Aku Kamu Satu

Aku Kamu Satu
BAB 2


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Reyhand segera masuk ke dalam rumahnya.


“Darimana saja kamu Rey jam segini baru pulang ?” tanya Mama Reyhand yang melihat anaknya baru pulang.


“Abis main sama temen Ma, tumben Mama udah pulang ?”


Karena biasanya Mamanya Reyhand meskipun hari ini adalah hari Sabtu namun tetap saja selalu pulang larut malam. Mamanya Reyhand, Kirani Hapsari adalah seorang Pengusaha sehingga ia selalu ingin memastikan bahwa pekerjaan kantornya berjalan dengan baik.


Reyhand pun berjalan menghampiri Mamanya yang sedang sibuk di laptopnya dan mencium tangan Mamanya.


“Iya mama sengaja pulang cepat karena hari ini Grandma akan kesini sama Papa.”


Papa nya Reyhand yang bernama Daniel Darelano adalah seorang Dokter di sebuah Rumah Sakit di Jerman, yang tak lain Rumah Sakit itu adalah Rumah Sakit peninggalan Grandpanya Reyhand yang juga merupakan seorang Dokter. Setiap 1-2 bulan sekali Papanya Reyhand pulang ke Indonesia untuk menemui anak dan istrinya.


“Segeralah bersiap karna setengah jam lagi kita akan ke bandara jemput Papa !”


“Okey Ma”


Reyhand segera bergegas menuju ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya yang lengket karena cuaca hari ini sangat panas.


\=\=\=\=\=


Di Bandara.


“Papa, Grandma”


Reyhand langsung memeluk Papa dan Grandmanya ia merasa sangat rindu terutama pada Grandmanya karena Reyhand hanya bertemu 1 tahun sekali dengan Grandmanya itu.


“Cucuku semakin tampan sekali." ucap Grandmanya Reyhand yang mengelus rambut Reyhand.


“Siapa dulu dong Papanya.” Ucap Papa Reyhand sambil tersenyum bangga dengan ketampanan anaknya.


Grandmanya Reyhand adalah wanita yang berkebangsaan Jerman, ia menikah dengan orang Indonesia dan pernah tinggal 2 tahun di Indonesia sehingga Grandmanya bisa berbicara dengan menggunakan Bahasa Indonesia.


Mereka berempat langsung segera pulang ke rumah, dan tak lupa makan malam bersama.


“Rey, sekolahmu tinggal beberapa bulan lagi bukan ?” tanya Grandma Reyhand.


“Iya Grandma, sekarang aja lagi banyak latihan ujian.”


“Bagus, belajarlah yang rajin, kamu harus lebih sukses dari Papamu.” Ungkap Grandma Reyhand.


Reyhand hanya mengangguk dan tersenyum.


Setelah selesai makan mereka langsung beristirahat ke kamar masing – masing.


Di dalam kamar.


Pak Daniel menceritakan mengenai keinginan Mamanya untuk bisa pindah dan tinggal di Jerman. Meskipun Pak Daniel tau hubungan Mamanya dan istrinya Kirani kurang baik, karena Papa Reyhand menikahi Bu Kirani tanpa persetujuan Mamanya.


“Ma, setelah Reyhand lulus, kita akan tinggal bersama di ......” Ungkap Papa Reyhand yang belum selesai bicara, namun langsung dipotong oleh istrinya.


“Yang bener Pa ?” Bu Kirani berfikir kalau suaminya akan bekerja di Indonesia seperti dulu di awal mereka menikah.


“Iya, tapi ....”


Belum selesai Papanya berbicara Mama Reyhand memotong lagi pembicaraan.


“Akhirnya Pa, kita bisa bersama terus seperti dulu.” gumam Bu Kirani senang.


Pak Daniel menjadi kebingungan untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Ma, denger dulu Papa belum selesai bicara.” Pungkasnya menghentikan perkataan istrinya.


“Ya ma kita akan tinggal bersama tapi tidak di Indonesia.”


“Maksud Papa ?”


