AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Hutang Budi


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Maaf, Ma. Panji semalem begadang. Baru tidur pagi," sahut Panji dengan tangan yang masih sibuk mengucek matanya.


"Lagian siapa suruh malam Minggu masih kerja. Kerja itu di kantor. Jangan kerjaan kantor di bawa ke rumah!"


"Iya, Ma." Panji mengalah. Desi tidak sepenuhnya salah kalau mengingatkan agar menghindari membawa kerjaan kantor ke rumah.


"Nggak apa-apa, Mah. Sekali-kali aja," sahut Rena yang sudah sibuk dengan suapan nasi goreng di mulutnya. Sementara Panji mengambil pun belum. Diambilkan pun tidak.


"Mama denger dari Rena katanya rumah ini mau kamu jual? Kenapa?" Desi kembali menodongkan pertanyaan pada Panji.


Panji meneguk segelas air putih di hadapannya. "Rumah ini terlalu besar, Ma buat Panji dan Rena. Panji pikir, tinggal di apartemen lebih baik. Rena juga nggak perlu capek .... "

__ADS_1


"Kalau takut Rena capek, kamu bayar asisten rumah tangga dong, Panji. Biar bantu-bantu Rena. Rena masih harus banyak istirahat loh," potong Desi.


"Iya, Ma." Panji malas berdebat. Pekerjaan Panji sebagai jaksa sudah membuatnya banyak menuntut dan berdebat.


Kalau di rumah, di kehidupan pribadi pun harus seperti itu, sepertinya Panji tak sanggup lagi. Ia lebih milih menghindari perdebatan.


"Kalau uang kamu nggak cukup buat bayar ART, biar mama aja yang tanggung."


"Ada, Ma. Panji ada."


Percakapan itu hanya terjadi antara Desi dan Panji. Sementara Rena, ia terlalu sibuk menjejalkan nasi goreng ke mulutnya.


"Panji bayar ART dan tukang kebun kok, Ma tapi mereka datang dua hari sekali atau tiga hari sekali. Tidak setiap hari. Masalah masak, Panji setiap hari makan di luar. Rena juga lebih sering di luar bareng teman-temannya." Panji mulai membela diri. " Yang menolak ART menginap juga Rena sendiri," tukas Panji. Kali ini tangannya baru bisa mengambil nasi goreng ke dalam piringnya.

__ADS_1


"Bener, Ren?" Desi langsung memeriksa kebenarannya ke Rena.


"Ehh .... iya, Ma. Rena nggak terlalu percaya sama orang asing. Takutnya nipu atau nyuri."


"Nggak semuanya kayak gitu. Pokoknya mulai hari ini kalian cari ART. Apalagi kondisi kamu belum benar-benar pulih."


"Rena udah sembuh, Ma," jawab Panji tiba-tiba. Entah mengapa ia seolah tak bisa tinggal diam pada orang yang menganggap Rena masih sakit. Padahal jalan turun tangga saja sudah bisa setengah berlari.


"Kok malah jadi kamu yang jawab," kesal Desi pada Panji. "Intinya, kalau uang yang jadi masalah, biar Mama yang urus," imbuhnya.


"Panji ada, Ma!" tegas Panji. Ia sedikit tersinggung pada mertuanya yang selalu memandang keuangan Panji kurang, padahal cukup. Semua baik-baik saja.


"Oh ya udah." Desi mengakhiri bahasan mengenai uang. Namun, memulai topik baru, "Pokoknya, kamu harus bahagiain Rena ya Panji. Mama nggak mau tahu. Kamu juga harus selalu inget budi keluarga Rena di masa lalu. Kamu harus membayarnya dengan kebahagiaan Rena."

__ADS_1


Panji terdiam. Bahkan sendokan nasi goreng ketiganya terpaksa ia hentikan. Kenapa hutang budi harus dibawa-bawa ke meja makan? Desi benar-benar tidak membiarkan Panji makan dengan tenang.


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2