Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 3


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Reyhand langsung menghampiri kedua orang tua dan Grandmanya yang sedang duduk di ruang keluarga.


“Ada apa sih Pa ini, sepertinya penting sekali ?”


“Duduklah.” Pak Daniel meminta Reyhand untuk duduk terlebih dahulu.


Reyhand yang baru datang sedikit keheranan dengan apa yang akan Papanya bicarakan karena semuanya terlihat serius sekali.


“Baiklah karena Reyhand sudah ada disini jadi kita langsung saja pada intinya.” Ungkap Pak Daniel.


“Reyhand, beberapa bulan lagi kamu akan lulus sekolah, jadi kamu harus ikut Papa dan Mama 3 bulan lagi kita akan pindah ke Jerman kamu bisa kuliah disana nanti Papa yang akan siapkan semuanya.”


“APA ?” Reyhand sangat terkejut dengan perkataan Papanya yang meminta Reyhand untuk ikut tinggal disana karena itu berarti dia harus berpisah dengan Destya kekasih yang sangat ia cintai.


“Ya Papa harap kamu setuju kita tinggal disana, karena Mamamu juga akan tinggal disana.”


“Kenapa mendadak seperti ini Pa.”


“Kenapa kita harus tinggal di Jerman.”


“Ada apa sebenarnya Pa ?” Reyhand masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Papanya.


“Keputusan Papa sudah bulat Rey, kita akan tinggal bersama di Jerman. Lagi pula Kakakmu juga tinggal disana bukan.”


“Dengan kamu tinggal disana kamu bisa menjaga Grandma Rey, karena Kakakmu tahun depan akan meneruskan S2 nya di Amerika.”


“Apa kau tidak mau tinggal bersama Grandma disana Rey?” tanya Grandma.


“Bukan itu maksud Reyhand, Grandma.”


“Sudahlah Rey, Papa sudah memikirkannya dengan Mama dan juga Grandma.”


“Tapi ini tidak adil Pa.”


Reyhand menangis dan pergi ke dalam kamarnya. Dia mengacak – mengacak seluruh isi kamarnya hingga seperti kapal pecah.


Pak Daniel, Bu Kirani dan Grandmanya Reyhand terdiam melihat tingkah Reyhand yang berbeda. Reyhand terkenal dengan anak yang cerdas, rajin dan penurut. Ia selalu mengikuti kehendak orang tuanya tanpa pernah ada penolakan.


Bu Kirani hendak menyusul Reyhand, namun dihentikan oleh Pak Daniel.


“Biarkan saja Ma, mungkin Reyhand hanya shock karena akan pindah ke Jerman.”


Bu Kirani tidak bisa berbuat apa – apa. Sejujurnya ia juga kurang setuju dengan keputusan suaminya yang memintanya untuk tinggal di Jerman. Namun bagaimanapun juga Bu Kirani tetap harus mengikuti permintaan suaminya dan ia juga harus memperbaiki hubungan dengan Mama mertuanya.


Sebelum makan malam, Pak Daniel melihat kursi meja makan Reyhand kosong. Ia pun pergi ke kamar Reyhand menyusul istrinya. Namun pintu kamarnya dikunci. Bu Kirani sedari tadi mencoba untuk mengetuk pintu kamar Reyhand dan memanggilnya agar mau membuka pintu namun tetap saja Reyhand tidak mau membukanya.

__ADS_1


“Reyhand, cepat keluar makan malam sudah siap !" Kata Pak Daniel dengan nada suara datar.


Reyhand tetap tidak menjawab panggilan dari Papanya itu, ia masih shock dengan keputusan Papanya. Ia tidak sanggup kalau harus berpisah dengan Destya. Jangankan untuk berpisah jarak, beberapa hari Reyhand tidak bertemu Destya, Reyhand sudah merasa rindu berat pada kekasihnya.


Destya adalah wanita pertama yang meluluhkan hatinya. Reyhand tidak pernah melirik wanita lain selain Destya, meskipun banyak teman satu sekolahnya mengejarnya, namun Reyhand mengabaikannya.


“Tidak biasanya Reyhand bersikap seperti ini.” Gumam Pak Daniel dalam hati yang masih mencoba mengetuk pintu kamar Reyhand agar segera keluar dari kamarnya namun tetap tidak berhasil.


“Gimana ini Pa, kalau Reyhand gak makan Mama takut dia sakit.”


“Tadi pagi dia hanya sarapan dan langsung pergi belajar ke rumah temannya, Mama gak tau apa dia makan siang atau tidak.”


“Sudahlah Ma, biarkan dulu dia berfikir jernih Reyhand kan sudah dewasa.”


“Ayo kita makan malam sekarang.” Pak Daniel dan Bu Kirani meninggalkan kamar Reyhand.


“Mana Reyhand cucuku ?”


“Di kamar Ma, dia mungkin masih shock dengan keputusan kita tinggal di Jerman.”


“Apa dia tidak akan makan malam bersama kita Daniel ?”


“Kenapa dia jadi membantah seperti itu, apakah Mamanya tidak bisa mendidik anaknya. “ Grandma melirik ke arah Bu Kirani menantunya dengan tatapan tajam, karena hubungan mereka memang dari dulu sangat renggang.


Bu Kirani yang mendengar pernyataan Mama mertuanya menjadi kesal dan makin tidak berselera makan, ditambah ia memikirkan Reyhand yang tidak mau makan dan keluar dari kamarnya.


