AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Stalker


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Bagus. Aku mau langsung mandi. Kamu tidur aja," ucap Panji malas.


Panji memang seperti itu, dingin. Ia selalu dingin pada Rena. Meskipun sikap dinginnya hari ini lebih dari biasanya.


Hanya dua kali Panji benar-benar hangat dan perhatian pada Rena. Itu terjadi saat Rena sakit dan saat Rena mengandung.


Panji membebaskan tangannya dari rangkulan Rena. Ia berjalan begitu saja, berlalu tanpa menunggu istrinya.


Kenapa masih sama saja? Perasaan Rena mengatakan ada yang tidak beres. Kalau Panji marah karena tas mahal dari Haris, harusnya sekarang ia sudah melunak. Tas itu sudah dikembalikan. Begitu penjelasan Rena tadi. Jadi ada apa?


Rena yang penasaran sekaligus curiga. Saat firasat seorang istri mengatakan ada yang tidak beres, bisa jadi memang seperti itu.


Rena mengikuti suaminya. Ia masuk ke kamar dan mendengar gemericik air dari arah kamar mandi. Panji sedang mandi.

__ADS_1


Tangan Rena merogoh menggerayangi isi tas Panji. Ia mencoba menemukan handphone Panji. Satu-satunya sumber yang bisa memberitahu sesuatu padanya. Mungkin saja!


Buru-buru Rena membuka dan melihat history percakapan dan panggilan telepon Panji. Tidak ada yang aneh dengan pesan-pesan yang Panji terima, maupun yang Panji kirim. Namun, saat Rena beralih ke panggilan telepon Panji, ia menemukan sesuatu yang ganjal.


Sebuah nomor baru, tanpa nama seolah mengusik pikiran Rena. Bukan sesuatu yang aneh memang bila Panji dihubungi oleh nomor baru. Bisa saja masalah pekerjaan.


Panji mendapat telepon dari nomor itu tadi siang. Namun, ada yang lebih mencurigakan bagi Rena. Nomor baru ini Panji telepon sekitar lima belas menit yang lalu. Beberapa menit sebelum Panji sampai di rumah?


Siapa yang Panji telepon semalam ini? Rasanya aneh bila menelepon masalah pekerjaan di jam-jam seperti ini. Ini jam orang sedang terlelap tidur. Jangan-jangan ....


Rena melompat ke tempat tidur seolah bersiap menyambung tidurnya yang sempat terganggu suara mobil Panji. "Mau disiapin makan, Mas?" basa-basi Rena saat melihat batang hidung suaminya keluar dari kamar mandi.


"Nggak usah. Kamu tidur aja," jawab Panji yang masih sibuk mengelapkan handuk di sekitar lehernya.


"Dari mana kok baru pulang?" Rena mencoba mencari tahu langsung pada Panji.

__ADS_1


"Cari angin," jawab Panji setelah sejenak berpikir.


"Sama .... ?" tanya Rena lagi. Panji sejenak terdiam seolah berpikir keras untuk menemukan jawabannya. "Sendiri?" ulang Rena.


"Sama temen."


"Siapa?"


"Kapan-kapan aku kenalin kalau kamu penasaran," tutup Panji datar. Panji tak suka berbohong. Ia hampir tak pernah berbohong. Hidupnya penuh dengan kejujuran.


Malam ini, dibandingkan ia harus berbohong. Panji lebih memilih untuk menjawab pertanyaan Rena dengan kalimat-kalimat yang samar. Ia tak terbuka tapi tak bisa dikatakan kalau itu bohong.


Kalau memang dengan jawaban seperti itu Rena masih penasaran. Bisa saja di masa depan, Panji akan benar-benar mengenalkan Dhea pada Rena dengan sebutan yang berbeda.


Panji akan mempertemukan mereka. Bukan lagi sebagai pasien dan perawat. Bukan juga sebagai teman Panji dan Istri Panji. Namun, sebutan yang lain. Tidak ada yang tahu tentang hari esok.

__ADS_1


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2