
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS
"Suster Dhea," ucap Dokter Rian meminta Dhea menghentikan CPR-nya.
"11, 12, 13, 14." Dhea menarik tangannya. Namun, saat Dokter Rian bersiap dengan kedua alat kejut jantung di tangannya, sebuah suara terdengar.
'Tit tit tit'
Alat mendeteksi detak jantung kembali bersuara. Layarnya memunculkan aktifitas jantung dari pasien. Pasien kembali mendapatkan detak jantungnya. Ia selamat.
Dokter Rian dan Suster Intan menghela napas lega. Sementara Dhea ambruk terduduk di lantai dengan keringat bercucuran.
Memberikan CPR memang sangat menguras tenaga. Terlebih beban mental saat pemikiran bahwa ada nyawa yang sedang mencoba untuk diselamatkan.
"Kerja bagus, kalian," ucap Dokter Rian dengan senyum lega.
Suster Intan kembali memasang alat bantu napas ke hidung dan mulut pasien. Sementara Dhea masih duduk di lantai, menyeka keringatnya.
__ADS_1
"Kerja bagus, Sus." Dokter Rian menepuk pelan pundak Dhea. Dhea hanya mengulas sebuah senyuman.
Setelah keadaan pasien kembali stabil, Dhea keluar. Sambil berjalan ia memijat-mijat pelan kedua tangannya bergantian. Sesekali ia juga memukul-mukul pelan punggungnya, berharap mendapat sensasi pijatan.
Tiba-tiba Dokter Rian kembali muncul di hadapan Dhea.
"Sus, saya sudah pesan makanan ya buat kalian yang jaga malam. Nanti kalau sudah sampai pasti dihubungi front office bawah," ucap Dokter Rian yang langsung kembali berbalik menghilang di ruangannya.
"Terima kasih, Dok." Dhea sedikit meninggikan suaranya. Dokter Rian hanya melambaikan tangan tanda sama-sama.
Dhea terkejut bukan karena kebaikan Dokter Rian. Atau karena Dokter Rian pergi begitu saja. Ia terkejut begitu menyadari ada sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Dhea sontak menoleh ke sisi kirinya.
"Gratis?"
"Mana ada yang gratis di dunia ini," jawabnya.
"Tuhan ngasih kita oksigen gratis," cletuk Dhea kesal saat Juna menarik kembali kopi yang sebelumnya disodorkan untuk Dhea.
__ADS_1
"Aku bukan Tuhan," timpal Juna mengejek. Ia melanjutkan langkahnya mendahului Dhea.
Dhea kesal tapi tak bisa apa-apa. Usia mereka terlalu tua untuk ribut cuma karena masalah kopi. Mungkin sejak awal Juna memang membeli kopi itu untuk dirinya sendiri. Tapi .... Dhea sangat suka kopi hitam .... dingin.
Jarak hampir dua meter. Juna baru sadar Dhea tertinggal di belakangnya. Ia kemudian menoleh untuk memeriksa ekspresi wajah wanita itu. Kesal! Juna sudah menduganya.
Juna tersenyum penuh kemenangan sambil melempar kaleng kopi ke Dhea. "Dokter Rian terlalu tua untukmu. Terlalu baik juga. Jangan .... " Kali ini senyum Juna kembali ke awal, mengejek.
Juna kembali melebarkan senyumnya saat melihat Dhea menangkap kaleng kopi itu dengan tampang bengong. Pasti Dhea sedang sibuk mencerna kalimat Juna. Apa maksudnya?
Tak butuh waktu lama bagi Dhea untuk memahami apa maksud Juna. Ya Dhea tahu kalau yang Juna maksud adalah kisah lamanya, masalah perselingkuhan. Benar, Dokter Rian sudah menikah. Tentu saja, usianya sudah empat puluh tahun lebih.
Dhea langsung mempercepat langkahnya. Dhea mencoba menyusul Juna. Begitu langkah mereka kembali sejajar, Dhea memasukkan kaleng kopi itu ke saku jas putih Juna. Dhea mengembalikannya.
"Maaf, Dok. Saya sudah berhenti menerima sesuatu dari lelaki beristri. Takut dikira pelakor lagi." Dhea langsung pergi meninggalkan Juna dengan kemarahannya.
"Awas kalau kamu terima makanan dari Dokter Rian. Dokter Rian sudah ber .... "
__ADS_1
Dhea menoleh, "aku nggak akan makan," tegasnya sambil menoleh. Dhea lalu membelokkan langkahnya dan menghilang.
SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS