AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Cinta dan Amal


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Mba ambil minum dulu ya buat Rena." Kali ini Nandin sengaja pergi. Bukan karena tak tahan dengan suana yang diciptakan Dhea dan Rena. Namun, Nandin ingin memberi mereka waktu untuk bicara berdua.


"Lama nggak ketemu. Apa kabar?" tanya Dhea mencoba bersikap baik.


"Baik walaupun sebenarnya bisa lebih baik," jawab Rena dengan maksud yang tak bisa ditebak. "Bagaimana kabarmu?" tanya Rena datar.


"Baik .... "


"Sudah menikah?" todong Rena tanpa basa-basi lagi.


Dhea tersenyum tawar. Ia tak menduga akan dilempari pertanyaan seperti itu. "Belum. Aku .... "


"Itu yang membuatku khawatir," ucap Rena memotong kalimat Dhea.


"Maksud kamu?"


"Kamu nggak ngulangin kesalahan kamu di tempo dulu 'kan? jadi simpanan orang? Makanya belum juga menikah," tanya Rena ketus.


"Hati-hati dengan ucapanmu, Rena. Ada anak kecil di sini,"


"Biar dia tahu kalau ayahnya sempat dicuri."


Rena belum berubah. Ia masih seperti dulu. Dhea sudah salah sangka kalau mengira semuanya baik-baik saja. Ia tertipu dengan janji manis Rena.

__ADS_1


Dulu Rena bilang akan mengingat kebaikan Dhea seumur hidupnya kalau mau membantu Panji kembali padanya. Sekarang? Ah mungkin Rena sudah lupa. Lupa akan kebaikan Dhea. Lupa juga dengan janjinya.


"Kamu masih dendam?" tanya Dhea to the point.


"Aku nggak dendam, cuma belum bisa lupa."


"Kamu bilang akan mengingat kebaikanku kalau aku mau bantu kalian bersama lagi?"


"Aku mengingat kebaikanmu tapi bukan berarti aku melupakan kelakuan menyimpangmu dulu," timpal Rena tanpa sadar kalau setiap kata yang keluar dari bibirnya itu menyimpan belati.


Dhea tak bisa berkata-kata lagi. Ia benar-benar terkejut. Ada pemikiran seperti itu ternyata. Jadi sebenarnya Rena memaafkannya atau tidak? Ia seolah enggan berbagi kata maaf dan terima kasih.


"Jadi bagaimana?"


"Agar kamu benar-benar bisa menghapus ingatan tentang kesalahanku di masa lalu?" tanya Dhea tanpa merubah nada bicaranya. Ia kesal, tetapi suaranya tetap terdengar santai.


"Cepat menikah. Umurmu sudah tak muda lagi .... "


"Aku nggak tahu kamu seperhatian itu padaku,"


"Kalau kamu menikah, kecil kemungkinan ada orang yang merasakan suaminya kamu kencani lagi. Lebih dari itu, Mas Panji mungkin akan benar-benar melupakanmu. Dia pasti akan lebih baik padaku,"


"Aku benar-benar salah sangka .... " Dhea kehilangan kata-kata untuk membalas Rena. Ia tak punya pisau di bibirnya. Menusuk dengan kata-kata sangatlah sulit bagi Dhea.


"Dengan begitu, aku mungkin akan lebih bahagia," Rena terus melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Rena, jangan terlalu banyak menuntut padaku. Aku sudah mengembalikan apa yang sempat kuambil. Aku sudah mengusahakan yang terbaik untuk menyelamatkan pernikahan kalian .... "


"Kamu nggak mau cepat pulang? Atau malah sengaja menunggu Mas Panji datang?"


Dhea terdiam. Bukan membenarkan apa yang dikatakan Rena. Ia hanya merasa bahwa Rena sudah keterlaluan. Rena bukan hanya tak mau mengakui kebaikan Dhea. Namun, Rena juga masih saja menyakiti Dhea dengan kata-kata dan perlakuannya. Padahal Dhea sudah mengakhiri kesalahannya bertahun-tahun lalu.


"Kami mau aku ngasih apa lagi? Berkorban bagaimana lagi?" tanya Dhea kesal.


"Udah, nggak usah didengerin kalau nggak ikhlas," sahut Rena yang masih memangku anaknya.


"Cinta bukan kegiatan amal, Ren. Kenapa aku masih aja dituntut buat ngasih ini itu. Berkorban lebih banyak lagi. Dituntut ikhlas lagi." Dhea mengakhiri kalimatnya dengan sesirat senyum kekesalan.


"Apa tadi kamu bilang? Cinta? Jadi kamu masih cinta sama suamiku?" sergah Rena tak terima.


"Nggak. Mencintai dia itu nggak lebih berat dibandingkan hidup dalam kesalahan." Dhea menyesali perbuatannya di masa lalu. Ia benar-benar menyesal. "Cinta itu kesalahan," tutupnya.


"Tapi kita bisa menebus kesalahan dengan perbuatan amal. Jangan lupa itu!"


"Ya terima kasih sudah diingatkan." Dhea sudah tak bertenaga lagi untuk bersilang lidah dengan Rena.


"Perbuatan amal bisa menghapus dosa." Rena masih belum menyerah.


"Aku kira dosaku sudah terhapuskan dengan menerima hukuman, tamparan, jambakan, direndahkan, diremehkan .... "


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS

__ADS_1


__ADS_2