“Kita akan tinggal di Jerman, Mama meminta kita untuk tinggal disana.”


Mendengar pernyataan suaminya Mama Reyhand terkejut.


“Mama gak setuju Pa, Papa kan tau sendiri Mama punya perusahaan disini, kalau mama tinggal di Jerman siapa yang akan mengurusnya ?”


“Mama kan bisa meminta Herdian adik Mama untuk bisa menghandle perusahaan Mama, menurut Papa Herdian pantas untuk menghandle perusahaan.”


“Nggak Pa ....... dia belum terlalu mengetahui seluk beluk perusahaan dengan baik.”


“Pokoknya Mama gak setuju kita tinggal disana.”


“Ma dengerin Papa dulu, siapa tau dengan Mama tinggal disana hubungan Mama dengan Mamaku bisa menjadi lebih baik.”


Bu Kirani berfikir sejenak, ya mungkin dengan mengikuti perkataan suaminya sikap mertuanya akan menjadi baik padanya.


“Mama akan coba pikirkan dulu Pa, kita lanjutkan besok pagi.”


Bu Kirani segera tertidur membelakangi suaminya.


Di kamar Reyhand sedang melakukan vidio call dengan Destya, meskipun ia merasa sangat lelah karena telah menjemput Papa dan Grandmanya di Bandara, rasa lelah itu hilang hanya dengan mendengar suara dan melihat wajah cantik kekasihnya.


Mereka sangat asyik tanpa menyadari panggilan vidio call mereka sudah berlangsung 2 jam dan jam saat ini sudah menunjukkan pukul 12 malam tepat.


Seperti biasa Destya lah yang mengakhiri percakapan Reyhand, karena Destya tahu kalau Reyhand bahkan bisa berjam – jam lebih melakukan vidio call dengannya.


Keesokan harinya, saat sarapan pagi.


“Kemana Reyhand Ma ?”


“Apa dia masih tidur ?”

__ADS_1


“Udah Mama panggil kok Pa barusan mungkin bentar lagi keluar.”


Reyhand langsung menghampiri dengan wajah yang masih mengantuk karena semalam setelah vidio call dengan Destya dia tidak langsung tidur. Banyak latihan soal ujian yang harus ia pelajari untuk menghadapi Ujian Nasional.


“Morning Pa, Ma, Grandma.” Sapa Reyhand sambil menarik kursi meja makan dan segera duduk.


“Morning.” Sapa mereka bertiga bersamaan.


Mereka berempat pun sarapan tanpa ada suara sedikitpun.


Setelah sarapan Reyhand bergegas ke kamarnya.


Ia bersiap – siap untuk pergi mandi karena pagi ini ia akan pergi ke rumah Destya, walau kemarin sudah bertemu namun itu masih kurang cukup bagi Reyhand. Bahkan di setiap jam, menit dan detik Reyhand selalu ingin bersama dengan Destya.


Setelah memastikan penampilannya oke di cermin. Reyhand mengambil buku – buku pelajarannya di sekolah. Meskipun hari ini ia akan pergi bersama Destya ia tetap belajar. Karena dengan belajar bersama dengan Destya itu akan mempercepat ingatannya dalam belajar karena ada beberapa materi kelas 2 yang ia lupakan.


Memang Destya dan Reyhand adalah siswa yang berbeda angkatan dan juga berbeda sekolah. Destya bersekolah di salah satu SMK Kesehatan dan saat ini ia masih duduk di bangku kelas 2 SMK berbeda dengan Reyhand dia adalah siswa kelas 3 SMA jurusan IPA di salah satu SMA favorit yang hanya bisa dimasuki oleh kalangan - kalangan elit.


Pak Daniel yang melihat anaknya sudah tampil rapi di pagi hari terutama ini adalah hari minggu melihatnya dengan heran.


“Reyhand, mau kemana pagi – pagi begini sudah rapi ?”


