AKU MENGINGINKAN SUAMIMU

AKU MENGINGINKAN SUAMIMU
Aku Mencintainya


__ADS_3

SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


"Sudah kuduga. Obrolanmu akan selalu kembali ke sana." Dhea membuang muka kan kembali melanjutkan jalannya menyusuri trotoar. Ia memutuskan berhenti menanggapi ocehan Panji.


"Jawab pertanyaanku dulu!" Panji berteriak. Panji menerkam kedua pundak Dhea dengan tangannya. Ia putar posisi tubuh Dhea hingga kembali menghadap ke arahnya.


Dhea memalingkan wajahnya. Hidungnya mencium sesuatu yang tak biasa. Sampai-sampai Dhea harus memblokir lubang hidung dengan jari telunjuknya.


'Mabuk?' Dhea mencoba mengamati Panji lebih teliti. Tatapan mata tak biasa dan memerah. Cara berdiri yang tak setegap biasanya. Dan lagi, cara bicara Panji ....


"Aku harus menghubungi seseorang untuk mengantarmu pulang," ucap Dhea setelah yakin bahwa Panji benar-benar sedang mabuk.


"Hidupku hancur setelah kamu pergi begitu saja," ucap Panji dengan suara yang terdengar biasa saja. Tak terlalu mabuk memang.


"Bagus, semua orang menyalahkanku." Dhea bergumam kesal.


"Siapa yang berani menyalahkanmu? Hah? Beri tahu aku?" Kali ini pertanyaan Panji terdengar sedikit ngelantur.


"Kamu, barusan! Ditambah lagi istrimu karena kamu nggak cukup membuatnya bahagia," jawab Dhea penuh penekanan. "Kamu punya istri cantik, anak tampan, pekerjaan mapan. Itu sudah lebih cukup untuk membuatmu bahagia." Dhea mendorong pelan pundak Panji.


"Aku tak mencintainya." Panji tertunduk lesu. 'Maafkan aku, Dhea.' Batin Panji entah mengapa terasa perih.


"Omong kosong!"

__ADS_1


"Aku mencintaimu." Panji mengangkat pandangannya. Alisnya berkerut. Tatapannya tajam dengan lapisan kaca yang mengintip.


"Jangan membuatku berludah di hadapanmu. Kamu bisa menghentikan kata-kata cintamu sekarang." Dhea membebaskan pundaknya dari cengkraman Panji.


"Kamu pikir aku berbohong? Aku tak bisa melupakanmu."


"Kamu mencintainya atau minimal menyayanginya. Aku tahu itu. Nggak perlu merasa bersalah lagi padaku, Panji." Dhea kembali melunakkan suaranya.


'Kamu tahu?' Panji terkejut dalam hati. "Kamu benar-benar nggak tahu apa-apa, Dhea." Panji masih terus berusaha meyakinkan Dhea.


"Justru karena aku sangat tahu kamu. Jujur saja Panji, kamu mencintainya 'kan? Kamu hanya merasa bersalah padaku dan menepis perasaanmu yang sebenarnya. Kamu bukan mencintai aku. Kamu hanya mencintai hubungan kita yang sudah berlangsung lama."


Panji terdiam. Ia sejenak termenung. Namun, Dhea tak terlalu yakin apa keadaannya yang mabuk itu bisa membuat Panji benar-benar memikirkan kata-kata Dhea.


"Aku sedang menata hidupku. Aku ingin memulai kebahagiaanku sendiri. Bukan denganmu. Jadi aku harap kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Dan sudah pasti tanpa merasa bersalah lagi padaku .... "


"Ini bukan hanya untukmu tapi juga untukku. Anggap saja ini permintaan terakhirku. Kumohon." Dhea melanjutkan ucapannya.


Dhea mencoba mengutarakan perasaannya yang sebenarnya. Dhea lelah dengan hidupnya yang selalu seperti ini. Dihantui kesalahannya di masa lalu. Dhea berharap Panji akan mengerti.


"Maksudmu apa?" Kali ini Panji sedikit meninggikan suaranya.


"Lupakan aku! Cintai istrimu dan keluargamu agar Rena berhenti membenciku," ucap Dhea sambil mendorong pelan pundak Panji. "Mulai hidupmu yang lebih baik dan bahagia agar aku tak lagi merasa bersalah. Satu lagi, jangan pernah mabuk seperti ini .... "

__ADS_1


Panji memegang erat tangan Dhea sebelum berhasil mendorong pundaknya lagi. "Apa pedulimu?" Panji menggertakkan giginya.


"Alkohol akan merusak pikiranmu. Membuat hatimu sakit .... "


"Hatiku sudah sakit!" tegas Panji.


"Sakit dalam artian sebenarnya. Hatimu bisa rusak. Livermu akan hancur,"


"Apa pedulimu sekali lagi kutanya?"


"Sama seperti Rena saat meminta rahimku. Aku takut dia juga akan meminta hatiku untuk ditransplantasikan padamu kalau nanti kamu sakit." Dhea mengibaskan tangannya dari genggaman Panji. "Jadi kumohon .... Ayo jalani hidup kita masing-masing yang lebih membahagiakan," lanjut Dhea. 'Maafkan aku, Panji,' sesalnya dalam hati.


"Kalau begitu kamu saja yang bahagia. Aku akan tetap .... "


"Ahh .... Ayahku pasti sangat membenciku dan keluargamu. Karena kalian membuatku bersujud berulang kali." Dhea tiba-tiba siap bersimpuh di hadapan Panji. Ia hampir menjatuhkan lututnya di beton trotoar yang amat keras itu.


"Apa yang kamu lakukan?" Panji sejenak kembali mendapatkan kesadarannya. Kedua tangan Panji sigap menahan Dhea dan membuatnya berdiri lagi. "Jangan lakukan ini," pinta Panji.


"Kumohon, hidupku baru bisa tenang saat keluarga kalian bisa kembali mendapatkan kebahagiaan. Itu juga akan sedikit mengurangi rasa bersalahku," ucap Dhea yang tetap terdengar kuat. Ya meskipun setengah mati ia menahan rasa putus asanya.


"Dhea, kami sudah sejak awal tidak bahagia."


"Bahagiakan keluargamu dengan cinta dan kasih sayang yang kamu punya. Aku tahu kamu memiliki perasaan itu. Jangan sampai rasa bersalahmu padaku .... "

__ADS_1


'Buk'


SEBAGIAN BAB INI TELAH DIHAPUS


__ADS_2