AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Rahasia


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Meski kesulitan, akhirnya kalung itu bisa terlepas juga. Dhea buru-buru memasukan kalung itu ke dalam saku seragam putihnya. Sayangnya, kalung itu terjatuh.


Juna yang mendengar suara gemerincing benda jatuh langsung menoleh. Matanya bereaksi ketika berhasil menemukan apa yang baru saja terjatuh. Kalung itu ....


Dhea buru-buru memungutnya. Ia memasukannya ke dalam saku. Dhea berniat melanjutkan langkahnya. Namun, Juna memanggilnya. "Sus, bisa bicara sebentar?"


"Iya, Dok?" Dhea takut salah dengar. Juna tiba-tiba ingin bicara padanya.


"Ke ruangan saya,"


Dhea hanya menurut dan mengikuti Juna. Ah benar-benar mencekam. Persahabatan hangat di masa lalu entah hilang ke mana.


Begitu sampai di ruangannya, Juna membuka pintu lebar-lebar tanpa menoleh. Membuat jalan dan membiarkan Dhea masuk.


Dhea masuk dan menutup pintu ruang kerja Juna. Ia kemudian duduk terhenyak begitu Juna mempersilakan.


"Ada yang mau saya tanyakan," Juna membuka pembicaraan.


"Iya, Dok," jawab Dhea singkat. Ia tak berani berkata-kata lebih apalagi di luar masalah kerja. Dhea takut tak mendapat respon yang baik dari Juna seperti kemarin.

__ADS_1


Juna sudah seperti orang yang amnesia di hadapan Dhea. Entahlah mengapa. Entah karena mereka sudah lama tak bertemu atau memang masih karena masalah di masa lalu.


Apapun alasannya sebenarnya Dhea juga tak berharap lebih. Dhea hanya ingin menyapa seperti biasa. Membicarakan masalah-masalah ringan tentang pengalaman hidup mereka. Ya obrolan santai seperti sedia kala. Baru kalau ada kesempatan, Dhea ingin mengucapkan maaf dan terima kasih.


Namun, keinginan itu Dhea kubur dalam-dalam mengingat dinginnya sikap Juna. Terlebih, Dhea sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tak akan pernah dekat-dekat lagi dengan suami orang. Ia akan menjaga jarak sejauh mungkin.


Dhea sudah kenyang dianggap sebagai pelakor. Ia lelah dipandang sinis dan penuh tuduhan. Sedikit saja ia dekat dengan lelaki beristri, gosip akan cepat menyebar. Video lama akan diungkit-ungkit lagi. Dhea tak tahan.


"Sus? Sus? .... Suster Dhea?" Juna mencoba mengusik lamunan Dhea. 'Kenapa orang ini?' batin Juna.


"Eh iya, Dok?" Dhea kembali menemukan kesadarannya.


"Kenapa? ngantuk? Capek?" tanya Juna dengan tangan sibuk membolak-balik lembaran rekam medis beberapa pasiennya.


"Bagaimana keadaan Chika tadi?"


"Baik, Dok. Masih perlu pengawasan lebih lanjut."


"Kalau ibu Lastri?"


"Membaik, Dok. Mungkin besok bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa."

__ADS_1


"Ibu Nur?"


"Baik, Dok."


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Ditanya keadaan pasien, jangan cuma dijawab 'baik, Dok' saja."


Dhea diam dan hanya melempar senyum getir. Dhea memang merasa salah, mau bagaimana lagi.


"Luna memintamu untuk menghubunginya. Siap-siap kena marah. Kamu pergi dan ganti nomor tanpa memberi tahunya." Baru kali ini Juna membicarakan masalah pribadi dengan Dhea.


"Iya, Dok," jawab Dhea lagi-lagi singkat.


"Kamu nggak punya kalimat lain, selain iya dan baik, Dok?" tanya Juna sembari merapikan lembar rekam medis yang sebelumnya ia lihat.


Muka datar dan dingin Juna seolah mencair. Panggilan 'suster' atau 'anda', kini berubah menjadi 'kamu'. Dugaan Juna amnesia sudah ditepis Dhea. Juna tidak amnesia. Ia masih ingat semuanya. Jadi orang ini memang sedang bermain-main atau kenapa?


"Saya permisi, Dok. Keadaan Chika harus tetap diawasi terlebih setelah penyuntikan midazolam," ucap Dhea mencoba undur diri.


Dhea lebih baik pergi dibandingkan salah memberi reaksi. Entah mengapa pipinya seolah selalu mendapat tamparan begitu melihat kilau cincin di tangan Juna. Sakit. Dhea selalu teringat pengalaman perihnya di masa lalu. Kesalahan memalukan itu ingin sekali ia hapus dari otaknya.

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2