak si Rendi kalo pelit kuburannya sempit.”


“Iya iyaa gue pinjemin.”


“Tengkyuuu Rey, semoga amal ibadahmu disisi Allah SWT.”


“Hehh lo nyumpahin gue mati ?”


“Gue gak nyumpahin lo Rey. Gue cuman ngedoain lo. Gue kan udah di dzolimi sama si Rendi pasti do’a gue cepet banget terkabulnya.”


Reyhand pun segera menyusul Rendi diikuti oleh Roy, karena jika ia terus menjawab perkataan Roy tidak akan kelar sampe besok subuh.


\=\=\=\=\=\=


Di kantin


“Rey, lo masih kan sama si Destya ?”


“Iyaa, kenapa ?”


“Lo jangan marah yaa ?”


“Iyaa kenapa emang ?”


“Janji ?”


“Iyaa.”


“Bener yaa lo gak boleh marah.”


“Iyaa cepetan dong.”


“Gini Rey, kemarin gak sengaja gue liat si Destya naik motor sama cowok. Cowoknya ganteng juga sih. Kayaknya tu cowok suka sama cewek lo.”


“Dan gue liat mereka di motor boncengan ketawa – ketawa.”


“Terus.”


“Yaa gitu sih yang gue liat. Gue gak ikutin mereka soalnya gue kebelet kemarin abis beli bakso salah resep. Gue kira kecap ternyata pedes.”


“Perasaan warna kecap itu item dan warna saus itu merah. Lo buta warna ?” tanya Roy pada Rendi.


“Diem lo ah, itu semua kan gara – gara lo.”


“Cuma itu.” Jawab Reyhand dengan santai.


“Iyaa.”


“Lo kok gak marah Rey atau cemburu.” Tanya Rendi dengan heran.


“Gue udah tau kok, gue percaya kok sama Destya. Dia ga akan mungkin khianatin gue.”


“Percaya itu sama Tuhan bukan sama si Destya.” Jawab Roy sambil menikmati mie ayamnya.


“Mau lo gak gue bayarin ???, biar lo nanti abis pulang sekolah nyuci piring disini karena gak sanggup bayar.”


“Jangan gitu dong Rey, kita kan sahabat.”


“Ayok cepet bentar lagi masuk kelas.”


Rendi merogoh celananya namun tidak menemukan dompetnya.


“Rey, kayaknya gue pinjem duit lo dulu deh. Dompet gue kayaknya ketinggalan.”


“Yaa iyaa.”


“Makasih yaa Rey, lo emang sahabat yang paling bisa gue andelin.”


“Oke Ren, abis ini lo jadi babu gue yaa kalo gak sanggup bayar.” Ucap Reyhand sambil tertawa bercanda.


“Tega bener lo Rey.”


Lalu mereka bertiga pun segera masuk ke kelas karena bel sudah berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2