“Reyhand mau belajar sama teman Pa, biar ada temannya kalau belajar sendiri kan Reyhand suka malas Pa hehe.” sambil menggaruk – garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Ya sudah hati – hati di jalan, jangan kebut – kebutan, nanti malam ada yang mau Papa bicarakan.”


“Siap Pa.” Reyhand mengangkat tangan kanannya memberi tanda seperti hormat.


Tak lupa sebelum pergi Reyhand pamit dan mencium tangan Papa dan Mamanya.


Pagi ini Reyhand sangat bersemangat, dia merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kekasihnya.


Sesampainya di rumah Destya, ada seorang Ibu yang sedang menyapu halaman mungkin itu Ibunya Destya gumam Reyhand dalam hati.


“Assalamu’alaikum Bu, Perkenalkan saya Reyhand temannya Destya. Apa Destyanya ada ?”


“Wa’alaikumusalam, ada silahkan masuk.”


Reyhand pun mengikuti langkah kaki Ibunya Destya.


“Sebentar Ibu panggilkan dulu ya.”


Tak lama kemudian, Destya menghampiri Reyhand yang sedang duduk di ruang tamu. Destya pun terkejut dengan kedatangan Reyhand kekasihnya itu tanpa memberitahunya dulu.


“Reyhand, untuk apa kamu kesini?”


“Kamu kan bisa menghubungiku dan janjian di suatu tempat.”


Destya merasa tidak terbiasa jika ada tamu laki – laki yang berkunjung ke rumahnya.


“Ya untuk bertemu denganmu. Apa aku tidak boleh berkunjung ke rumahmu. Aku ingin bertanya tentang mata pelajaran kimia padamu Des.”


“Ssstttt jangan panggil sayang nanti Ibuku bisa mendengarnya.”


"Maaf"


“Baiklah aku siap – siap dulu ya Rey.” Sambil berdiri hendak pergi untuk bersiap – siap.


“Apa tamumu ini akan dibiarkan kehausan ?”


“Mau minum apa ?”


“Apa saja yang penting kau yang membuatnya.”


“Hhmm...”


Tak lama Destya membawa nampan yang berisi air putih.


“Maaf Rey, dirumahku hanya ada air putih saja, gas nya habis tadinya mau aku buatkan teh hangat.”


“Tak apa aku bilang yang penting airnya buatanmu.”


“Manis semanis yang buatnya.” Meskipun itu hanya air putih namun karena Destya yang membuatnya jadi air putih yang rasanya tawar, serasa manis.


Destya yang mendengar ungkapan Reyhand hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


“Ya sudah aku akan bersiap – siap sekarang.”


Setelah siap mereka pergi tak lupa pamit kepada orang tua Destya.


“Kita akan kemana Rey ?”


“Nanti juga kau akan tau.”


Mendengar perkataan Reyhand Destya hanya diam tak membalas perkataan Reyhand karena Reyhand hanya bisa membuatnya penasaran saja.


Tak lama kemudian mereka sampai di taman, dimana taman ini adalah tempat mereka pertama jadian.


“Untuk apa kita kesini Rey ?”


“Sayang, kamu ingat gak saat kita jadian ?” sambil memandang wajah Destya.


“Ya tentu saja aku ingat.”


“Kau pikir aku melupakannya Rey.”


Reyhand pun mengajak Destya duduk di bangku taman.


“Baiklah sebelum kita mulai aku akan mencari makanan kecil, kamu tunggu disini jangan kemana – mana ya, kalau ada yang mengganggumu cepat kabari aku.”

__ADS_1


Destya tersenyum dengan perkataan Reyhand yang begitu memperhatikannya itu. Kekasihnya Reyhand begitu sangat peduli padanya.


Tak lama kemudian Reyhand datang membawa bubur ayam dan beberapa cemilan seperti keripik singkong dan beberapa cemilan lainnya kesukaan Destya.


“Ayoo sarapan dulu, aku gak mau kamu sakit karena belum sarapan ?”


Sambil menyodorkan mangkuk yang berisi bubur ayam pada Destya.


“Bagaimana kamu tau Rey, kalau aku belum sarapan ?”


