
"Kemana? kamu bawa kemana anakku? Kembalikan anakku!" teriakan Rena menggema memenuhi ruang VIP malam itu. Kalimatnya beruntun tak berjeda.
Rena tak mendapatkan jawaban apapun dari Dhea. Dhea masih gemetar sambil kebingungan tentang situasi yang terjadi di hadapannya.
Rena turun dari ranjangnya. Ia menghampiri Dhea yang masih mematung. Rena geram karena tak mendapat respon apapun. Ia mendorong tubuh Dhea beberapa kali. "Kamu pembunuh. Kamu sudah membunuh anakku."
"Maaf, Bu. Tenang dulu!" Bibir Dhea bergetar.
"Apa? kamu minta maaf sekarang? Terlambat!" Rena menggoyang-goyangkan pundak Dhea secara brutal.
Rena terus mengulangi pertanyaan 'di mana anakku' pada Dhea. Bahkan tangan Rena hampir saja merusak tatanan rambut Dhea. Rena ingin menjambak rambut wanita di hadapannya itu.
"Bu, jangan banyak gerak dulu. Tolong tenang." Dhea tak mau kalah. Ia berhasil memegangi kedua tangan Rena, meskipun harus dengan susah payah.
"Diiiiaaammmm. Lepaskan!" pekik Rena hingga terdengar dari luar.
Langkah kaki panjang dan tegas mulai terdengar. Seorang pria masuk dalam ruangan VIP itu.
"Rena, stop Rena. Udah, Sayang." Pria itu sigap mengambil alih kemarahan Rena. Ia rengkuh istrinya itu ke dalam pelukan dada bidangnya.
Sementara itu, Dhea semakin terpaku. Ia lebih diam dari sebelumnya. Dhea bukan hanya tak bisa menggerakkan otot-otot di sekujur tubuhnya. Kini hatinya seolah sedang dialiri arus panas yang menjalar ke sekujur tubuh dan sesekali berpusat ke matanya.
__ADS_1
Seorang pria tinggi gagah ada di hadapan Dhea. Rambut tertata rapi di atas kening persegi panjang. Di bawahnya terpahat hidung mancung menopang kedua mata dengan sorot dalam.
Rena masih terhisak dalam pelukan suaminya. Meski begitu, ia sudah lebih tenang. Ia luluh dan dengan mudahnya dituntun kembali ke ranjang tempatnya semula berbaring.
"Panji, kemana anak kita?" Rena berdesis lirih.
"Nanti ya. Nanti dulu. Kamu istirahat dulu biar cepat pulih." Panji membelai lembut kepala istrinya berulang kali. Rena kembali tenang. Lebih tenang dari sebelumnya. "Silakan, Sus .... " kalimat Panji terhenti. Ia seolah tak percaya siapa perawat yang ada di hadapannya kini.
"Maaf, Pak. Saya harus ganti botol infus karena sudah habis," ucap Dhea setelah susah payah berusaha untuk bersuara.
Ia hapus satu titik air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia rapikan kembali seragam putihnya yang hampir terkoyak. Helaian rambut yang hampir jatuh menggantung, menutup telinganya pun ia selipkan kembali.
Dhea berjalan melewati punggung Panji yang masih terdiam, bergeming. Dengan hati-hati Dhea melakukan tugasnya mengganti botol infus. Meski begitu, ia benar-benar ingin segera melarikan dari tempat itu.
Begitu tugasnya selesai, Dhea langsung berpamitan pada Panji. Cukup dengan menganggukkan kepala sopan. Ia tak mengeluarkan satu patah kata pun.
Dhea berjalan perlahan ke luar dari ruangan itu. Ia tutup pintu dengan hati-hati. Namun, langkahnya berubah drastis begitu berada di luar.
Dhea membelokkan langkahnya menuju tangga darurat. Dhea masuk kemudian menutup pintu. Ia halangi pintu menuju tangga darurat itu dengan tubuh semampainya.
Dhea terhisak. Ia sudah menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan dibantu dengan kedua telapak tangannya. Namun, suara tangis itu masih terdengar sesekali.
__ADS_1
Hingga, sekitar sepuluh menit berlalu. Dhea sudah cukup menenangkan dirinya. Ia kembali ke ruangan jaga setelah sebelumnya ke toilet untuk membasuh wajahnya. Ia berusaha menghapus sisa-sisa tangis di wajahnya. Meskipun mata tak berbohong.
"Ada masalah nggak?" tanya Tiwi, suster jaga yang malam itu bertugas bersama Dhea. "Tadi siang pasien itu ngamuk sama perawat jaga."
Dhea tak menanggapi. Ia lebih penasaran dengan alasan wanita itu bisa ada di sini. "Ibu itu kenapa memangnya? Aku belum baca detail tentang pasien ini."
"Hamil tua, kecelakaan. Anaknya nggak selamat. Rahimnya pun harus di angkat."
Dhea lekas menutupi mulutnya yang menganga. Ia terkejut sekaligus prihatin. "Kasihan. Ini kapan sih masuknya." Dhea memperhatikan info pasien dalam lembaran-lembaran kertas yang ia pegang.
"Dua hari lalu. Waktu kamu libur," jawab Tiwi sebelum Dhea berhasil menemukan informasi yang ia cari.
Namun, mata Dhea malah fokus ke hal lain. Penanggung jawab atau wali di sana tertulis Panji sebagai suami.
Benar! Dhea sudah tahu kalau mereka suami istri tapi entah mengapa ia seolah ingin memastikannya lagi. Sekali lagi atau bahkan berulang kali sampai keterangan itu berubah. Meskipun tidak akan mungkin.
Selama beberapa hari ke depan, Dhea harus menguatkan hatinya. Setiap malam harus masuk ke kamar itu. Bukan takut dijambak atau didorong, Dhea tidak siap kembali bertemu dengan Panji.
Panji Tilar Arya Negara, pria yang dulu pernah ia pacari selama tujuh tahun. Pria yang tiba-tiba memutuskan hubungan dengan alasan menuruti perjodohan mamanya. Pria yang lebih dari lima tahun ini tak pernah lagi ia lihat.
Setelah sekian lama. Setelah semuanya hampir terkubur. Kenapa Dhea harus kembali bertemu dengan Panji? Terlebih dengan istrinya, di saat Dhea masih sendiri. Di saat Dhea masih berusaha melepaskan sisa-sisa Panji dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...