AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Haruskah Jujur?


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Rena .... " panggilnya pelan.


"Panji ngantor dulu, Ma." Panji mencium punggung tangan Mamanya lalu berjalan ke luar kamar.


"Istrimu," ucap Mia mencoba mengingatkan sesuatu pada Panji.


Panji berbalik. Ia kembali menghampiri Rena dan mengecup pelan kening istrinya. Sesuatu yang langka dan hampir tak pernah ia lakukan. Tiga tahun menikah, mungkin baru beberapa kali ia lakukan.


Ingin rasanya Rena menghindar, tetapi ia menahan diri. Mama mertuanya sedang mengawasi. Ia tak mau orang lain tahu prahara rumah tangganya. Kalau sampai Mama Panji tahu pasti semuanya akan melebar. Bahkan bisa sampai mengungkit tentang Rena yang tak akan pernah bisa memiliki anak lagi.


"Kenapa, Rena?" Mia mendekati menantunya yang terlihat murung itu.


"Nggak enak badan aja, Ma."


"Sudah ke rumah sakit?"


"Nggak perlu, Ma." Rena mencoba menolak. Percuma, dokter mungkin juga tak akan tahu ia sakit apa. Obat pun paling hanya diberi vitamin.


"Sarapan dulu, yuk."

__ADS_1


"Rena nggak selera makan, Ma. Perut Rena nggak enak."


"Eh sebentar. Jangan-jangan kamu hamil lagi." Mia menduga-duga dengan sumringahnya.


Rena tersentak. Ia bengong seketika. Ia tak tahu harus bereaksi apa. Haruskah senang padahal ia tahu itu tak mungkin lagi? Haruskah sedih dan membuat mertuanya curiga?


"Ah Mama. Rena sama Mas Panji belum mulai lagi," jawab Rena lesu. Panji memang belum menyentuhnya lagi semenjak kecelakaan itu. Mungkin ia sudah tidak membutuhkan Rena untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Sudah ada Dhea.


Ah memikirkan Dhea membuat Rena kembali sakit dan marah. Sayangnya, ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Jangan ditunda-tunda. Tiga tahun menikah belum juga punya anak, mau nunggu apa lagi?"


"Sedikasihnya aja, Ma."


Kalau dengan adanya anak, rumah tangga jadi harmonis lalu kenapa banyak orang cerai padahal punya banyak anak pula? Rena malah takut begitu punya anak, ia tak akan dilirik lagi oleh suami. Badannya berubah, kecantikannya memudar, jangan-jangan Panji malah semakin menjauh.


"Kamu tahu 'kan kalau Panji itu suka banget sama anak-anak?"


Rena tidak tahu. Rena tidak pernah memperhatikan sesuka apa Panji pada anak-anak. Namun, setelah mencoba memutar memorinya mungkin ada benarnya. Panji selalu lebih ramah dan menyenangkan saat bersama anak-anak. Sikap Panji juga lebih hangat saat Rena mengandung.


"Mau konsultasi ke dokter kandungan? Mama temenin."

__ADS_1


šŸšŸšŸšŸšŸ


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


Dhea menghentikan langkahnya. Ia setengah tak percaya. Juna sudah kembali ke Sydney? Kemarin ia bertemu dengan Juna, tetapi Juna tak mengatakan apapun padanya.


"Kenapa?" tanya Luna yang ikut-ikutan menghentikan langkahnya. "Dia nggak ngasih kamu apa-apa? Bener-bener anak itu," kesal Luna.


"Enggak kok, Kak. Dia ngasih sesuatu buat Dhea."


"Apa? Apa? jadi penasaran." Luna mendekatkan tubuhnya ke Dhea.


'Pertolongan dan pesan berharga,' jawab Dhea dalam hati. Sementara ia hanya melempar senyum simpul pada Luna.


"Sudah kuduga. Pasti spesial," tebak Luna bermodalkan senyum manis Dhea. "Jauh-jauh dari Sydney. Bela-belain ambil cuti cuma buat ulang tahun kamu. Nggak mungkin nggak ngasih apa-apa."


Mendengar perkataan itu, hati Dhea bergetar. Ada sentuhan lembut membelai perasaannya. Namun, entah mengapa itu malah membuatnya semakin kacau. Semakin merasa bersalah pada Juna.


"Tapi dia bilang tiba-tiba ada perubahan jadwal dari dokter konsulennya. Makanya harus balik lebih cepet." Luna seperti bicara sendiri karena Dhea tak merespon.


'Pasti karena kecewa sama aku. Bukan karena dokter konsulennya,' sesal Dhea dalam hati.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2