“Bunyi perutmu memberitahuku kalau ratu dihatiku sedang kelaparan.”


Mendengar perkataan Reyhand, Destya tersenyum malu.


“Terimakasih”


“Sama – sama sayangku.”


“Kamu gak sarapan Rey?”


“Aku sudah sarapan dirumah tadi.”


“Mau nambah lagi ?” tanya Reyhand ketika melihat isi mangkuk bubur ayam yang sudah habis.


“Sudah cukup Rey, aku tidak serakus dirimu.”


“Ya sudah ayo kita mulai, bagian pelajaran yang mana yang belum kau mengerti Rey?”


Reyhand menunjukannya pada Destya, dan Destya pun menerangkan pada Reyhand. Reyhand mendengarkan Destya yang mengajarinya rumus kimia dengan pintarnya. Reyhand bersyukur karena kekasihnya selain memiliki paras yang cantik, dia juga sangat pintar.


Dari kejauhan tampak seseorang menghampiri keberadaan Destya dan Reyhand.


“Destya kan ? Kamu disini juga ?


“Iyaaa kamu Alan kan, kamu sedang apa disini ?


“Aku hanya sedang lewat saja tanpa sengaja melihatmu jadi aku menghampirimu.”


“Oh gitu.”


“Boleh aku meminta nomor ponselmu Des ?” Tanya Alan tanpa memperdulikan lelaki disamping Destya.


Destya melirik ke arah Reyhand yang terbakar api cemburu karena ada yang meminta nomor ponselnya.


Reyhand yang mendengarnya menjadi geram dan mengepalkan tangannya. Destya yang melihatnya segera mengajak Reyhand pergi untuk menenangkan.


"Alan, maaf aku buru - buru".


Alan hanya mengangguk dan menatap kepergian mereka.


“Rey, kamu kenapa ?”


“Apa kau cemburu Rey ? Tenanglah Rey tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu dihatiku.”


“Benarkah ?”


“Ya tentu saja Rey aku berkata yang sebenarnya.” Sambil tersenyum untuk meredam kecemburuan Rey.


“Sayang, aku hanya tidak suka kalau ada pria lain yang menghubungimu selain aku.”


“Dia hanya teman SD ku Rey.”


Rey terdiam dan ia yakin kalau Destya tak kan pernah menduakan cintanya itu.


Cuaca semakin panas membuat Reyhand dan Destya merasa haus. Akhirnya mereka pergi untuk memberi ice cream di sebuah minimarket.


“Banyak sekali Rey kau membelinya.”


“Gak papa yang penting kau suka.” Tanpa menoleh ke arah Destya karna masih mencari varian rasa ice cream lainnya.


Mereka duduk di depan minimarket tersebut sambil memakan ice cream. Reyhand yang melihat bibir Destya belepotan oleh ice cream tersenyum dan mengusap bibir Destya dengan sapu tangan.


Destya yang diperlakukan seperti itu tersenyum malu.


“Rey, handphonemu berdering tuh.”


“Biarkan saja tidak boleh ada yang mengganggu waktu berdua kita.”


“Angkat dulu siapa tau penting Rey.”


Reyhand mengambil handphone dari dalam tasnya.


ID pemanggilnya adalah My Daddy, Reyhand pun segera mengangkat telpon tersebut.


“Hallo Pa.”


“Rey, masih dimana kamu? Cepatlah pulang ada yang akan kita bicarakan !”


“Okey Pa tunggu sebentar lagi aku akan segera pulang.”


“Sayang, maaf aku harus segera pulang Papa menelponku barusan.”


“Oh sebaiknya kamu segera pulang sekarang, nanti aku naik angkutan umum aja lagian gak terlalu jauh dari sini”


“Tidak, aku akan mengantarkanmu pulang sampai rumah.”


“Tapi ..”


“Tidak ada tapi – tapian”

__ADS_1


Mereka pun segera meninggalkan minimarket tersebut dan segera pulang karena memang hari sudah sore.


__ADS_2