“Kalau bukan karena Kirani yang mendidik Reyhand tidak mungkin Reyhand bisa sepintar itu.”


“Bela saja terus istrimu itu.” Grandma beranjak meninggalkan meja makan.


“Maa ... maa ...” Pak Daniel hendak berdiri memanggil Mamanya.


“Lanjutkan saja makan kalian, Mama sudah tidak merasa lapar.”


Bu Kirani melirik suaminya dengan wajah sedih. Ia tidak tahu lagi kenapa Mama mertuanya selalu bersikap tidak baik padanya. Padahal ia selalu menuruti apapun permintaan Mama mertuanya itu, hingga ia harus mengorbankan perusahaan yang sudah lama ia bangun hanya untuk mengikuti permintaan Mama mertuanya itu.


“Ma gak usah dipikirin ya, maafkan Mamaku yang selalu bersikap tidak baik padamu.” mengecup kening istrinya agar sedikit lebih tenang.


“Mungkin mama sedang emosi karena cucunya tidak mau makan.”


Pak Daniel mencoba menenangkan istrinya, agar hubungan mereka tidak semakin renggang.


Dikamar Reyhand masih menangis ia tidak sanggup kalau harus tinggal di Jerman. Tak lama kemudian handphonenya berdering dan ID pemanggilnya adalah Ratu Dihatiku yang tak lain adalah Destya.


Reyhand tidak mengangkat panggilan dari Destya, karena ia takut Destya mengetahui keadaannya saat ini, ia tidak mau membuat Destya khawatir dengan suaranya yang lirih karena menangis.

__ADS_1


Handphone Reyhand masih tetap berbunyi hingga belasan kali. Namun tetap Reyhand tidak mau menggangkat teleponnya.


“Maafkan aku tidak menjawab panggilanmu sayang.”


Reyhand menyimpan handphonenya dan membiarkannya tetap berbunyi.


Didalam kamar Destya merasa khawatir karena Reyhand tidak mengangkat panggilan teleponnya.


Perasaannya menjadi tidak enak, karena biasanya Reyhand begitu sampai rumah selalu mengabarinya namun kali ini tidak. Perasaan hati Destya menjadi tidak karuan ia khawatir terjadi sesuatu pada Reyhand.


“Reyhand kamu dimana, kenapa tidak menjawab panggilanku.” Gumam Destya dalam hatinya.


Sudah hampir 1 jam Destya mondar – mandir di dalam kamarnya. Ia mencobanya 1 kali lagi untuk menghubungi Reyhand, namun tetap tidak ada jawaban.


“Tenangkan hatimu Destya, Reyhand pasti baik – baik saja.” Destya mencoba menenangkan dirinya sendiri. Destya beranjak untuk pergi ke dapur mengambil air agar pikirannya menjadi lebih tenang.


Tak lama kemudian, ayahnya Destya datang.


Ayah Destya, Dani Mahiskandar adalah seorang Guru Honorer di salah satu SMA Negeri, selain berprofesi sebagai seorang Guru Honorer Pak Dani juga merupakan RT di wilayah tersebut.


“Ayah baru pulang, tapi kenapa pakaian ayah kotor sekali.”


Destya melihat pakaian ayahnya yang kotor dan ada bercak darah di bagian celana kerja ayahnya.


“Oh ini, ayah habis menolong orang yang kecelakaan.”


“Tadi ada seorang pemuda seusiamu yang kecelakaan, jadi ayah menolongnya.”


“Apa “ Destya terkejut, kemudian ia teringat pada Reyhand kekasihnya yang hingga saat ini belum memberinya kabar.


“Seperti apa ciri – ciri orangnya Ayah.”


Pak Dani menerangkan ciri – ciri orang tersebut.


Ada beberapa kesamaan yang disebutkan Ayahnya, seperti warna jaket dan warna motornya sama dengan yang dikenakan Reyhand tadi.


Destya yang mendengarkan ucapan Ayahnya tiba – tiba kepalanya mendadak pusing. Destya menjatuhkan ponselnya ke lantai. Dan akhirnya Destya jatuh pingsan.


Pak Dani segera memanggil istrinya, memberitahu kalau Destya pingsan. Dan Pak Dani membaringkan Destya di kamarnya dan Ibunya memberikan minyak kayu putih agar Destya segera sadar. Namun Destya masih belum kunjung sadar juga.


“Yah, kenapa Destya bisa sampai pingsan begini ?”


“Ayah juga gak tau Bu, tadi setelah Ayah pulang dari Kantor Desa di perjalanan ada seorang pemuda yang kecelakaan dan Ayah menolongnya dan menceritakan kejadian tersebut pada Destya. Tiba – tiba Destya pingsan.”


“Ada – ada saja, ya sudah Ibu buat teh hangat untuk Destya.”

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Destya membuka matanya kepalanya masih sedikit pusing, seketika ia teringat pada kekasihnya Reyhand. Destya hendak beranjak bangun dari tempat tidur namun dihentikan oleh Ibunya yang membawa teh manis hangat dan memintanya untuk beristirahat. Destya pun menuruti perkataan Ibunya walau di dalam hatinya ia masih memikirkan Reyhand.


“Dimana kamu Reyhand. Semoga kamu baik – baik saja.” Gumamnya dalam hati dan mengecek ponselnya berharap Reyhand mengabarinya. Dan akhirnya Destya pun tertidur dengan handphone di dadanya.


__ADS_2