Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 35


__ADS_3

Destya yang kepalanya masih terasa pusing segera membaringkan tubuhnya di ranjang, dibantu oleh Sarah.


“Destya, kenapa kamu sakit gak bilang sama aku ?” tanya Sarah yang merasa khawatir melihat sahabatnya sakit.


“Aku baik – baik saja Sarah.” Jawab Destya dengan wajah sendu.


“Kenapa wajahmu sedih begitu Des ?”


“Reyhand kenapa belum memberiku kabar Sarah ? Aku sangat khawatir padanya. Sejak dia pulang dari sini dia belum mengabariku.”


“Mungkin Reyhand sedang sibuk Des.”


“Tapi dia tidak pernah sampai menghilang seperti ini.”


“Kamu sudah mencoba untuk menghubunginya ?”


“Sudah.”


“Ini baru jam 9 malam Des, apa kau mau mencoba untuk menelponnya ? Mungkin dia belum tidur.”


Destya segera mencari handphonenya di tas.


“Yah baterainya habis Sarah.” ucap Destya kecewa.

__ADS_1


“Masih ada hari hari esok Des, sebaiknya kamu istirahat dulu. Kalau Reyhand tau kamu sedang sakit dia pasti akan sedih dan khawatir. Kamu gak mau kan kalo Reyhand sampai gak fokus mau ujian gara – gara memikirkanmu.”


Destya pun mengangguk menyetujui perkataan Sarah, dan menutup matanya agar cepat tertidur.


“Aku tau perasaanmu Des, aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini perasaan rindu yang yang bercampur dengan rasa khawatir.” Gumam Sarah yang melirik ke arah Destya yang sudah mulai tertidur.


\=\=\=\=\=


Di dalam kamar Reyhand, mondar – mandir karena Destya tidak menelpon balik padanya. Padahal jelas tadi siang Reyhand menelponnya lebih dari 3 kali. Perasaannya menjadi tidak enak, ia mencoba menelponnya lagi namun handphonenya sekarang tidak aktif.


“Kenapa handphonenya tidak aktif.” Gumam Reyhand kesal.


Tak lama kemudian Bu Kirani mengetuk pintu kamar Reyhand. Reyhand yang mendengar Mamanya mengetuk pintu kamarnya segera beranjak ke ranjang untuk pura – pura tidur, karena pasti Mamanya akan memberikan beberapa pertanyaan padanya karena tidak mengangkat telpon dan membalas pesan dari Mamanya. Karena tidak dikunci, Bu Kirani langsung masuk ke kamar Reyhand, dan melihatnya sudah tertidur. Bu Kirani lalu melihat ke ponsel anaknya yang masih menyala di tangannya.


Namun Reyhand tidak kunjung membuka matanya, ia masih pura – pura tertidur belum menyadari kalau Mamanya sudah mengetahui kalau dia sedang pura – pura tidur.


“Reyhand, bangun jangan pura – pura tidur. Mama tau kamu cuman pura – pura tidur.”


“Kenapa Mama bisa tau kalau aku pura – pura tidur sih.” Gumamnya dalam hati.


Reyhand lalu membuka matanya, melihat ke arah Mamanya yang terlihat kesal dengan ulah Reyhand.


“Iya Ma.” Jawab Reyhand gugup.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak mengangkat telpon Mama, Mama kan sudah bilang kalau sore tadi kita mau menjenguk Adinda di rumah sakit ?”


“Kenapa kamu tadi tidak menyusul Mama ke rumah sakit ?”


“Menjenguk ? Kapan Mama bilang ?” tanya Reyhand yang pura – pura tidak mendengar perkataan Mamanya tadi pagi.


“Reyhand tadi sibuk Ma, sepulang sekolah Reyhand langsung ke mall beli handphone. Mama kan tau kalau handphone Rey rusak.”


“Tapi handphonemu dalam keadaan aktif, berarti saat Mama menelponmu itu kamu sudah membeli handphonenya kan ?”


Reyhand menggaruk – garuk tengkuknya yang tidak gatal, karena bingung harus mencari alasan apalagi pada Mamanya itu.


“Rey gak denger Mama minta Rey buat jenguk Adinda. Suer deh Ma.” Sambil mengangkat kedua tangannya membentuk huruf V.


“Mama kan tau Rey buru – buru tadi pagi. Udahlah Ma, Rey ngantuk beneran ini.”


“Selamat malam Mamaku yang cantik.” Sambil menarik selimut ke tubuhnya dan langsung memejamkan matanya.


Bu Kirani langsung meninggalkan kamar Reyhand.


“Untung aja Mama percaya.”


Reyhand pun membuang nafas lega, dan akhirnya ia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2