
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Halo?" Dhea menjawab telepon dengan suaranya yang dingin.
"Nindi, kamu di mana?" tanya seorang wanita dari ujung telepon.
"Nindi? Maaf salah sambung," jawab Dhea dengan suara melunak. Ternyata telepon salah sambung bukan orang iseng atau teror.
"Loh ini bukan nomor Nindi?"
"Bukan, Mba."
"Terus siapa?"
"Ya, bukan Nindi," tegas Dhea.
"Nggak mungkin. Aku udah nunggu kamu satu jam loh ini. Nindi mana? ini bener kok nomernya Nindi." Wanita di ujung telepon terdengar sedikit ngotot.
"Salah sambung, Mba. Ini nomor Dhea bukan Nindi," jawab Dhea tak kalah tegas.
__ADS_1
Telepon langsung terputus. Mungkin malu atau sadar kalau salah sambung.
"Judes banget." Juna melempar senyum ke arah Dhea.
"Salah sambung dan masih aja ngotot bener." Dhea sedikit kesal. "Apa? telfon lagi?" Dhea menunjuk layar teleponnya yang menyala, memunculkan nomor yang sama.
"Biar aku." Juna langsung mengambil telepon Dhea dan menerima panggilan. "Halo? Halo? Maaf anda salah sambung. Tolong jangan hubungi nomor ini lagi. Terima kasih," tutup Juna.
"Sopan banget," puji Dhea.
"Dokter harus sopan," jawab Juna dengan menaikkan satu alisnya.
"Jadi perawatku, aku nggak butuh perawat sopan. Aku nggak nawarin ini ke sembarang orang." Juna lagi-lagi menaikkan satu alisnya. Ia tengah menggoda Dhea.
Hobi Juna memang membuat Dhea kesal. Hiburannya, melihat Dhea kesal dan marah. Ia pasti langsung terbahak begitu melihat wajah kesal Dhea.
Saat apartemen Dhea diselimuti tawa-tawa kecil dan obrolan ringan. Berbeda dengan kamar Rena jauh di sana.
Ia masih terpaku dengan tangan gemetar. Seolah petir baru saja menyambar telinganya. Anehnya, hatinya yang remuk.
__ADS_1
"Dhea? nomor itu milik Dhea?" Rena mendesis sendirian. Tak hentinya ia menggigit kuku telunjuknya. Ia tak tenang. "Dhea perawat itu? Dhea yang pernah ada hubungan dengan Panji di masa lalu?"
Ya, yang menelepon Dhea tadi adalah Rena. Rena berpura-pura mencari Nindi demi bisa mengetahui nama pemilik nomor yang ia dapat dari handphone Panji beberapa malam lalu.
Namun, saat Rena tahu pemilik nomor itu bernama Dhea ia seketika kalut. Lebih kalut, lebih kacau dari yang ia bayangkan.
"Kurang ajar," geram Rena pelan. Giginya gemeretak menahan kemarahan. "Kalau dia bener-bener Dhea yang itu .... " Rena menggenggam erat ujung bantal di pangkuannya dan membuangnya jauh-jauh. "Aku harus gimana? Mas Panji bakal ceraiin aku!"
Rena menangis terhisak. Rasanya tak sanggup membayangkan dirinya yang sudah hancur harus bertambah hancur lagi karena perceraian.
"Nggak. Nggak mungkin Mas Panji selingkuh. Dia orang baik. Tapi Dhea .... " Ucapan Rena ngelantur, mencoba menerka-nerka suaminya.
Rena terlihat berantakan. Bukan cuma penampilannya, bukan hanya rambutnya yang mulai ia acak-acak. Hatinya lebih hancur. Sekarang ia benar-benar tak bisa berpikir jernih.
"Dhea pasti sudah menikah. Aku dengar suara laki-laki mengangkat teleponnya tadi. Suaminya? Iya, pasti suaminya atau pacarnya." Rena berubah dari curiga menjadi meyakinkan diri sendiri. Ia berharap dugaannya sedari tadi itu salah. "Bagaimana kalau itu Mas Panji? Bukan! Itu bukan suara Mas Panji. Nggak mungkin aku nggak bisa ngenalin suara Mas Panji. Aku istrinya. Aku harus memastikan lagi."
Rena kembali beralih ke telepon genggamnya. Bukan lagi Dhea, ia ingin menghubungi Panji. Ya, Rena ingin memastikan keberadaan Panji. Ia juga ingin mendengarkan suara suaminya.
Namun, berulang kali Rena mencoba menelepon Panji, ia tak dapat jawaban. Panji tak mengangkat teleponnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....